Idrus Marham: NU Milik Rakyat, Bukan Milik Satu Kelompok Kecil
Senin, 24 November 2025 - 22:27 WIB
loading...
A
A
A
"Sekali lagi, sejak berdiri hingga hari ini, kepentingan NU hanya berpijak pada dua fondasi utama: umat dan bangsa. Di luar itu, semuanya hanyalah 'percikan' yang tidak boleh menggeser orientasi perjuangan NU," ungkapnya.
Sebab, lanjut dia, begitu kepentingan lain masuk dan menguasai ruang gerak organisasi, maka yang terancam bukan hanya muruah jam’iyyah, tetapi juga kepercayaan umat yang selama ini menempatkan NU sebagai rumah besar. "Menyedihkan jika NU digeser oleh kadernya sendiri, dijadikan hanya sekadar ruang berlindung dan perebutan pengaruh. Khittah NU bukan di situ!" tegasnya.
Dia berpendapat, NU harus kembali pada khittahnya : menjaga tradisi, meneguhkan akhlak dan menjadi penuntun moral bagi kehidupan keumatan dan kebangsaan. Dikatakannya, jika fondasi itu retak oleh kepentingan pribadi atau kelompok, maka kita sedang menyalahi amanah para muassis yang membangun organisasi ini dengan ketulusan dan keikhlasan.
Berpijak pada alur pikiran tersebut, maka Idrus menyarankan agar persoalan internal PBNU diselesaikan secara kekeluargaan dan bilamana perlu dengan dialog para kiai sepuh dan tokoh moral agar muncul solusi yang adil dan berkelanjutan. Menurut Idrus, krisis PBNU saat ini menjadi momen penting bagi NU untuk introspeksi dan memperkuat jati dirinya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berdiri di atas nilai moral, bukan sebagai ajang politik elite.
Ia menegaskan bahwa konflik internal harus segera dikelola agar tidak merusak kepercayaan warga NU dan publik pada institusi PBNU. “Tidak cukup hanya klarifikasi internal, tetapi perlu ada langkah nyata menuju rekonsiliasi dan transparansi agar NU tetap berfungsi sebagai rumah besar umat, bukan panggung manuver kekuasaan,” pungkasnya.
Sebab, lanjut dia, begitu kepentingan lain masuk dan menguasai ruang gerak organisasi, maka yang terancam bukan hanya muruah jam’iyyah, tetapi juga kepercayaan umat yang selama ini menempatkan NU sebagai rumah besar. "Menyedihkan jika NU digeser oleh kadernya sendiri, dijadikan hanya sekadar ruang berlindung dan perebutan pengaruh. Khittah NU bukan di situ!" tegasnya.
Dia berpendapat, NU harus kembali pada khittahnya : menjaga tradisi, meneguhkan akhlak dan menjadi penuntun moral bagi kehidupan keumatan dan kebangsaan. Dikatakannya, jika fondasi itu retak oleh kepentingan pribadi atau kelompok, maka kita sedang menyalahi amanah para muassis yang membangun organisasi ini dengan ketulusan dan keikhlasan.
Berpijak pada alur pikiran tersebut, maka Idrus menyarankan agar persoalan internal PBNU diselesaikan secara kekeluargaan dan bilamana perlu dengan dialog para kiai sepuh dan tokoh moral agar muncul solusi yang adil dan berkelanjutan. Menurut Idrus, krisis PBNU saat ini menjadi momen penting bagi NU untuk introspeksi dan memperkuat jati dirinya sebagai organisasi sosial-keagamaan yang berdiri di atas nilai moral, bukan sebagai ajang politik elite.
Ia menegaskan bahwa konflik internal harus segera dikelola agar tidak merusak kepercayaan warga NU dan publik pada institusi PBNU. “Tidak cukup hanya klarifikasi internal, tetapi perlu ada langkah nyata menuju rekonsiliasi dan transparansi agar NU tetap berfungsi sebagai rumah besar umat, bukan panggung manuver kekuasaan,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :