Tiga Suara Indonesia di Roma: JK, Nasaruddin, dan Arsjad dalam Forum Perdamaian Dunia
Sabtu, 01 November 2025 - 11:29 WIB
loading...
Mantan Wapres Jusuf Kalla (JK), Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan mantan Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid menghadiri Forum Perdamaian Internasional Daring Peace-International Meeting for Peace di Roma, Italia. Foto: Ist
A
A
A
ROMA - Ribuan peserta menghadiri Forum Perdamaian Internasional Daring Peace-International Meeting for Peace di Roma, Italia. Ada 3 tokoh Indonesia tampil menonjol membawa wajah keberagaman dan kebijaksanaan dari negeri kepulauan. Ketiganya yakni mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) , Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan mantan Ketua Kadin Indonesia Arsjad Rasjid.
Kehadiran mereka bukan sekadar simbol partisipasi diplomatik melainkan pancaran dari sebuah kesadaran bahwa Indonesia memiliki modal moral yang relevan di tengah dunia yang gamang oleh konflik, ekstremisme, serta ketimpangan global. Tiga suara itu yakni politik, spiritualitas, dan ekonomi bersatu dalam satu pesan yakni perdamaian sejati lahir dari keberanian untuk mempercayai manusia lain.
Baca juga: JK Diminta Fasilitasi Perdamaian Palestina dengan Israel
JK membuka forum dengan nada yang tegas namun menenangkan. Dia berbicara bukan dengan jargon diplomasi melainkan dengan bahasa nurani yang lahir dari pengalaman. “Perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang,” ujar JK di hadapan ratusan pemuka agama dan kepala negara.
“Dia adalah keberanian untuk meletakkan senjata baik fisik maupun ideologis lalu memilih jalan dialog, keadilan, dan solidaritas,” lanjutnya.
JK berbicara dari pengalaman panjangnya sebagai mediator konflik di Poso dan Aceh. Dia pernah melihat bagaimana dendam bisa meluluhlantakkan tatanan sosial, tapi juga menyaksikan bagaimana hati yang bersedia mendengar dapat menyembuhkan luka.
Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, dia menegaskan masjid tidak boleh sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi harus menjadi ruang sosial yang menumbuhkan keadaban umat dan solidaritas kemanusiaan.
Dalam pandangannya, rumah ibadah adalah tempat terbaik untuk menanam benih perdamaian. “Beranilah mewujudkan perdamaian. Jangan hanya mengambil keuntungan dari konflik,” ucapnya.
Beberapa jam setelah pidato JK, Nasaruddin Umar, Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal memberi bobot spiritual tersendiri pada pidatonya. Dia berbicara lembut namun tajam tentang bahaya politisasi agama yang menggerogoti fondasi perdamaian. “Ancaman terbesar bagi perdamaian bukan agama melainkan penyalahgunaan agama,” ujarnya.
Dia memaparkan gagasan tentang Islam rahmatan lil alamin tentang bagaimana ajaran kasih dan kedamaian bisa menjadi perekat di tengah perbedaan.
Dia membawa Indonesia sebagai contoh konkret, sebuah laboratorium kerukunan dunia di mana umat beragama hidup berdampingan dalam saling menghormati. Bagi Nasaruddin, pengalaman keberagaman Indonesia adalah warisan spiritual yang bisa dibagikan kepada dunia.
Di sesi bertema Economy and Solidarity, Arsjad Rasjid menghadirkan dimensi lain dari perdamaian yakni keadilan ekonomi. Baginya, konflik kerap berakar pada ketimpangan. Ekonomi yang hanya memihak segelintir orang, tanpa nurani dan tanggung jawab sosial hanyalah bentuk lain dari kekerasan yang tersembunyi. “Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah bentuk konflik yang tersembunyi,” tuturnya.
Arsjad yang juga Ketua DMI Bidang Kewirausahaan berupaya membumikan gagasan ekonomi berkeadaban. Dia percaya masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat, bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga tempat di mana solidaritas sosial tumbuh.
Melalui gerakan 5P Global Movement yang dia inisiasi, Arsjad menyerukan agar dunia usaha tidak lagi berdiri di luar persoalan kemanusiaan, tetapi ikut menjadi bagian dari solusi. Dalam dirinya, spiritualitas dan kewirausahaan berpadu menjadi semangat perdamaian baru yang modern, progresif, namun berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang humanis.
Dari diplomasi moral yang diusung JK, spiritualitas damai yang dibawa Nasaruddin Umar, hingga etika ekonomi yang ditegaskan Arsjad Rasjid, tiga suara Indonesia itu berpadu menjadi harmoni yang khas yakni pertemuan antara negara, agama, dan dunia usaha.
Ketiganya menegaskan bahwa perdamaian bukan urusan para rohaniawan semata, bukan pula monopoli politisi atau pebisnis, melainkan kerja bersama lintas iman, lintas sektor, dan lintas generasi.
Dalam suasana forum yang hangat, gema dari pidato-pidato itu seperti menggema hingga ke luar dinding Basilika Lateran, tempat pertemuan berlangsung. Seorang peserta dari Eropa Timur bahkan menyebut Indonesia sebagai cermin masa depan dunia yang plural tapi damai.
Kehadiran mereka bukan sekadar simbol partisipasi diplomatik melainkan pancaran dari sebuah kesadaran bahwa Indonesia memiliki modal moral yang relevan di tengah dunia yang gamang oleh konflik, ekstremisme, serta ketimpangan global. Tiga suara itu yakni politik, spiritualitas, dan ekonomi bersatu dalam satu pesan yakni perdamaian sejati lahir dari keberanian untuk mempercayai manusia lain.
Baca juga: JK Diminta Fasilitasi Perdamaian Palestina dengan Israel
JK membuka forum dengan nada yang tegas namun menenangkan. Dia berbicara bukan dengan jargon diplomasi melainkan dengan bahasa nurani yang lahir dari pengalaman. “Perdamaian bukan sekadar ketiadaan perang,” ujar JK di hadapan ratusan pemuka agama dan kepala negara.
“Dia adalah keberanian untuk meletakkan senjata baik fisik maupun ideologis lalu memilih jalan dialog, keadilan, dan solidaritas,” lanjutnya.
JK berbicara dari pengalaman panjangnya sebagai mediator konflik di Poso dan Aceh. Dia pernah melihat bagaimana dendam bisa meluluhlantakkan tatanan sosial, tapi juga menyaksikan bagaimana hati yang bersedia mendengar dapat menyembuhkan luka.
Sebagai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, dia menegaskan masjid tidak boleh sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi harus menjadi ruang sosial yang menumbuhkan keadaban umat dan solidaritas kemanusiaan.
Dalam pandangannya, rumah ibadah adalah tempat terbaik untuk menanam benih perdamaian. “Beranilah mewujudkan perdamaian. Jangan hanya mengambil keuntungan dari konflik,” ucapnya.
Beberapa jam setelah pidato JK, Nasaruddin Umar, Menag yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal memberi bobot spiritual tersendiri pada pidatonya. Dia berbicara lembut namun tajam tentang bahaya politisasi agama yang menggerogoti fondasi perdamaian. “Ancaman terbesar bagi perdamaian bukan agama melainkan penyalahgunaan agama,” ujarnya.
Dia memaparkan gagasan tentang Islam rahmatan lil alamin tentang bagaimana ajaran kasih dan kedamaian bisa menjadi perekat di tengah perbedaan.
Dia membawa Indonesia sebagai contoh konkret, sebuah laboratorium kerukunan dunia di mana umat beragama hidup berdampingan dalam saling menghormati. Bagi Nasaruddin, pengalaman keberagaman Indonesia adalah warisan spiritual yang bisa dibagikan kepada dunia.
Di sesi bertema Economy and Solidarity, Arsjad Rasjid menghadirkan dimensi lain dari perdamaian yakni keadilan ekonomi. Baginya, konflik kerap berakar pada ketimpangan. Ekonomi yang hanya memihak segelintir orang, tanpa nurani dan tanggung jawab sosial hanyalah bentuk lain dari kekerasan yang tersembunyi. “Ekonomi tanpa kemanusiaan adalah bentuk konflik yang tersembunyi,” tuturnya.
Arsjad yang juga Ketua DMI Bidang Kewirausahaan berupaya membumikan gagasan ekonomi berkeadaban. Dia percaya masjid dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi umat, bukan hanya ruang spiritual, tetapi juga tempat di mana solidaritas sosial tumbuh.
Melalui gerakan 5P Global Movement yang dia inisiasi, Arsjad menyerukan agar dunia usaha tidak lagi berdiri di luar persoalan kemanusiaan, tetapi ikut menjadi bagian dari solusi. Dalam dirinya, spiritualitas dan kewirausahaan berpadu menjadi semangat perdamaian baru yang modern, progresif, namun berakar kuat pada nilai-nilai Islam yang humanis.
Dari diplomasi moral yang diusung JK, spiritualitas damai yang dibawa Nasaruddin Umar, hingga etika ekonomi yang ditegaskan Arsjad Rasjid, tiga suara Indonesia itu berpadu menjadi harmoni yang khas yakni pertemuan antara negara, agama, dan dunia usaha.
Ketiganya menegaskan bahwa perdamaian bukan urusan para rohaniawan semata, bukan pula monopoli politisi atau pebisnis, melainkan kerja bersama lintas iman, lintas sektor, dan lintas generasi.
Dalam suasana forum yang hangat, gema dari pidato-pidato itu seperti menggema hingga ke luar dinding Basilika Lateran, tempat pertemuan berlangsung. Seorang peserta dari Eropa Timur bahkan menyebut Indonesia sebagai cermin masa depan dunia yang plural tapi damai.
(jon)
Lihat Juga :