IMIP Menjaga Biodiversitas, Kuatkan Konektivitas Ekosistem Industri Hijau

Minggu, 23 November 2025 - 17:11 WIB
loading...
IMIP Menjaga Biodiversitas,...
PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), diwakili Director of CSR and Environmental Dermawati S, memaparkan Biodiversity Action Plan di Paviliun Indonesia di COP 30, Belem, Brasil, Jumat 21 Nov 2025.
A A A
MOROWALI - PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) turut andil dalam helatan Conference of the Parties (COP 30) Perubahan Iklim (UNFCCC) yang berlangsung sejak 10 hingga 21 November 2025 lalu di Brazil. Sebagai pengelola kawasan industri berbasis mineral dengan investasi besar, IMIP menyadari jika aktivitas yang dilakukan dapat menyebabkan fragmentasi ekologi. Sehingga menjaga keseimbangan keanekaragaman hayati dan adaptasi iklim, sangat penting. Bagi IMIP, melestarikan dan meningkatkan konektivitas
ekosistem bukan hanya sebuah tanggung jawab lingkungan, tetapi sebagai fondasi strategis keberlanjutan investasi jangka panjang.

“IMIP telah memulai Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Action Plans). Arahnya fokus pada perlindungan habitat kritis, pemulihan area yang terdegradasi, serta penciptaan keterkaitan ekologis antara zona alami dan industri. Melalui upaya kolaboratif dengan komunitas lokal, akademisi dan pemerintah, IMIP terus mengembangkan koridor keanekaragaman hayati yang memungkinkan migrasi spesies, mendukung pengembangan ekosistem dan memerkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak iklim,” papar Director CSR & Environmental PT IMIP, Dermawati S., saat sesi talkshow di Paviliun Indonesia, COP 30 UNFCCC Belem, Brazil pada 20 November 2025.

Dijelaskan, konservasi biodiversitas diintegrasikan dalam desain operasional IMIP melalui pemetaan habitat dan studi dasar ekologis untuk mengidentifikasi area sensitif, baik di dalam maupun luar kawasan industri. Langkah tersebut menjadi bentuk kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan nasional, sesuai standar good international industry practice (GIIP) yang relevan, serta panduan Implementasi Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial 2015 dari International Finance Corporation (IFC).

“Kami sudah merealisasikan program reboisasi dan rehabilitasi mangrove untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem penyerapan karbon. Inisiatif konservasi dilakukan berbasis kemasyarakatan, sekaligus memastikan mata pencaharian warga lokal terus terjaga melalui pengelolaan sumber daya berkelanjutan. Langkah kecil ini dapat memberikan dampak besar seperti yang dilakukan PT IMIP di Desa Fatufia,” ujarnya.

IMIP Menjaga Biodiversitas, Kuatkan Konektivitas Ekosistem Industri Hijau


Sejak 2018 hingga 2025 ini, IMIP terus bergerak dan telah menanam 70.188 bibit mangrove pada sejumlah desa sekitar kawasan. Jika diakumulasi, luasan areanya mencapai 5,62 hektare dan potensi penyerapan karbon diproyeksi menghasilkan 8.828,65 tonnes of carbon dioxide equivalent (tCO2e). Di wilayah Palu, Sulawesi Tengah, IMIP telah melakukan penanaman hingga 10.000 mangrove dengan potensi penyerapan karbon 2.104 tCO₂e. Sementara dalam keikutsertaan pada program nasional di Brebes, Jawa Tengah, IMIP menanam 30.000 bibit dan potensi penyerapan karbonnya hingga 10.550,55 tCO₂e. Hal ini adalah bagian dari target penanaman mangrove d sampai dengan tahun 2026 sebanyak 150.000 bibit mangrove.

Dermawati menegaskan, pihaknya terus melakukan pemantauan dan menerapkan manajemen adaptif dalam menyesuaikan respons terhadap perubahan ekologi. Ini bukanlah kendala dalam pertumbuhan industri, tetapi mendorong inovasi, ketahanan dan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan. “Dengan menyusun Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati dalam strategi bisnis, PT IMIP menunjukkan bahwa industri yang berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan dapat berjalan seiring,” katanya.

Selain meningkatkan konektivitas ekosistem, IMIP juga konsisten memerkuat kolaborasi dengan komunitas lokal melalui pemberdayaan program konservasi inklusif dan inisiatif. Dalam upaya mitigasi dampak terestrial, dilakukan penghijauan awal menuju rehabilitasi komprehensif dengan membangun IMIP EduPark seluas 23 hektare sebagai pusat terpadu konservasi, pendidikan, penelitian, dan habitat satwa liar endemik Sulawesi.

“Kami berkomitmen melakukan konservasi keanekaragaman hayati khususnya menjaga spesies endemik Sulawesi dengan mengalokasikan kawasan sebagai habitat alami mereka. PT IMIP bersama Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan komunitas lingkungan lokal juga berhasil memindahkan 20 Macaca Ochreata (monyet digo) ke habitat baru di Taman Wisata Alam Tokobae pada April 2024 lalu. Untuk pemulihan area pesisir dilakukan penanaman mangrove dan transplantasi terumbu karang di Desa Mbokita, Pulau Sombori, sebagai bentuk dukungan terhadap aksi iklim,” sambung Dermawati.

Dalam semangat kuat penerapan transisi energi dan pengurangan emisi karbon, secara bertahap IMIP telah menggunakan alat berat bertenaga listrik, seperti 130 unit truk pengangkut dan 105 wheel loader oleh sejumlah tenant. Kawasan industri IMIP bersama PT Huayue Nickel Cobalt juga mengembangkan pembangkit listrik dengan memanfaatkan kembali energi termal dari uap bertekanan tinggi di pabrik asam sulfat terpadu dalam memenuhi kebutuhan operasional secara mandiri.

Dengan PT Dexin Steel Indonesia, dioperasikan pembangkit listrik memanfaatkan gas buangan proses produksi. Sebagai bukti konkret kolaborasi antara teknologi dan keberlanjutan lingkungan, IMIP bekerja sama dengan PT Tsingshan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kanal Fatufia pada area seluas 4.386 m², memanfaatkan 2.190 panel surya dengan total kapasitas energi sebesar 1,27 megawatt-peak (MWp) dan keluaran empat fase sebesar 300 kilowatt. Listrik yang dihasilkan akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi hijau gedung perkantoran dan pabrik.

“Sebagai kawasan industri yang dirancang mendukung kebijakan hilirisasi nasional, kami selalu memerhatikan tanggung jawab terhadap lingkungan. IMIP berinovasi mengurangi emisi, mendorong penggunaan energi terbarukan, meningkatkan pengelolaan limbah, hingga melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung ketahanan komunitas,” katanya.

Diakui, sejumlah program yang digagas masih terus berjalan sesuai tahapan dan belum selesai. Namun bersama mitra dan pemangku kepentingan, IMIP menjamin akan mengembangkan industri secara bertanggung jawab untuk membawa nilai positif bagi masyarakat dan lingkungan.

“COP 30 ini menjadi momentum untuk memperkuat aksi nyata dalam mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim. Kita dapat merancang masa depan yang lebih baik lagi menuju langkah berkelanjutan. Ini bukan hanya sebagai bentuk kepatuhan perusahaan, tetapi menjaga semangat demi konektivitas ekosistem untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan perkembangan kehidupan di bumi,” tandas Dermawati.

Diketahui, event COP 30 membahas sejumlah agenda penting. Mulai dari implementasi perjanjian Paris dalam langkah konkret pengurangan emisi serta pencapaian target iklim secara terukur, pelestarian hutan tropis dan keanekaragaman hayati, hingga diplomasi iklim inklusif yang akan diintegrasikan dalam forum global untuk sinergi kebijakan internasional. Termasuk poin strategis transisi energi bersih, pengelolaan sumber daya alam, transformasi sistem pangan, ketahanan kota, pembangunan sosial, serta pembiayaan dan teknologi hijau. Juga mendorong partisipasi masyarakat adat, kesetaraan gender serta peran komunitas akar rumput dalam kebijakan iklim, melalui keadilan yang inklusi.
(unt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketika Bumi Berhenti...
Ketika Bumi Berhenti Bersabar
Presiden Prabowo Resmikan...
Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Perakitan Mobil Listrik di Magelang
Rakornas KKMD, Kemenhut...
Rakornas KKMD, Kemenhut Perkuat Kelembagaan Daerah untuk Rehabilitasi Mangrove
Perkuat Integrasi Data...
Perkuat Integrasi Data Mangrove, Kemenhut Luncurkan Platform MANDARA
BMKG: Perubahan Iklim...
BMKG: Perubahan Iklim Picu Meningkatnya Bencana, Termasuk Banjir Sumatera
Hadapi Perubahan Iklim,...
Hadapi Perubahan Iklim, Menhut Apresiasi Komitmen Gubernur Dalam Menjaga Hutan
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Piala Dunia 2026 dan...
Piala Dunia 2026 dan Bayang-bayang Jet Pribadi Infantino
Pakar ITB Soroti Tantangan...
Pakar ITB Soroti Tantangan Sistem Kelistrikan dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Rekomendasi
Ruben Onsu Desak KPAI...
Ruben Onsu Desak KPAI Prioritaskan Dugaan Eksploitasi Anak, Bukan Isu Nafkah
Semarak HUT ke-58, BPJS...
Semarak HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Berita Terkini
Kepercayaan Publik terhadap...
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
Silaturahmi di Lampung,...
Silaturahmi di Lampung, Jokowi: Aku Masih Seperti yang Dulu
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
KPK Berharap Tindakan...
KPK Berharap Tindakan Medis terhadap Gus Yaqut Segera Dilakukan
Ujian Tahun Pertama...
Ujian Tahun Pertama Kepengurusan AMKI, Mencari Bentuk di Tengah Industri Media
Sidang Perdana Praperadilan...
Sidang Perdana Praperadilan Roy Suryo Digelar Besok Pagi di PN Jaksel
Infografis
Senjata Makan Tuan,...
Senjata Makan Tuan, Tarif Trump Ancam Industri Senjata AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved