Aksi Koboi LB Moerdani Selundupkan Ratusan Senjata untuk Bantu Afghanistan Lawan Uni Soviet
Selasa, 25 November 2025 - 07:52 WIB
loading...
Mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani pernah melakukan aksi nekat menyelundupkan ratusan ke Afganistan pada 1980-an. Foto/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani pernah melakukan aksi nekat menyelundupkan ratusan ke Afganistan pada 1980-an. Tindakan tersebut diambil Benny Moerdani demi membantu para pejuang mujahidin yang tengah bertempur melawan Uni Soviet kini bernama Rusia.
Tidak cuma senjata, Benny Moerdani juga menyelundupkan peralatan militer. Sejumlah senjata dan peralatan itu antara lain adalah senapan AK-47, senjata antitank, dan juga senapan SKS buat Israel.
Dikutip dari buku berjudul “Belajar Uji Ngali dari Benny Moerdani” pengiriman senjata ke Afghanistan tersebut merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang kala itu dipimpin Presiden Soeharto. Keputusan untuk mengirimkan senjata ke Afganistan merupakan respons terhadap imbauan Amerika Serikat yang meminta negara-negara di Asia membantu pejuang Mujahidin.
Baca juga: Kisah Benny Moerdani Jalin Hubungan Terlarang dengan Israel demi Lindungi Nyawa Soeharto
Saat itu, Soeharto memerintahkan Panglima ABRI Jenderal TNI Benny Moerdani untuk mengirim bantuan kepada Mujahidin. Bentuk dan caranya diserahkan sepenuhnya kepada Benny. Langkah pengiriman senjata tentu sangat berisiko. Hanya orang-orang yang punya keberanian khusus yang mau dan mampu melakukannya.
Padahal kebijakan politik Indonesia saat itu tidak memihak kepada negara mana pun alias bebas-aktif dan non-blok. Walaupun secara psikologis, Indonesia mendukung perjuangan rakyat Afghanistan.
Awalnya setiap bantuan yang dikirim untuk Mujahidin, harus melalui Amerika Serikat. Nanti pemerintah Amerika-lah yang akan mengirim langsung bantuan tersebut kepada Mujahidin. "Kalau kita bisa lakukan sendiri, kenapa harus lewat Amerika?" Itulah cara berpikir Benny, Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Takut Mati, Jenderal Kopassus Ini Tinggalkan Satu Peti Uang Rampasan di Daerah Operasi
Dengan cara berpikir demikian, maka Indonesia berbeda dengan negara-negara Asia lainnya. Mereka membantu lewat Amerika, sedangkan Indonesia dengan cara-cara Benny. Dengan cermat dan hati-hati, Jenderal Kopassus tersebut melakukan pengiriman bantuan ke Afghanistan sendiri. Operasi ini termasuk bersifat sangat rahasia, dengan nama sandi flying carpets atau permadani terbang.
Berkat kepiawaian Benny dan anak buahnya dalam operasi intelijen, pengiriman bantuan itu berjalan dengan lancar dan sukses. Seluruh persenjataan dan peralatan militer sampai ke tangan para pejuang Mujahidin tanpa diketahui oleh Uni Soviet. Paket bantuan yang berisi beragam peralatan tempur dan senjata itu dikirim menggunakan peti berlogo palang merah internasional, melalui jalur Pakistan.
Di setiap peti, senjata dan peralatan militer disimpan di bagian bawah, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari beragam jenis obat-obatan dan selimut. Tidak banyak orang yang mengetahui operasi tersebut.
Tidak cuma senjata, Benny Moerdani juga menyelundupkan peralatan militer. Sejumlah senjata dan peralatan itu antara lain adalah senapan AK-47, senjata antitank, dan juga senapan SKS buat Israel.
Dikutip dari buku berjudul “Belajar Uji Ngali dari Benny Moerdani” pengiriman senjata ke Afghanistan tersebut merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang kala itu dipimpin Presiden Soeharto. Keputusan untuk mengirimkan senjata ke Afganistan merupakan respons terhadap imbauan Amerika Serikat yang meminta negara-negara di Asia membantu pejuang Mujahidin.
Baca juga: Kisah Benny Moerdani Jalin Hubungan Terlarang dengan Israel demi Lindungi Nyawa Soeharto
Saat itu, Soeharto memerintahkan Panglima ABRI Jenderal TNI Benny Moerdani untuk mengirim bantuan kepada Mujahidin. Bentuk dan caranya diserahkan sepenuhnya kepada Benny. Langkah pengiriman senjata tentu sangat berisiko. Hanya orang-orang yang punya keberanian khusus yang mau dan mampu melakukannya.
Padahal kebijakan politik Indonesia saat itu tidak memihak kepada negara mana pun alias bebas-aktif dan non-blok. Walaupun secara psikologis, Indonesia mendukung perjuangan rakyat Afghanistan.
Awalnya setiap bantuan yang dikirim untuk Mujahidin, harus melalui Amerika Serikat. Nanti pemerintah Amerika-lah yang akan mengirim langsung bantuan tersebut kepada Mujahidin. "Kalau kita bisa lakukan sendiri, kenapa harus lewat Amerika?" Itulah cara berpikir Benny, Selasa (25/11/2025).
Baca juga: Takut Mati, Jenderal Kopassus Ini Tinggalkan Satu Peti Uang Rampasan di Daerah Operasi
Dengan cara berpikir demikian, maka Indonesia berbeda dengan negara-negara Asia lainnya. Mereka membantu lewat Amerika, sedangkan Indonesia dengan cara-cara Benny. Dengan cermat dan hati-hati, Jenderal Kopassus tersebut melakukan pengiriman bantuan ke Afghanistan sendiri. Operasi ini termasuk bersifat sangat rahasia, dengan nama sandi flying carpets atau permadani terbang.
Berkat kepiawaian Benny dan anak buahnya dalam operasi intelijen, pengiriman bantuan itu berjalan dengan lancar dan sukses. Seluruh persenjataan dan peralatan militer sampai ke tangan para pejuang Mujahidin tanpa diketahui oleh Uni Soviet. Paket bantuan yang berisi beragam peralatan tempur dan senjata itu dikirim menggunakan peti berlogo palang merah internasional, melalui jalur Pakistan.
Di setiap peti, senjata dan peralatan militer disimpan di bagian bawah, sedangkan pada bagian atasnya terdiri dari beragam jenis obat-obatan dan selimut. Tidak banyak orang yang mengetahui operasi tersebut.
(cip)
Lihat Juga :