Banyak Anak Sekolah Kecanduan Judi Online, DPR: Pendidikan Karakter Harus Direformulasi
Rabu, 29 Oktober 2025 - 13:27 WIB
loading...
A
A
A
"Sekolah hari ini masih sibuk menyiapkan anak untuk ujian, bukan untuk bertahan di dunia digital yang penuh jebakan algoritma dan komersialisasi perilaku," ujar Esti.
Ia mengatakan, literasi digital di sekolah saat ini masih bersifat teoritis dan belum menyentuh akar masalah. Padahal yang dibutuhkan, kata Esti, bagaimana anak mampu mengenali pola manipulatif di platform digital serta memahami risiko finansial dan psikologis yang menyertainya.
“Pendidikan karakter yang ada saat ini harus direformulasi menjadi pendidikan karakter berbasis risiko digital. Sehingga anak sejak dini memahami konsekuensi nyata dari perilaku daring seperti judi online, microtransaction, dan pinjaman digital,” paparnya.
Selain di sekolah, kontrol dan pendampingan terhadap anak di lingkungan rumah dan sosialnya juga dinilai penting. Sebab, banyak kasus menunjukkan anak-anak mengakses situs judi menggunakan akun atau data milik orang tuanya.
"Negara harus mengakui bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai gawai, tetapi kemampuan membaca bahaya di balik layar,” sebut Esti.
“Menanamkan kontrol diri dan kesadaran digital sejak dini penting dilakukan untuk mengantisipasi krisis karakter nasional di masa depan," sambungnya.
Berbicara soal pendidikan karakter, Esti memberi contoh keberhasilan Jepang yang menerapkannya sejak usia dini anak. Bahkan di Jepang pendidikan karakter merupakan hal pertama yang diajarkan di sekolah.
“Di Jepang itu anak masuk SD belum diajarkan calistung, tapi belajar karakter dahulu. Tentang menjaga kebersihan, saling tolong menolong, belajar soal adab yang baik sebagai modal menjalani hidup,” terang Esti.
“Maka kita bisa lihat attitude atau manner masyarakat Jepang yang sangat menjunjung tinggi etika. Kita sering lihat warga Jepang yang tak segan membuangkan sampah orang lain saat mereka melihatnya, seperti dalam pertandingan-pertandingan olahraga, termasuk di luar negara mereka,” imbuhnya.
Ia mengatakan, literasi digital di sekolah saat ini masih bersifat teoritis dan belum menyentuh akar masalah. Padahal yang dibutuhkan, kata Esti, bagaimana anak mampu mengenali pola manipulatif di platform digital serta memahami risiko finansial dan psikologis yang menyertainya.
“Pendidikan karakter yang ada saat ini harus direformulasi menjadi pendidikan karakter berbasis risiko digital. Sehingga anak sejak dini memahami konsekuensi nyata dari perilaku daring seperti judi online, microtransaction, dan pinjaman digital,” paparnya.
Selain di sekolah, kontrol dan pendampingan terhadap anak di lingkungan rumah dan sosialnya juga dinilai penting. Sebab, banyak kasus menunjukkan anak-anak mengakses situs judi menggunakan akun atau data milik orang tuanya.
"Negara harus mengakui bahwa literasi digital bukan sekadar kemampuan memakai gawai, tetapi kemampuan membaca bahaya di balik layar,” sebut Esti.
“Menanamkan kontrol diri dan kesadaran digital sejak dini penting dilakukan untuk mengantisipasi krisis karakter nasional di masa depan," sambungnya.
Berbicara soal pendidikan karakter, Esti memberi contoh keberhasilan Jepang yang menerapkannya sejak usia dini anak. Bahkan di Jepang pendidikan karakter merupakan hal pertama yang diajarkan di sekolah.
“Di Jepang itu anak masuk SD belum diajarkan calistung, tapi belajar karakter dahulu. Tentang menjaga kebersihan, saling tolong menolong, belajar soal adab yang baik sebagai modal menjalani hidup,” terang Esti.
“Maka kita bisa lihat attitude atau manner masyarakat Jepang yang sangat menjunjung tinggi etika. Kita sering lihat warga Jepang yang tak segan membuangkan sampah orang lain saat mereka melihatnya, seperti dalam pertandingan-pertandingan olahraga, termasuk di luar negara mereka,” imbuhnya.
Lihat Juga :