Sengkarut Menaklukkan Wabah Virus Korona
Selasa, 15 September 2020 - 06:54 WIB
loading...
A
A
A
Memang pada konteks kesehatan masyarakat, upaya Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah daerah lain untuk memberlakukan kembali PSBB secara total, patut didukung. Namun efektivitas PSBB ini di lapangan masih meragukan, dikarenakan beberapa hal, yaitu: pertama, Pemprov DKI— bahkan pemerintah pusat, bisa jadi sudah tak cukup punya fulus untuk memberikan kompensasi pada masyarakat yang terdampak PSBB tersebut. Mengingat, selama pandemi dana pemerintah sudah terkuras, dan di sisi lain pendapatan Pemprov DKI menurun drastis (turun 53%). Kedua, kepatuhan masyarakat sudah sangat melemah, masyarakat nyaris tak punya rasa takut lagi dengan Covid-19. Persoalan ekonomi bisa jadi menjadi pemicu utamanya. Ustadz kondang, Aa Gym, dalam suatu ceramahnya memberikan ilustrasi begini: dulu, di awal pandemi saat wabahnya masih kecil, masyarakat masih punya rasa takut. Sekarang, saat wabahnya makin luas, rasa takut masyarakat malah sudah hilang.
Oleh karena itu, agar wabah Covid-19 bisa terkendali, maka ada beberapa catatan serius, yaitu; pertama, pemerintah harus konsisten mewujudkan aspek pengendalian dan kesehatan masyarakat sebagai panglima, bukan ekonomi sebagai panglima. Kunci utamanya kendalikan dan bereskan dulu masalah wabahnya, nanti aspek ekonomi akan mengikuti. Aspek ekonomi adalah follower dari aspek kesehatan masyarakat, dan bukan sebaliknya. Jangan lagi ada kebijakan yang cenderung kompromistis, yang berujung pada pencapakan tersadap sektor kesehatan masyarakat. Paradigma keliru yang selama ini diusung pemerintah harus dibuang jauh-jauh.
Kedua, harus ada sanksi tegas bagi siapapun yang melanggar protokol kesehatan, selama penerapan PSBB berlangsung. Apalagi pada akhir 2020 ada hajatan Pilkada serentak. Sebuah kebijakan yang sangat ironis di tengah pandemi yang masih sangat mendominasi. PSBB itu instrumen kebijakan yang lemah untuk mengendalikan wabah Covid-19 (yang seharusnya karantina wilayah, lockdown), jangan diperlemah lagi dengan kebijakan yang inkonsisten dan rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat. Ini adalah pertaruhan terakhir bagi upaya pemerintah untuk mengendalikan wabah Covid-19, demi melindungi warganya.
Jangan mimpi pertumbuhan ekonomi akan membaik jika pandemi Covid-19 tak mampu dikendalikan. Dan Jangan mimpi pula bisa mendatangkan wisatawan asing ke Indonesia, alih alih yang ada malah 59 negara di dunia memberikan travel warning agar tidak menyambangi Indonesia. Jadi jangan lagi membuang waktu percuma, jangan mencampakkan momen emas (golden moment) untuk menaklukkan pandemi Covid-19. Konsistenlah dengan paradigma kesehatan masyarakat sebagai panglima, walau terasa terjal.
Oleh karena itu, agar wabah Covid-19 bisa terkendali, maka ada beberapa catatan serius, yaitu; pertama, pemerintah harus konsisten mewujudkan aspek pengendalian dan kesehatan masyarakat sebagai panglima, bukan ekonomi sebagai panglima. Kunci utamanya kendalikan dan bereskan dulu masalah wabahnya, nanti aspek ekonomi akan mengikuti. Aspek ekonomi adalah follower dari aspek kesehatan masyarakat, dan bukan sebaliknya. Jangan lagi ada kebijakan yang cenderung kompromistis, yang berujung pada pencapakan tersadap sektor kesehatan masyarakat. Paradigma keliru yang selama ini diusung pemerintah harus dibuang jauh-jauh.
Kedua, harus ada sanksi tegas bagi siapapun yang melanggar protokol kesehatan, selama penerapan PSBB berlangsung. Apalagi pada akhir 2020 ada hajatan Pilkada serentak. Sebuah kebijakan yang sangat ironis di tengah pandemi yang masih sangat mendominasi. PSBB itu instrumen kebijakan yang lemah untuk mengendalikan wabah Covid-19 (yang seharusnya karantina wilayah, lockdown), jangan diperlemah lagi dengan kebijakan yang inkonsisten dan rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat. Ini adalah pertaruhan terakhir bagi upaya pemerintah untuk mengendalikan wabah Covid-19, demi melindungi warganya.
Jangan mimpi pertumbuhan ekonomi akan membaik jika pandemi Covid-19 tak mampu dikendalikan. Dan Jangan mimpi pula bisa mendatangkan wisatawan asing ke Indonesia, alih alih yang ada malah 59 negara di dunia memberikan travel warning agar tidak menyambangi Indonesia. Jadi jangan lagi membuang waktu percuma, jangan mencampakkan momen emas (golden moment) untuk menaklukkan pandemi Covid-19. Konsistenlah dengan paradigma kesehatan masyarakat sebagai panglima, walau terasa terjal.
(ras)