Membangun Tata Kelola Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Manusia di Era AI Generatif

Minggu, 16 November 2025 - 17:26 WIB
loading...
Membangun Tata Kelola...
Anis Suhartini, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Foto/Dok.Pribadi
A A A
Anis Suhartini
Mahasiswa Magister Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

LANSKAP teknologi kontemporer ditandai oleh pertumbuhan eksponensial dalam inovasi, khususnya dalam domain kecerdasan buatan. Kemunculan sistem AI generatif seperti ChatGPT, DALL-E, Midjourney, dan model bahasa besar lainnya telah mentransformasi secara fundamental hubungan antara manusia dan teknologi.

Sistem-sistem ini memiliki kemampuan yang dulunya dianggap sebagai domain eksklusif manusia, termasuk ekspresi kreatif, penalaran kompleks, dan komunikasi yang canggih. Namun, revolusi teknologi ini secara bersamaan menciptakan tantangan hukum dan etika yang mendalam yang tidak dapat ditangani secara memadai oleh kerangka regulasi tradisional.

Tahun 2024 menandai momen penting dalam tata kelola teknologi dengan adopsi formal Artificial Intelligence Act Uni Eropa, yang merepresentasikan kerangka regulasi komprehensif pertama di dunia yang secara khusus dirancang untuk sistem AI.

Legislasi bersejarah ini menetapkan kategorisasi berbasis risiko, melarang aplikasi AI tertentu yang dianggap membahayakan secara tidak dapat diterima, dan memberlakukan persyaratan ketat pada sistem AI berisiko tinggi.

Bersamaan dengan itu, yurisdiksi di seluruh dunia bergulat dengan tantangan yang muncul seperti proliferasi deepfake, bias algoritma dalam pengambilan keputusan otomatis, pelanggaran hak cipta melalui konten yang dihasilkan AI, dan erosi kepercayaan digital.

Kecepatan kemajuan teknologi telah menciptakan apa yang disebut para sarjana hukum sebagai "pacing problem" (masalah kecepatan), dimana kecepatan inovasi secara konsisten melampaui kapasitas sistem hukum untuk mengembangkan respons regulasi yang tepat.

Ketidaksesuaian temporal ini menghasilkan kekosongan regulasi yang dapat dieksploitasi untuk tujuan berbahaya sambil secara bersamaan menciptakan ketidakpastian yang dapat menghambat inovasi bermanfaat. Tantangan ini semakin diperumit oleh sifat global teknologi digital, yang beroperasi melintasi batas yurisdiksi dan menantang konsep tradisional kedaulatan teritorial.

Kerangka hukum saat ini menghadapi tiga tantangan yang saling terkait dalam mengatur AI generatif dan teknologi yang muncul.

Pertama, pendekatan regulasi ex-post tradisional terbukti tidak memadai ketika diterapkan pada teknologi yang berkembang pesat yang dapat menghasilkan dampak di seluruh masyarakat sebelum regulator dapat merespons secara efektif.

Kedua, kompleksitas teknis sistem AI menciptakan hambatan signifikan untuk pengawasan yang efektif, karena pembuat kebijakan dan otoritas yudikatif sering kali kekurangan pengetahuan khusus yang diperlukan untuk mengevaluasi operasi algoritma dan implikasi sosialnya.

Ketiga, ketegangan antara promosi inovasi dan perlindungan hak menciptakan dilema kebijakan, karena regulasi yang terlalu restriktif dapat menghambat pengembangan teknologi yang bermanfaat sementara regulasi yang tidak memadai mengekspos populasi pada bahaya signifikan.

Proliferasi teknologi deepfake mencontohkan tantangan-tantangan ini. Model AI generatif yang canggih kini dapat menciptakan media sintetis yang sangat realistis yang menggambarkan individu terlibat dalam aktivitas yang tidak pernah mereka lakukan atau membuat pernyataan yang tidak pernah mereka ucapkan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dari Mimbar ke Layar,...
Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama
AI Ubah Cara Mengelola...
AI Ubah Cara Mengelola Proyek, Kompetensi Project Manager Tetap Jadi Kunci Kepemimpinan
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Ungkap Asal Usul Ide...
Ungkap Asal Usul Ide KDMP, Prabowo: Agar Rakyat Tak Terjerat Lintah Darat
Nahdlatul Ulama dan...
Nahdlatul Ulama dan Kesejahteraan Sosial
Audit Media Sosial:...
Audit Media Sosial: Langkah Penting yang Sering Kita Lupakan
ADVAN Universe 2026...
ADVAN Universe 2026 Digelar di Bandung, Perkuat Ekosistem Talenta Digital
Dukung Penguatan Ekonomi...
Dukung Penguatan Ekonomi Kerakyatan, Danantara Tinjau Pemberdayaan Nasabah PNM di Mojokerto
Amway Indonesia Perkuat...
Amway Indonesia Perkuat Komitmen Mendukung Keluarga Hidup Lebih Sehat dan Sejahtera
Rekomendasi
Punya Usaha di Bangunan...
Punya Usaha di Bangunan Cagar Budaya? Ini Ketentuan Pengurangan PBB-P2 di Jakarta
Wali Kota Semarang:...
Wali Kota Semarang: Butuh Komitmen Bersama dalam Pemberantasan Korupsi
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa Evakuasi 80.000 Orang di Prancis dan Spanyol
Berita Terkini
PWNU Jateng dan Konjen...
PWNU Jateng dan Konjen Tiongkok Jalin Kerja Sama Pendidikan, Gus Rozin Ikuti Jejak Gus Dur
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Smartwatch AI, Kala...
Smartwatch AI, Kala Algoritma Mulai Membentuk Cara Kita Menilai Diri
Ditahan di Rutan KPK,...
Ditahan di Rutan KPK, Febrie Adriansyah: Alat Bukti Masih Didalami, Belum Cukup Dilakukan Penahanan
Masalah Perampasan Aset...
Masalah Perampasan Aset Tindak Pidana
Eks Jubir KPK Febri...
Eks Jubir KPK Febri Diansyah Resmi Jadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Infografis
4 Presiden Termiskin...
4 Presiden Termiskin di Dunia, Sumbangkan 90% Gajinya untuk Kaum Susah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved