Akulturasi Tiga Budaya Ras Ini Warnai Peradaban Bangsa Indonesia
Jum'at, 11 September 2020 - 08:14 WIB
loading...
A
A
A
Ditambah lagi perpaduan dengan budaya lain, Palembang semakin beragam. Dua kuliner yang paling terkenal di antara yang lainnya adalah pempek yang merupakan hasil akulturasi budaya dengan China. Dan nasi minyak yang merupakan asimilasi budaya dengan Arab. Dikutip dari cateringdipalembang.com , berikut ulasan singkat sejara kuliner Palembang.
Singkat cerita, sekitar tahun 682 Masehi, Palembang kala itu masih dikuasai oleh salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara yakni Sriwijaya. Kerajaan yang pernah menjadi terbesar di Nusantara itu memiliki hubungan yang baik dengan para pedagang yang menjual berbagai dagangan seperti emas hingga rempah, termasuk dari Tiongkok atau China.
Meski akhirnya Sriwijaya runtuh, Palembang dan China terus berhubungan dan menghasilkan banyak akulturasi budaya, termasuk pada makanannya. Pempek telah ada sejak era Kesultanan Palembang yang juga dikenal dengan Palembang Darussalam. Makanan ini merupakan hasil asimilasi budaya dengan China. Kala itu para pedagang China datang ke Nusantara membawa dimsum sebagai bekalnya.
Tetapi karena bahan dasar daging dimsum yang dibawa oleh para pedagangn China ini tidak halal untuk dikonsumsi, masyarakat Palembang yang sebagian besar beragama Islam mencari alternatif lain. Secara geografis, wilayah yang terkenal dengan Jembatan Ampera ini memang terkenal sebagai penghasil ikan dan tepung tapioka. Alhasil, masyarakat Melayu lokal mengadopsi dimsum menjadi makanan lokal dengan bahan tersebut yang diberi nama dengan 'kelesan'.
Tanpa diduga, kuliner hasil akulturasi dua budaya tersebut digemari oleh banyak orang. Perlahan namun pasti kelesan menjadi komoditas pasar dan dijual oleh pedagang lokal ataupun China. Sementara asal mula kelesan ini berubah menjadi pempek, karena pada tahun 1910-an banyak sekali penjual kelesan orang China yang telah berumur yang biasa disebut dengan 'apek'.
Singkat cerita, sekitar tahun 682 Masehi, Palembang kala itu masih dikuasai oleh salah satu kerajaan maritim terkuat di Nusantara yakni Sriwijaya. Kerajaan yang pernah menjadi terbesar di Nusantara itu memiliki hubungan yang baik dengan para pedagang yang menjual berbagai dagangan seperti emas hingga rempah, termasuk dari Tiongkok atau China.
Meski akhirnya Sriwijaya runtuh, Palembang dan China terus berhubungan dan menghasilkan banyak akulturasi budaya, termasuk pada makanannya. Pempek telah ada sejak era Kesultanan Palembang yang juga dikenal dengan Palembang Darussalam. Makanan ini merupakan hasil asimilasi budaya dengan China. Kala itu para pedagang China datang ke Nusantara membawa dimsum sebagai bekalnya.
Tetapi karena bahan dasar daging dimsum yang dibawa oleh para pedagangn China ini tidak halal untuk dikonsumsi, masyarakat Palembang yang sebagian besar beragama Islam mencari alternatif lain. Secara geografis, wilayah yang terkenal dengan Jembatan Ampera ini memang terkenal sebagai penghasil ikan dan tepung tapioka. Alhasil, masyarakat Melayu lokal mengadopsi dimsum menjadi makanan lokal dengan bahan tersebut yang diberi nama dengan 'kelesan'.
Tanpa diduga, kuliner hasil akulturasi dua budaya tersebut digemari oleh banyak orang. Perlahan namun pasti kelesan menjadi komoditas pasar dan dijual oleh pedagang lokal ataupun China. Sementara asal mula kelesan ini berubah menjadi pempek, karena pada tahun 1910-an banyak sekali penjual kelesan orang China yang telah berumur yang biasa disebut dengan 'apek'.
Lihat Juga :