Penciptaan Lapangan Kerja Harus Ditopang Industrialisasi

Senin, 03 November 2025 - 20:23 WIB
loading...
A A A

Industri Nasional yang Masih Rapuh


Mesin utama pencipta lapangan kerja formal kita, yaitu industri manufaktur, terus terpukul dalam dua dekade terakhir. Menutup tahun 2024 lalu, kontribusi manufaktur terhadap PDB nasional sebesar 18,9%. Angka ini mencerminkan tren penurunan jangka panjang sejak awal 2000-an ketika peran sektor ini jauh lebih tinggi (saat itu kontribusi manufaktur terhadap PDB di kisaran 24%). Sementara dari sisi tenaga kerja, pangsa pekerja manufaktur terhadap total pekerja hanya sekitar 13,83%. Angka ini terbilang kecil, dan sekaligus menunjukkan betapa rapuhnya struktur pasar tenaga kerja kita.

Hal inilah yang menjelaskan kenapa tampak begitu banyak orang bekerja, tetapi tidak pernah bisa untuk naik kelas. Asbabnya, tanpa ditopang struktur industri yang kokoh, penyerapan tenaga kerja hanya lari pada sektor-sektor dengan produktivitas rendah dengan upah rendah pula. Bahkan per Februari 2025 lalu, lonjakan penyerapan terbesar ada di perdagangan eceran, yang meskipun sektor ini penting, tetapi rata-rata produktivitas serta tingkat formalitasnya terhitung kecil.

Contoh paling gamblang adalah industri tekstil dan garmen, yang selama ini menjadi lokomotif bagi banyak pekerja perempuan dan pemuda. Sejak 2023-2024, sektor ini terpukul akibat pelemahan permintaan global ditambah gempuran banjir impor. Sektor ini sempat mendapat perhatian serius dari pemerintah, yang kemudian diikuti upaya penyelamatan Sritex karena efek sistemiknya terhadap puluhan ribu pekerja di rantai pasok. Pemerintah menyadari bahwa terpukulnya manufaktur padat karya akan berdampak langsung pada kualitas kerja nasional: lebih banyak yang terdorong pada informalitas atau kerja paruh waktu.

Walau terlihat suram, berita baiknya adalah hilirisasi komoditas yang kini menjadi prioritas pemerintah telah berhasil membawa investasi besar, terutama nikel untuk baterai kendaraan listrik (EV). Meski tantangannya adalah industri nikel kita masih didominasi proses yang sangat padat modal dan belum optimal memberikan nilai tambah ke rantai pasok lanjutan. Sebagai gambaran, Indonesia kini memasok sekitar 61% nikel olahan secara global (2024) dan berpotensi naik hingga 74% pada 2028 mendatang. Posisi strategis ini harus diterjemahkan menjadi lompatan kesempatan kerja melalui pendalaman ekonomi melalui industrialisasi.

Mendorong Industrialisasi


Pemerintah baru-baru ini meluncurkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai roadmap industrialisasi jangka panjang, dan patut kita apresiasi sekaligus nantikan hasilnya. Selaras dengan Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran, SBIN ditopang lewat empat pilar: industrialisasi berbasis SDA, pengembangan ekosistem industri, penguasaan teknologi, dan keberlanjutan.

Agar seluruh pilar SBIN optimal, saya melihat ada lima kebijakan strategis yang perlu dilakukan segera. Pertama, menyelamatkan sekaligus modernisasi industri padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, dan elektronik rumah tangga untuk memperbaiki fondasi ekonomi. Sektor-sektor tersebut paling cepat menyerap tenaga kerja. Oleh karenanya, beragam isu seperti lonjakan impor terutama yang ilegal, pembiayaan modal, dan transfer teknologi ke industri skala kecil-menengah perlu mendapat perhatian serius.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Perlambatan Ekonomi...
Perlambatan Ekonomi Tekan Pendapatan, Agus Taufiq Perindo Desak Perluasan Lapangan Kerja
Evita: Kebijakan Bebas...
Evita: Kebijakan Bebas Visa Kunjungan Buka Lapangan Kerja dan Gerakkan UMKM
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
Prabowo: Daripada Bangun...
Prabowo: Daripada Bangun Kantor Baru, Lebih Baik Buat Program yang Ciptakan Lapangan Kerja
Kunjungi Pabrik Kendaraan...
Kunjungi Pabrik Kendaraan Listrik, Prabowo: Industrialisasi Bagian Kebangkitan Teknologi Bangsa
Saatnya Bergeser dari...
Saatnya Bergeser dari Narasi Hilirisasi ke Reindustrialisasi
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Pemprov Papua Selatan:...
Pemprov Papua Selatan: PSN Wanam Buka Lapangan Pekerjaan dan Tingkatkan Kesejahteraan
Warga Wanam Harap Pembangunan...
Warga Wanam Harap Pembangunan PSN di Papua Selatan Dilanjutkan
Rekomendasi
Dorong Daya Saing Ekspor,...
Dorong Daya Saing Ekspor, Kemenhut-FSC Perkuat Sinergi Sertifikasi Hutan
Di Bawah Naungan Danantara,...
Di Bawah Naungan Danantara, Pegadaian Siap Akselerasi Ekosistem Bank Emas ke Kancah Internasional
UMB Gelar GEN Z SPEAKS:...
UMB Gelar GEN Z SPEAKS: Aware or Controlled?, Hadirkan Pandji hingga Rian Fahardhi
Berita Terkini
Prabowo-Narendra Modi...
Prabowo-Narendra Modi Siap Teken 8 Kerja Sama, Pertahanan hingga Teknologi
Praperadilan Tersangka...
Praperadilan Tersangka Kasus Haji Asrul Azis Ditolak, KPK: Lanjutkan Penyidikan
3 Polisi Satresnarkoba...
3 Polisi Satresnarkoba Polres Katingan yang Gugur Terima Kenaikan Pangkat Luar Biasa
Soroti Survei Terbuka...
Soroti Survei Terbuka IndexMundi, Burhanuddin Muhtadi Beberkan Cacat Metodologi Riset Online
KY Bakal Tindak Lanjuti...
KY Bakal Tindak Lanjuti Laporan Kubu Nadiem Makarim
Dugaan Korupsi Pasokan...
Dugaan Korupsi Pasokan Batu Bara, Polri: Negara Rugi Rp5 Triliun Akibat Pemadaman Listrik
Infografis
10 Negara dengan Jam...
10 Negara dengan Jam Kerja Terpendek di Dunia, Suriah Paling Singkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved