Anggota DPR Apresiasi Hasil Uji Laboratorium Produk Tembakau BRIN
Sabtu, 29 November 2025 - 09:20 WIB
loading...
A
A
A
Hadirnya penelitian semacam ini di Indonesia menjadi angin segar dalam memperkaya perspektif bagi perumus aturan. “Penelitian seperti ini harus ditempatkan dalam konteks yang proporsional sebagai bagian dari evidence base untuk kebijakan publik, bukan sebagai justifikasi untuk melonggarkan pengawasan,” katanya.
Sesuai WHO, pengujian yang difokuskan pada sembilan senyawa toksikan utama sebagaimana ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni formaldehida, asetaldehida, akrolein, karbon monoksida, 1,3-butadiena. Selain itu, benzena, benzoapyrene, serta dua nitrosamin spesifik tembakau (NNN dan NNK) telah dilakukan berdasarkan metodologi yang sesuai.
Sebagai inovasi dari produk tembakau, riset ini telah melalui pengujian di laboratorium independen dan terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) serta diakui International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC). Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi langkah awal yang nantinya dapat berperan dalam penyusunan kebijakan sehingga regulasi yang dirumuskan akan berbasis data.
Adanya riset ini juga menjadi pelengkap dari berbagai pengujian di luar negeri yang telah ada, sebab bahan baku, komposisi dan proses dari produk yang beredar dapat berbeda sesuai negara masing-masing. “Sebelum melarang-larang, ini kan kami ingin membuat database seperti apa kondisinya di lapangan," ujarnya.
"Kan kita banyak katanya-katanya dari luar negeri. Nah, kami memotret Jabodetabek ini mudah-mudahan mewakili Indonesia karena kota-kota besar juga mirip," kata peneliti BRIN Bambang Prasetya dalam konferensi pers, beberapa waktu lalu.
Sesuai WHO, pengujian yang difokuskan pada sembilan senyawa toksikan utama sebagaimana ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni formaldehida, asetaldehida, akrolein, karbon monoksida, 1,3-butadiena. Selain itu, benzena, benzoapyrene, serta dua nitrosamin spesifik tembakau (NNN dan NNK) telah dilakukan berdasarkan metodologi yang sesuai.
Sebagai inovasi dari produk tembakau, riset ini telah melalui pengujian di laboratorium independen dan terakreditasi Komite Akreditasi Nasional (KAN) serta diakui International Laboratory Accreditation Cooperation (ILAC). Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi langkah awal yang nantinya dapat berperan dalam penyusunan kebijakan sehingga regulasi yang dirumuskan akan berbasis data.
Adanya riset ini juga menjadi pelengkap dari berbagai pengujian di luar negeri yang telah ada, sebab bahan baku, komposisi dan proses dari produk yang beredar dapat berbeda sesuai negara masing-masing. “Sebelum melarang-larang, ini kan kami ingin membuat database seperti apa kondisinya di lapangan," ujarnya.
"Kan kita banyak katanya-katanya dari luar negeri. Nah, kami memotret Jabodetabek ini mudah-mudahan mewakili Indonesia karena kota-kota besar juga mirip," kata peneliti BRIN Bambang Prasetya dalam konferensi pers, beberapa waktu lalu.
(jon)
Lihat Juga :