Whoosh di Rel Geopolitik

Jum'at, 31 Oktober 2025 - 05:44 WIB
loading...
A A A
Kita masih menyimpan memori kolonial tentang rel-rel Hindia Belanda yang dibangun bukan untuk rakyat, tetapi untuk mengalirkan kopi, gula, dan rempah menuju pelabuhan kolonial. Infrastruktur, dalam sejarah kolonialisme, kerap jadi alat penguasaan yang dibungkus narasi kemajuan. Maka, ketika publik menaruh curiga terhadap proyek yang dibiayai pinjaman luar negeri, itu bukan sekadar sikap sinis—melainkan refleks historis bangsa yang pernah dijadikan objek pembangunan oleh kekuatan asing.

Namun menolak semua bentuk kerja sama atas dasar trauma masa lalu juga berisiko. Dunia kini hidup dalam logika complex interdependence, meminjam istilah Nye dan Keohane. Dalam realitas saling ketergantungan global, isolasi bukan tanda kedaulatan, melainkan ketertinggalan. Tantangan bagi Indonesia adalah menjadikan keterhubungan global sebagai ruang negosiasi baru, di mana kedaulatan berarti kemampuan mengatur arah kepentingan nasional dalam arus global yang tak bisa dihindari.

Di titik inilah kebijaksanaan negara diuji. Apakah proyek seperti Whoosh akan membuka kemandirian teknologi dan industri nasional, atau justru menjerat kita dalam ketergantungan finansial jangka panjang? Pertanyaan ini tak bisa dijawab dengan emosi politik jangka pendek. Ia memerlukan pandangan strategis tentang siapa yang menguasai teknologi, siapa yang mengelola aset, dan siapa yang memetik manfaat sosialnya.

Sebagian pihak menyamakan Whoosh dengan menara Babel—proyek ambisius yang runtuh karena kesombongan manusia. Dalam kisah itu, manusia membangun menara untuk mencapai langit, berharap menjadi setara dengan Tuhan. Namun proyek itu gagal karena hilangnya kebersamaan dan kebijaksanaan. Pelajaran dari Babel jelas: ambisi tanpa keinsafan akan kehilangan arah.

Filsuf teknologi Martin Heidegger pernah menulis bahwa teknologi bukan sekadar alat, melainkan cara manusia “mengungkapkan” dunia. Maka, rel kereta cepat pun bisa dibaca sebagai pernyataan ontologis tentang siapa kita sebagai bangsa: apakah kita hanya meniru kemajuan orang lain, atau menggunakan teknologi untuk mengukuhkan kemandirian dan solidaritas sosial. Pembangunan hanya bermakna jika membawa manusia pada kesadaran diri yang lebih tinggi, bukan sekadar kecepatan dan efisiensi.

Dalam kerangka hubungan internasional, Whoosh juga mencerminkan arah politik luar negeri Indonesia. Di tengah rivalitas China–Amerika Serikat, Indonesia berupaya menegaskan diri sebagai middle power yang otonom dengan prinsip bebas aktif. Kerja sama dengan China seharusnya dibaca sebagai strategi diversifikasi mitra dan optimalisasi peluang, bukan bentuk ketundukan. Yang dibutuhkan adalah strategic literacy—kemampuan membaca peta kepentingan global dan bernegosiasi tanpa kehilangan arah moral dan ideologis.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo Dinilai Mampu...
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
Relawan Jokowi Sebut...
Relawan Jokowi Sebut Tudingan Roy Suryo Cs Soal Ijazah Jokowi Menguras Energi
Namanya Disebut dalam...
Namanya Disebut dalam Pleidoi Nadiem, Jokowi: Yang Saya Tahu Pak Nadiem Orang Baik
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Segera Disidang, Ini Respons Pengacara Jokowi
Berkas Kasus Ijazah...
Berkas Kasus Ijazah Jokowi dengan Tersangka Roy Suryo dan Dokter Tifa Lengkap, Segera Disidang
Jokowi Tak Hadir di...
Jokowi Tak Hadir di Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, Ternyata Ini Alasannya
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
Jokowi Buka Suara! Soal...
Jokowi Buka Suara! Soal Kasus Laptop Nadiem: Semua Kebijakan dari Presiden
Kasus Tudingan Ijazah...
Kasus Tudingan Ijazah Palsu Jokowi Segera Disidang, Roy Suryo: Kayaknya Ini Didorong Termul yang Ngamuk
Rekomendasi
Biksu Buddha di China...
Biksu Buddha di China Dilaporkan Ditahan usai Peringati Peristiwa Tiananmen
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
Berita Terkini
Prabowo Minta Menkes...
Prabowo Minta Menkes Perluas CKG-Perkuat Penanggulangan TBC
Konflik PPP Banten Dinilai...
Konflik PPP Banten Dinilai Lebih dari Sekadar Pergantian Ketua
4 Oknum Prajurit TNI...
4 Oknum Prajurit TNI Terdakwa Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Hari Ini Divonis
3 Guru Besar Kedokteran...
3 Guru Besar Kedokteran Bakal Jadi Saksi Ahli Dokter Tifa
Kasus Mega Korupsi BGN...
Kasus Mega Korupsi BGN dan Kitas-Kitap
Luhut: Bansos ke Depan...
Luhut: Bansos ke Depan Tak Lagi Barang, Diberi Cash Transfer Rp5,4 Juta per Orang
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved