Pancasila Ampuh Tangkal Propaganda Formalisasi Agama
Kamis, 25 September 2025 - 14:10 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Indonesia-Kanada Teken ICA-CEPA, 90 Persen Tarif Ekspor ke Kanada Dihapus
"Praktik pribumisasi Islam dapat menjadi sarana menolak puritanisme agama yang menyebabkan terjadinya sikap intoleran, eksklusif, dan radikal. Pribumisasi Islam dapat menjadi vaksin kultural yang dapat meningkatkan imunitas ideologis masyarakat sehingga tidak mudah digerogoti virus intoleransi, radikal, dan eksklusif," jelasnya.
Menurutnya, melalui pribumisasi, Islam dapat tumbuh subur dan inklusif tanpa harus memaksakan satu tafsir tunggal yang sering kali sempit dan tekstual. Inilah yang membedakan Islam di Indonesia, yang majemuk dan toleran, dengan wajah Islam di beberapa negara lain yang dipenuhi konflik.
Propaganda ekstrem kerap mempromosikan gagasan negara Islami dan menyebut Pancasila sebagai ideologi sekuler yang berlawanan dengan Islam. Zastrouw dengan tegas menolak narasi ini dan menawarkan argumen-argumen yang kuat untuk membuktikannya.
"Argumen pertama: adanya sila Ketuhanan. Sila ini mencerminkan bahwa Pancasila bukan sekuler karena sekularisme menolak penggunaan agama di ruang publik. Kedua, ada tafsir agama terhadap Pancasila. Dalam konteks masyarakat muslim, diturunkan ayat-ayat Alquran yang menjadi dasar dan sumber dari masing-masing sila," paparnya.
Bukti historis juga tak terbantahkan. Zastrouw menegaskan bahwa Pancasila adalah hasil ijtihad para ulama, kiai, dan tokoh agama. "Jadi, tidak mungkin sekuler," tambahnya.
Dengan demikian, Pancasila bukanlah musuh, melainkan kalimatun sawa (titik temu) yang sah dan etis untuk merealisasikan nilai-nilai Islam di ruang publik Indonesia.
"Praktik pribumisasi Islam dapat menjadi sarana menolak puritanisme agama yang menyebabkan terjadinya sikap intoleran, eksklusif, dan radikal. Pribumisasi Islam dapat menjadi vaksin kultural yang dapat meningkatkan imunitas ideologis masyarakat sehingga tidak mudah digerogoti virus intoleransi, radikal, dan eksklusif," jelasnya.
Menurutnya, melalui pribumisasi, Islam dapat tumbuh subur dan inklusif tanpa harus memaksakan satu tafsir tunggal yang sering kali sempit dan tekstual. Inilah yang membedakan Islam di Indonesia, yang majemuk dan toleran, dengan wajah Islam di beberapa negara lain yang dipenuhi konflik.
Propaganda ekstrem kerap mempromosikan gagasan negara Islami dan menyebut Pancasila sebagai ideologi sekuler yang berlawanan dengan Islam. Zastrouw dengan tegas menolak narasi ini dan menawarkan argumen-argumen yang kuat untuk membuktikannya.
"Argumen pertama: adanya sila Ketuhanan. Sila ini mencerminkan bahwa Pancasila bukan sekuler karena sekularisme menolak penggunaan agama di ruang publik. Kedua, ada tafsir agama terhadap Pancasila. Dalam konteks masyarakat muslim, diturunkan ayat-ayat Alquran yang menjadi dasar dan sumber dari masing-masing sila," paparnya.
Bukti historis juga tak terbantahkan. Zastrouw menegaskan bahwa Pancasila adalah hasil ijtihad para ulama, kiai, dan tokoh agama. "Jadi, tidak mungkin sekuler," tambahnya.
Dengan demikian, Pancasila bukanlah musuh, melainkan kalimatun sawa (titik temu) yang sah dan etis untuk merealisasikan nilai-nilai Islam di ruang publik Indonesia.
Lihat Juga :