Idrus Marham: NU Milik Rakyat, Bukan Milik Satu Kelompok Kecil
Senin, 24 November 2025 - 22:27 WIB
loading...
A
A
A
Di antara nama-nama harum itu ada K.H. Hasyim Asyari Tebuireng, K.H. Bisri Denanyar Jombang, K.H. Ridwan Semarang, K.H. Nawawi Pasuruan, K.H.R. Asnawi Kudus, K.H.R. Hambali Kudus, K.H. Nachrawi Malang, K.H. Doro Muntaha. "Pun jika kita menengok struktur dan susunan kepengurusan PBNU generasi pertama (1926), tampak jelas nama-nama besar bangsa duduk di sana membangun spirit keumatan dan kebangsaan," ujarnya.
Dia mengatakan, pada masa kepengurusan pertama, Rais Akbar dijabat oleh K.H. M. Hasyim Asy’ari (Jombang), sedangkan Wakil Rais Akbar diamanahkan kepada K.H.Dahlan Ahyad dari Kebondalem, Surabaya. Posisi Katib Awal dipegang oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang) dan Katib Tsani oleh K.H. Abdul Chalim (Cirebon). “Semua ini diceritakan sekadar untuk mengentalkan ingatan historis kita bersama,” kata Idrus.
Menurut dia, nama-nama besar yang menjadi pendiri dan duduk dalam kepengurusan PBNU generasi pertama itu sangat berjasa sebagai arsitek organisasi yang meletakkan NU menjadi rumah besar bagi kesejukan umat dan bangsa. Dia menambahkan, dari tangan merekalah NU diwariskan sebagai jam’iyyah yang teduh, teratur, kaya dengan keluasan pandangan dan berorientasi hanya pada satu hal: kemaslahatan umat dan bangsa.
Menurutnya, warisan tersebut bukan sekadar catatan sejarah, tetapi standar etis yang seharusnya menjadi cermin bagi setiap dinamika yang muncul hari ini. "Dan mendegradasi nilai-nilai keumatan dan kebangsaan yang menjadi ruh perjuangan as-sābiqūnal awwalūn dapat dikategorikan sebagai “dosa besar,” imbuhnya.
Dia mengakui perbedaan pandangan dan pemikiran tentu dipahami sebagai sebuah dinamika. Dan itu menurutnya biasa saja. Namun, lanjut dia, andaikata yang terjadi adalah perbedaan kepentingan, maka ini lain lagi ceritanya. Dia menegaskan, NU bukanlah tempat yang boleh dikelola demi tarik-menarik kepentingan.
Dia mengatakan, pada masa kepengurusan pertama, Rais Akbar dijabat oleh K.H. M. Hasyim Asy’ari (Jombang), sedangkan Wakil Rais Akbar diamanahkan kepada K.H.Dahlan Ahyad dari Kebondalem, Surabaya. Posisi Katib Awal dipegang oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang) dan Katib Tsani oleh K.H. Abdul Chalim (Cirebon). “Semua ini diceritakan sekadar untuk mengentalkan ingatan historis kita bersama,” kata Idrus.
Menurut dia, nama-nama besar yang menjadi pendiri dan duduk dalam kepengurusan PBNU generasi pertama itu sangat berjasa sebagai arsitek organisasi yang meletakkan NU menjadi rumah besar bagi kesejukan umat dan bangsa. Dia menambahkan, dari tangan merekalah NU diwariskan sebagai jam’iyyah yang teduh, teratur, kaya dengan keluasan pandangan dan berorientasi hanya pada satu hal: kemaslahatan umat dan bangsa.
Menurutnya, warisan tersebut bukan sekadar catatan sejarah, tetapi standar etis yang seharusnya menjadi cermin bagi setiap dinamika yang muncul hari ini. "Dan mendegradasi nilai-nilai keumatan dan kebangsaan yang menjadi ruh perjuangan as-sābiqūnal awwalūn dapat dikategorikan sebagai “dosa besar,” imbuhnya.
Dia mengakui perbedaan pandangan dan pemikiran tentu dipahami sebagai sebuah dinamika. Dan itu menurutnya biasa saja. Namun, lanjut dia, andaikata yang terjadi adalah perbedaan kepentingan, maka ini lain lagi ceritanya. Dia menegaskan, NU bukanlah tempat yang boleh dikelola demi tarik-menarik kepentingan.
Lihat Juga :