Hari Santri 2025, dari Spirit Nasionalisme Menuju Peradaban Dunia
Kamis, 23 Oktober 2025 - 22:13 WIB
loading...
A
A
A
Ia menilai bahwa dalam konteks kekinian, jihad santri adalah jihad kebangsaan-perjuangan sungguh-sungguh untuk mencapai kemaslahatan bangsa dengan semangat nasionalisme dan ajaran agama. "Ini bukan perjuangan dengan mengangkat senjata, tetapi berjuang melawan persoalan bangsa di era modern. Jihad kebangsaan berarti ikut membangun bangsa sesuai kemampuan yang dimiliki untuk mewujudkan cita-cita luhur berdasarkan ideologi Pancasila," tuturnya.
Menurutnya, perbedaan mendasar antara jihad kebangsaan dan jihad radikal transnasional terletak pada orientasinya. “Jihad ala santri adalah menjaga dan mengisi NKRI dengan kebaikan dan kemaslahatan, sementara jihad radikal ingin mengubah bentuk negara menjadi kekhalifahan atau negara agama,” jelasnya.
Baca juga: Kick Off Hari Santri Nasional 2025, Gus Yahya Menyerukan Pentingnya Persatuan Bangsa
Selain jihad kebangsaan, Hilmi juga menekankan pentingnya jihad intelektual, yakni penguasaan ilmu agama dan ilmu umum untuk menjawab tantangan zaman. “Santri tidak hanya fokus pada kitab kuning, tapi juga harus menguasai sains, teknologi, dan ilmu sosial agar mampu berkontribusi positif bagi bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan media sosial secara bijak. Santri, katanya, harus menjadi agen perubahan sosial dan penyebar nilai-nilai damai di ruang digital. “Santri harus mampu membangun narasi damai, positif, dan inklusif untuk meredam konflik yang kerap dipicu berita palsu atau provokasi di media sosial,” tambahnya.
Menurutnya, perbedaan mendasar antara jihad kebangsaan dan jihad radikal transnasional terletak pada orientasinya. “Jihad ala santri adalah menjaga dan mengisi NKRI dengan kebaikan dan kemaslahatan, sementara jihad radikal ingin mengubah bentuk negara menjadi kekhalifahan atau negara agama,” jelasnya.
Baca juga: Kick Off Hari Santri Nasional 2025, Gus Yahya Menyerukan Pentingnya Persatuan Bangsa
Selain jihad kebangsaan, Hilmi juga menekankan pentingnya jihad intelektual, yakni penguasaan ilmu agama dan ilmu umum untuk menjawab tantangan zaman. “Santri tidak hanya fokus pada kitab kuning, tapi juga harus menguasai sains, teknologi, dan ilmu sosial agar mampu berkontribusi positif bagi bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan media sosial secara bijak. Santri, katanya, harus menjadi agen perubahan sosial dan penyebar nilai-nilai damai di ruang digital. “Santri harus mampu membangun narasi damai, positif, dan inklusif untuk meredam konflik yang kerap dipicu berita palsu atau provokasi di media sosial,” tambahnya.
Lihat Juga :