DPR: Tidak Benar Informasi BIN Bentuk Pasukan Khusus
Sabtu, 12 September 2020 - 15:53 WIB
loading...
A
A
A
“Perlunya rekrutmen dan pengembangan profesi dan kemampuan profesional personel intelijen yang tangguh dan yang memiliki keahlian khusus ini sejalan dengan perubahan, perkembangan situasi, dan kondisi lingkungan strategis, yang memang perlu melakukan deteksi dini dan peringatan dini terhadap berbagai bentuk dan sifat ancaman, baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang bersifat kompleks serta memiliki spektrum yang sangat luas,” ucap Evita.
Dikatakan, setiap warga STIN memiliki nilai dasar bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, nasionalisme, berintegritas, tangguh, profesional, setia, loyal, solid, semangat dan kerahasiaan. Mereka tangguh artinya memiliki sikap pantang menyerah, tabah dan kuat pendiriannya, dan profesional artinya memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehingga mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya seusai dengan profesi yang diembannya.
Karena itu, Evita Nursanty malah berharap, sistem rekrutmen dan sistem pelatihan keterampilan khusus ini bisa diterapkan di kampus lain yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan negara. “Justru kita senang BIN punya siswa dilatih keterampilan khusus, soft skill. Sistem ini bagus jika diterapkan di institusi pendidikan lain, seperti Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang sudah bertransformasi menjadi Politeknik Siber dan Sandi Negara atau Universitas Pertahanan. Setiap lulusan memang harus memiliki keahlian khusus.”
Evita juga menyambut sangat baik pengembangan program studi baru di STIN seperti Intelijen Medik, kemudian Intelijen Cyber, S-2 Intelijen Ekonomi maupun S3 Ilmu Intelijen Strategis. Itu semua sangat bagus sebagai antisipasi terhadap ancaman pada masa depan, dan bentuk pembaruan dan modernisasi untuk mewujudkan STIM sebagai kampus bertaraf internasional, memberikan kemampuan menghadapi tantangan dan ancaman NKRI.
Bahkan bukan hal yang mustahil alumni sekolah tinggi atau universitas yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan ini bisa mengabdi di berbagai institusi negara lainnya, karena mereka sudah dibekali dengan nasionalisme, cinta Tanah Air, loyal, kepribadian tangguh, bermoral tinggi, dan tentunya karena siswa pun memiliki keterampilan khusus tadi.
Dikatakan, setiap warga STIN memiliki nilai dasar bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, nasionalisme, berintegritas, tangguh, profesional, setia, loyal, solid, semangat dan kerahasiaan. Mereka tangguh artinya memiliki sikap pantang menyerah, tabah dan kuat pendiriannya, dan profesional artinya memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehingga mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya seusai dengan profesi yang diembannya.
Karena itu, Evita Nursanty malah berharap, sistem rekrutmen dan sistem pelatihan keterampilan khusus ini bisa diterapkan di kampus lain yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan negara. “Justru kita senang BIN punya siswa dilatih keterampilan khusus, soft skill. Sistem ini bagus jika diterapkan di institusi pendidikan lain, seperti Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN) yang sudah bertransformasi menjadi Politeknik Siber dan Sandi Negara atau Universitas Pertahanan. Setiap lulusan memang harus memiliki keahlian khusus.”
Evita juga menyambut sangat baik pengembangan program studi baru di STIN seperti Intelijen Medik, kemudian Intelijen Cyber, S-2 Intelijen Ekonomi maupun S3 Ilmu Intelijen Strategis. Itu semua sangat bagus sebagai antisipasi terhadap ancaman pada masa depan, dan bentuk pembaruan dan modernisasi untuk mewujudkan STIM sebagai kampus bertaraf internasional, memberikan kemampuan menghadapi tantangan dan ancaman NKRI.
Bahkan bukan hal yang mustahil alumni sekolah tinggi atau universitas yang berkaitan dengan intelijen pertahanan dan keamanan ini bisa mengabdi di berbagai institusi negara lainnya, karena mereka sudah dibekali dengan nasionalisme, cinta Tanah Air, loyal, kepribadian tangguh, bermoral tinggi, dan tentunya karena siswa pun memiliki keterampilan khusus tadi.
(cip)
Lihat Juga :