Desing Peluru di Tapal Batas
Senin, 15 September 2025 - 23:08 WIB
loading...
A
A
A
Perkawinan itu disertai penyerahan sebidang lahan untuk diolah kepada Suni Funit dan suaminya di titik Subina (Korbaffo, 2018). Sumber lain menyebutkan bahwa klaim masyarakat Inbate di titik Subina didasarkan pada adanya makam Suni Funit yang merupakan leluhur masyarakat Inbate.
Di era integrasi Timor Timur, titik Subina yang kini menjadi sengketa itu bukan persoalan serius, karena ada hubungan kekerabatan sesama Suku Atoni Meto. Ikatan persaudaraan terus berlanjut hingga tahun 1988, yang ditandai dengan penanaman pilar perbatasan Provinsi NTT dan Provinsi Timor Timur, yang dilakukan dengan mengikuti klaim masyarakat Ambenu, bahwa orang Bikomi dan orang Ambenu berasal dari rahim kultural yang sama.
Setelah Timor Leste terpisah dari Indonesia, soal tapal batas ini kemudian bermasalah, lantaran Provicional Agreement hanya semata-mata melihat mereka sebagai "benda-benda geografis" yang dapat diatur dengan sebuah traktat. Padahal, dalam hal wilayah yang mereka huni dan lahan pertanian yang mereka garap sejak dari zaman nenek moyang, tentulah ada wawasan historiografik dan kesadaran kultural yang tak bisa dikapling-kapling begitu saja oleh pendekatan teritorial atas nama kedaulatan negara.
Dalam beberapa aktivitas riset saya di Bikomi Utara, termasuk di sebuah kantor kepala desa yang berjarak kurang dari 1 km dari perbatasan dengan sub-distrik Passabe, Timor Leste, aparat desa, narasumber saya, datang terlambat. Tak tanggung-tanggung, 2 jam lebih. Tapi, keterlambatan itu rupanya tidak ia sengaja.
"Beliau sedang memenuhi undangan dari aparat suco (desa) di sebelah (Timor Leste). Mereka sedang merayakan ulang tahun kemerdekaan," jelas sekretaris desa yang menemani saya. Begitulah, saling mengundang antaraparat desa dari kedua negara, bukan hal yang asing di Bikomi, dan itu terus terjadi. Sekali lagi, karena ikatan persaudaraan sesama "orang Dawan" (pengguna bahasa lokal yang sama) tiada pernah retak, meski kini mereka sudah berbeda bendera.
Atmosfir budaya di tapal batas itulah yang tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian isu-isu perbatasan Indonesia-Timor Leste. Jika aspek-aspek kultural "manusia perbatasan" itu senantiasa diabaikan, maka korban seperti Paulus Taek Oki, boleh jadi akan bertambah dengan eskalasi gesekan yang barangkali lebih mengerikan...
Di era integrasi Timor Timur, titik Subina yang kini menjadi sengketa itu bukan persoalan serius, karena ada hubungan kekerabatan sesama Suku Atoni Meto. Ikatan persaudaraan terus berlanjut hingga tahun 1988, yang ditandai dengan penanaman pilar perbatasan Provinsi NTT dan Provinsi Timor Timur, yang dilakukan dengan mengikuti klaim masyarakat Ambenu, bahwa orang Bikomi dan orang Ambenu berasal dari rahim kultural yang sama.
Setelah Timor Leste terpisah dari Indonesia, soal tapal batas ini kemudian bermasalah, lantaran Provicional Agreement hanya semata-mata melihat mereka sebagai "benda-benda geografis" yang dapat diatur dengan sebuah traktat. Padahal, dalam hal wilayah yang mereka huni dan lahan pertanian yang mereka garap sejak dari zaman nenek moyang, tentulah ada wawasan historiografik dan kesadaran kultural yang tak bisa dikapling-kapling begitu saja oleh pendekatan teritorial atas nama kedaulatan negara.
Dalam beberapa aktivitas riset saya di Bikomi Utara, termasuk di sebuah kantor kepala desa yang berjarak kurang dari 1 km dari perbatasan dengan sub-distrik Passabe, Timor Leste, aparat desa, narasumber saya, datang terlambat. Tak tanggung-tanggung, 2 jam lebih. Tapi, keterlambatan itu rupanya tidak ia sengaja.
"Beliau sedang memenuhi undangan dari aparat suco (desa) di sebelah (Timor Leste). Mereka sedang merayakan ulang tahun kemerdekaan," jelas sekretaris desa yang menemani saya. Begitulah, saling mengundang antaraparat desa dari kedua negara, bukan hal yang asing di Bikomi, dan itu terus terjadi. Sekali lagi, karena ikatan persaudaraan sesama "orang Dawan" (pengguna bahasa lokal yang sama) tiada pernah retak, meski kini mereka sudah berbeda bendera.
Atmosfir budaya di tapal batas itulah yang tidak dipertimbangkan dalam penyelesaian isu-isu perbatasan Indonesia-Timor Leste. Jika aspek-aspek kultural "manusia perbatasan" itu senantiasa diabaikan, maka korban seperti Paulus Taek Oki, boleh jadi akan bertambah dengan eskalasi gesekan yang barangkali lebih mengerikan...
(shf)
Lihat Juga :