LAN Bangun Ekosistem Terintegrasi untuk Layanan Publik melalui Pendekatan Hexahelix
Sabtu, 06 Desember 2025 - 11:16 WIB
loading...
A
A
A
Dalam menciptakan model ekosistem inovasi pelayanan publik, Taufiq menjelaskan LAN mengadopsi 6 enabler kunci yaitu sumber daya manusia, regulasi, modal inovasi, budaya inovasi, kepemimpinan dan infrastruktur atau manajemen pengetahuan yang tersusun dalam bentuk hexagon yang saling mendukung antar pilar tersebut.
Direktur Advokasi dan Pengembangan Kinerja Kebijakan Seno Hartono menuturkan terkait enabler ekosistem inovasi pelayanan publik. Pertama, SDM, mengubah paradigma ASN dari operator administratif menjadi Agile Problem Solver yang berfokus pada kompetensi teknis dan mentalitas.
Kedua, kepemimpinan yaitu pilar yang memastikan inovasi mendapatkan support strategis dan perlindungan budaya. Seluruh pimpinan harus bertindak sebagai Role Model, Mentor, dan Coach yang adaptif dan transformasional untuk menciptakan ruang aman yang memungkinkan SDM berani bereksperimen dan berinovasi.
Pilar ketiga adalah regulasi yang mengatur tata kelola inovasi mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Regulasi dipandang sebagai kejelasan prosedur, menghindari tumpang tindih kebijakan, serta sebagai fasilitator dan pelindung bagi inovator untuk eksperimen inovasi. Pilar keempat, budaya inovasi dengan menjadikan inovasi sebagai kebiasaan dan gaya hidup pegawai.
Pilar ini secara fundamental berfungsi untuk mengatasi kendala dukungan budaya yakni minimnya apresiasi dan keberanian mengambil risiko. Budaya yang kuat memastikan agen perubahan (SDM) tidak bekerja dalam isolasi dan merasa aman untuk mencoba ide baru.
“Pilar kelima adalah modal inovasi dan infrastruktur merupakan aspek material yang dibutuhkan untuk mentransformasi ide inovatif (dari SDM) menjadi realitas layanan publik dengan didukung regulasi dan budaya. Pilar terakhir yaitu infrastruktur organisasi dan manajemen pengetahuan yang didukung dengan platform digital (INOLAND) dan ruang fisik (Lab Inovasi) untuk kolaborasi,” ujarnya.
Direktur Advokasi dan Pengembangan Kinerja Kebijakan Seno Hartono menuturkan terkait enabler ekosistem inovasi pelayanan publik. Pertama, SDM, mengubah paradigma ASN dari operator administratif menjadi Agile Problem Solver yang berfokus pada kompetensi teknis dan mentalitas.
Kedua, kepemimpinan yaitu pilar yang memastikan inovasi mendapatkan support strategis dan perlindungan budaya. Seluruh pimpinan harus bertindak sebagai Role Model, Mentor, dan Coach yang adaptif dan transformasional untuk menciptakan ruang aman yang memungkinkan SDM berani bereksperimen dan berinovasi.
Pilar ketiga adalah regulasi yang mengatur tata kelola inovasi mulai dari perencanaan sampai evaluasi. Regulasi dipandang sebagai kejelasan prosedur, menghindari tumpang tindih kebijakan, serta sebagai fasilitator dan pelindung bagi inovator untuk eksperimen inovasi. Pilar keempat, budaya inovasi dengan menjadikan inovasi sebagai kebiasaan dan gaya hidup pegawai.
Pilar ini secara fundamental berfungsi untuk mengatasi kendala dukungan budaya yakni minimnya apresiasi dan keberanian mengambil risiko. Budaya yang kuat memastikan agen perubahan (SDM) tidak bekerja dalam isolasi dan merasa aman untuk mencoba ide baru.
“Pilar kelima adalah modal inovasi dan infrastruktur merupakan aspek material yang dibutuhkan untuk mentransformasi ide inovatif (dari SDM) menjadi realitas layanan publik dengan didukung regulasi dan budaya. Pilar terakhir yaitu infrastruktur organisasi dan manajemen pengetahuan yang didukung dengan platform digital (INOLAND) dan ruang fisik (Lab Inovasi) untuk kolaborasi,” ujarnya.
Lihat Juga :