Banyak Anak Sekolah Kecanduan Judi Online, DPR: Pendidikan Karakter Harus Direformulasi
Rabu, 29 Oktober 2025 - 13:27 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Esti, saat anak memiliki pendidikan karakter yang kuat, maka pendidikan akademiknya akan mengikuti. Dan pendidikan karakter pun akan membantu anak menghalau aktivitas yang kurang baik, seperti judol.
“Maka pendidikan karakter harus jadi dasar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Karena pendidikan karakter menjadi modal dalam membentuk adab setiap individu, dan semuanya harus dimulai sejak anak-anak, dari bangku awal sekolah dasar,” tambahnya.
Di sisi lain, Esti menilai tugas perlindungan anak dari pengaruh judol adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pihak sekolah, ataupun keluarga di rumah.
“Semua stakeholder bertanggung jawab memastikan anak-anak kita bebas dari pengaruh judol, termasuk lingkungan sosial mereka dan instansi negara terkait,” ungkap Esti.
“Tentunya kami juga di DPR turut berperan melalui fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan. Saat saya ke Lemhanas periode lalu, saya juga sempat ingatkan soal ini,” tambahnya.
Masih dalam momentum Hari Sumpah Pemuda 2025 yang diperingati 28 Oktober kemarin, Esti pun mengaitkan fenomena judi online sebagai tantangan baru bagi pemuda Indonesia di era digital.
“Jika di masa lalu pemuda berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah, maka generasi muda saat ini harus berjuang memerdekakan diri dari penjajahan digital yang berpotensi menggerus karakter masa depan bangsa,” ucap Esti.
Menurut Esti, semangat Sumpah Pemuda harus dihidupkan kembali dalam konteks zaman. “Pemuda hari ini ditantang untuk menjadi generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga tangguh secara digital, mampu memilah informasi, menolak manipulasi, dan menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus teknologi," pesannya.
"Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda. Mari kita jaga semangat persatuan dan kemerdekaan berpikir di dunia nyata maupun di dunia digital,” pungkasnya.
“Maka pendidikan karakter harus jadi dasar dalam sistem pendidikan di Indonesia. Karena pendidikan karakter menjadi modal dalam membentuk adab setiap individu, dan semuanya harus dimulai sejak anak-anak, dari bangku awal sekolah dasar,” tambahnya.
Di sisi lain, Esti menilai tugas perlindungan anak dari pengaruh judol adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pihak sekolah, ataupun keluarga di rumah.
“Semua stakeholder bertanggung jawab memastikan anak-anak kita bebas dari pengaruh judol, termasuk lingkungan sosial mereka dan instansi negara terkait,” ungkap Esti.
“Tentunya kami juga di DPR turut berperan melalui fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan. Saat saya ke Lemhanas periode lalu, saya juga sempat ingatkan soal ini,” tambahnya.
Masih dalam momentum Hari Sumpah Pemuda 2025 yang diperingati 28 Oktober kemarin, Esti pun mengaitkan fenomena judi online sebagai tantangan baru bagi pemuda Indonesia di era digital.
“Jika di masa lalu pemuda berjuang merebut kemerdekaan dari penjajah, maka generasi muda saat ini harus berjuang memerdekakan diri dari penjajahan digital yang berpotensi menggerus karakter masa depan bangsa,” ucap Esti.
Menurut Esti, semangat Sumpah Pemuda harus dihidupkan kembali dalam konteks zaman. “Pemuda hari ini ditantang untuk menjadi generasi yang bukan hanya cerdas, tapi juga tangguh secara digital, mampu memilah informasi, menolak manipulasi, dan menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah derasnya arus teknologi," pesannya.
"Selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda. Mari kita jaga semangat persatuan dan kemerdekaan berpikir di dunia nyata maupun di dunia digital,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :