Tiga Suara Indonesia di Roma: JK, Nasaruddin, dan Arsjad dalam Forum Perdamaian Dunia
Sabtu, 01 November 2025 - 11:29 WIB
loading...
A
A
A
Arsjad yang juga Ketua DMI Bidang Kewirausahaan berupaya membumikan gagasan ekonomi berkeadaban. Dia percaya masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat, bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga tempat di mana solidaritas sosial tumbuh.
Melalui gerakan 5P Global Movement yang dia inisiasi, Arsjad menyerukan agar dunia usaha tidak lagi berdiri di luar persoalan kemanusiaan, tetapi ikut menjadi bagian dari solusi. Dalam dirinya, spiritualitas dan kewirausahaan berpadu menjadi semangat perdamaian baru yang modern, progresif, namun berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang humanis.
Dari diplomasi moral yang diusung JK, spiritualitas damai yang dibawa Nasaruddin Umar, hingga etika ekonomi yang ditegaskan Arsjad Rasjid, tiga suara Indonesia itu berpadu menjadi harmoni yang khas yakni pertemuan antara negara, agama, dan dunia usaha.
Ketiganya menegaskan bahwa perdamaian bukan urusan para rohaniawan semata, bukan pula monopoli politisi atau pebisnis, melainkan kerja bersama lintas iman, lintas sektor, dan lintas generasi.
Dalam suasana forum yang hangat, gema dari pidato-pidato itu seperti menggema hingga ke luar dinding Basilika Lateran, tempat pertemuan berlangsung. Seorang peserta dari Eropa Timur bahkan menyebut Indonesia sebagai cermin masa depan dunia yang plural tapi damai.
Melalui gerakan 5P Global Movement yang dia inisiasi, Arsjad menyerukan agar dunia usaha tidak lagi berdiri di luar persoalan kemanusiaan, tetapi ikut menjadi bagian dari solusi. Dalam dirinya, spiritualitas dan kewirausahaan berpadu menjadi semangat perdamaian baru yang modern, progresif, namun berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang humanis.
Dari diplomasi moral yang diusung JK, spiritualitas damai yang dibawa Nasaruddin Umar, hingga etika ekonomi yang ditegaskan Arsjad Rasjid, tiga suara Indonesia itu berpadu menjadi harmoni yang khas yakni pertemuan antara negara, agama, dan dunia usaha.
Ketiganya menegaskan bahwa perdamaian bukan urusan para rohaniawan semata, bukan pula monopoli politisi atau pebisnis, melainkan kerja bersama lintas iman, lintas sektor, dan lintas generasi.
Dalam suasana forum yang hangat, gema dari pidato-pidato itu seperti menggema hingga ke luar dinding Basilika Lateran, tempat pertemuan berlangsung. Seorang peserta dari Eropa Timur bahkan menyebut Indonesia sebagai cermin masa depan dunia yang plural tapi damai.
(jon)
Lihat Juga :