Ledakan Aksi Massa di Penghujung Agustus, dari Ketidakadilan Struktural, Beban Hidup, dan Tragedi Affan

Sabtu, 30 Agustus 2025 - 14:50 WIB
loading...
Ledakan Aksi Massa di...
Syaifudin, Dosen FISH UNJ. Foto/Dok Pribadi.
A A A
Syaifudin

Dosen FISH UNJ

Aksi massa bukan sekadar ledakan spontan, melainkan hasil akumulasi panjang dari ketidakadilan struktural, ketegangan sosial, dan lemahnya saluran institusional untuk menyalurkan aspirasi. Dalam konteks Indonesia di penghujung Agustus 2025, rangkaian demonstrasi mahasiswa dan masyarakat pada tanggal 25, 28, dan 29 Agustus hingga berlanjut pada hari-hari berikutnya merefleksikan kondisi sosial yang semakin rapuh.

Aksi-aksi ini berangkat dari rasa frustrasi terhadap gaya hidup elite politik, meningkatnya beban ekonomi akibat pajak, tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga peristiwa tragis pelindasan seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, yang melibatkan oknum aparat. Kesemuanya membentuk spiral grievance (akumulasi keluhan) yang pada akhirnya meledak dalam bentuk demonstrasi bahkan tindakan anarkis.

Salah satu pemicu kuat ketegangan adalah kontras tajam antara fasilitas anggota DPR dengan kondisi rakyat. Anggota legislatif kerap diberitakan mendapat tunjangan, fasilitas perjalanan dinas, rumah dinas, hingga jaminan kesehatan premium.

Sementara itu, masyarakat dihadapkan pada kenaikan pajak, harga kebutuhan pokok yang melonjak, dan ongkos hidup perkotaan yang kian mencekik. Dalam perspektif teori konflik Marxian, kondisi ini menggambarkan relasi asimetris antara kelas penguasa (ruling class) yang menguasai sumber daya dengan masyarakat pekerja yang semakin terpinggirkan. Ketimpangan tersebut bukan hanya dalam hal ekonomi, melainkan juga akses terhadap keadilan sosial.

Tidak mengherankan bila kabar beberapa anggota DPR justru melakukan perjalanan ke luar negeri pada tanggal 29 Agustus 2025, di tengah situasi panas aksi massa, dianggap sebagai simbol ketidakpekaan politik. Ketidakhadiran mereka pada saat rakyat menuntut kejelasan dan empati dianggap sebagai bentuk political alienation atau jarak antara wakil rakyat dengan realitas yang dihadapi rakyat itu sendiri.

Selain persoalan politik, masyarakat menghadapi beban ekonomi yang kian berat. Kenaikan tarif pajak, harga pangan, dan biaya transportasi publik menambah tekanan terhadap rumah tangga kelas menengah ke bawah. Bersamaan dengan itu, fenomena PHK massal di berbagai sektor industri memperbesar jumlah pengangguran terbuka.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Presiden Prabowo: Saya...
Presiden Prabowo: Saya Tahu Siapa yang Bayar Demo
Garda Prabowo: Penyampaian...
Garda Prabowo: Penyampaian Mahasiswa dalam Aksi Demonstrasi Kurang Beradab
Ubedilah Badrun Bongkar...
Ubedilah Badrun Bongkar Upaya Pembelahan Gerakan Mahasiswa
Ubedilah Badrun Sebut...
Ubedilah Badrun Sebut Gerakan Mahasiswa Murni, Tidak Ditunggangi Kepentingan Politis
Dasco Ungkap Pimpinan...
Dasco Ungkap Pimpinan DPR akan Temui Mahasiswa Besok
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
APDSI dan PPPK Aksi...
APDSI dan PPPK Aksi Damai, Tuntut Pemenuhan Hak serta Gaji ke-13
Mahasiswa Kembali Turun...
Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan, Bawa 3 Tuntutan
4.132 Personel Gabungan...
4.132 Personel Gabungan Dikerahkan Kawal Aksi Demo Mahasiswa di Monas
Rekomendasi
Iran Ungkap Radar AS...
Iran Ungkap Radar AS Mengalami Malam Gelap akibat Serangan Rudal
IHSG Ditutup Melemah...
IHSG Ditutup Melemah ke 6.315, 309 Saham Berakhir di Zona Merah
3 Warga Sipil Tewas...
3 Warga Sipil Tewas Ditembak OPM, Koops TNI Habema Buru para Pelaku
Berita Terkini
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas soal Kopdes Merah Putih, Gibran Duduk di Sebelah Kirinya
Dokter Tifa Klaim Simpan...
Dokter Tifa Klaim Simpan Bukti Kejanggalan Ijazah Jokowi Meski Eksepsinya Diterima
Sudaryono Jadi Kepala...
Sudaryono Jadi Kepala BGN, Aktivis 98 Yakin Program MBG Jadi Lebih Baik
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
Hakim Kabulkan Eksepsi...
Hakim Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Khozinudin Sebut Tidak Ada Kejelasan tentang Ijazah Jokowi
Kejagung: Jadi Deputi...
Kejagung: Jadi Deputi di BGN, Ketut Sumedana Tak Lagi Jabat Kajati Sumsel
Infografis
Waspada! 4 Makanan Ini...
Waspada! 4 Makanan Ini Bisa Picu Kesemutan di Tangan dan Kaki
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved