Transformasi Digital Kesehatan di Indonesia Hadapi Tantangan Geografis
Kamis, 28 Agustus 2025 - 17:52 WIB
loading...
Transformasi digital kesehatan di Indonesia mengalami tantangan geografis dan kesenjangan infrastruktur. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Transformasi digital kesehatan di Indonesia memasuki fase penting dengan semakin kuatnya inisiatif pemerintah melalui Satusehat dan BPJS Kesehatan. Namun, tantangan geografis, tingkat literasi digital yang beragam, hingga kesenjangan infrastruktur masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Regional Managing Director Asia Pacific, InterSystems, Luciano Brustia mengatakan, Indonesia dapat belajar dari praktik global sambil mengembangkan solusi yang sesuai dengan konteks lokal.
“Indonesia telah membuat kemajuan signifikan dalam digitalisasi kesehatan, namun masih menghadapi ketimpangan antarwilayah. Dibandingkan negara yang lebih kecil dan terpusat seperti Singapura atau Malaysia, Indonesia menghadapi fragmentasi infrastruktur dan kesenjangan akses,” ujar Luciano, Kamis (28/8/2025).
Baca juga: Digitalisasi dan Teknologi Jadi Senjata Ampuh Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Solusi untuk tantangan ini adalah membangun fondasi data kesehatan yang bersih, terpercaya, dan dapat diakses lintas sistem. “Dengan data yang tersedia kapan pun dan di mana pun dibutuhkan, keputusan medis bisa lebih cepat, efisien, dan tepat sasaran,” jelasnya.
InterSystems menekankan pentingnya kolaborasi lokal. “Kami bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan dan perusahaan teknologi lokal untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya berkelas dunia, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan unik Indonesia,” kata Luciano.
Salah satu contoh nyata adalah EMC Healthcare, yang mengadopsi IntelliCare EHR untuk memodernisasi operasional serta menyediakan dukungan keputusan berbasis AI bagi para klinisi. Contoh lainnya, Bali International Hospital, yang mengimplementasikan TrakCare sebagai fondasi bagi fasilitas kelas dunia terbarunya. InterSystems juga bermitra dengan Prodia, Pondok Indah Group, Eka Hospital, hingga laboratorium dan penyedia EMR lokal seperti Zi.care.
Baca juga: 7 Brigjen Naik Pangkat usai Dapat Promosi Jabatan Agustus 2025, Berikut Ini Daftarnya
Salah satu tantangan besar di Indonesia adalah memastikan digitalisasi tidak hanya dinikmati rumah sakit besar di perkotaan. “Kami percaya transformasi digital harus inklusif,” kata Luciano.
InterSystems menghadirkan model yang memungkinkan rumah sakit kecil dan penyedia layanan di daerah tetap bisa terhubung dengan sistem nasional tanpa biaya yang berlebihan.
Di tengah meningkatnya ancaman siber terhadap data kesehatan, Luciano menegaskan pentingnya pendekatan keamanan berlapis yang mencakup enkripsi, audit trail, dan kepatuhan global seperti HIPAA, GDPR, hingga ISO/IEC 27001.
Mengenai AI, Luciano menegaskan teknologi ini bukan pengganti, melainkan asisten digital bagi dokter. “AI di desain sebagai co-pilot, membantu dokter mengambil keputusan lebih cepat dan aman, tetapi kendali penuh tetap ada di tangan klinisi,” tegasnya.
Dengan kombinasi praktik global, kolaborasi lokal, dan komitmen pada keamanan serta etika, transformasi digital kesehatan Indonesia diyakini dapat mempercepat akses, efisiensi, dan kualitas layanan bagi seluruh masyarakat.
Regional Managing Director Asia Pacific, InterSystems, Luciano Brustia mengatakan, Indonesia dapat belajar dari praktik global sambil mengembangkan solusi yang sesuai dengan konteks lokal.
“Indonesia telah membuat kemajuan signifikan dalam digitalisasi kesehatan, namun masih menghadapi ketimpangan antarwilayah. Dibandingkan negara yang lebih kecil dan terpusat seperti Singapura atau Malaysia, Indonesia menghadapi fragmentasi infrastruktur dan kesenjangan akses,” ujar Luciano, Kamis (28/8/2025).
Baca juga: Digitalisasi dan Teknologi Jadi Senjata Ampuh Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Solusi untuk tantangan ini adalah membangun fondasi data kesehatan yang bersih, terpercaya, dan dapat diakses lintas sistem. “Dengan data yang tersedia kapan pun dan di mana pun dibutuhkan, keputusan medis bisa lebih cepat, efisien, dan tepat sasaran,” jelasnya.
InterSystems menekankan pentingnya kolaborasi lokal. “Kami bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan dan perusahaan teknologi lokal untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya berkelas dunia, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan unik Indonesia,” kata Luciano.
Salah satu contoh nyata adalah EMC Healthcare, yang mengadopsi IntelliCare EHR untuk memodernisasi operasional serta menyediakan dukungan keputusan berbasis AI bagi para klinisi. Contoh lainnya, Bali International Hospital, yang mengimplementasikan TrakCare sebagai fondasi bagi fasilitas kelas dunia terbarunya. InterSystems juga bermitra dengan Prodia, Pondok Indah Group, Eka Hospital, hingga laboratorium dan penyedia EMR lokal seperti Zi.care.
Baca juga: 7 Brigjen Naik Pangkat usai Dapat Promosi Jabatan Agustus 2025, Berikut Ini Daftarnya
Salah satu tantangan besar di Indonesia adalah memastikan digitalisasi tidak hanya dinikmati rumah sakit besar di perkotaan. “Kami percaya transformasi digital harus inklusif,” kata Luciano.
InterSystems menghadirkan model yang memungkinkan rumah sakit kecil dan penyedia layanan di daerah tetap bisa terhubung dengan sistem nasional tanpa biaya yang berlebihan.
Di tengah meningkatnya ancaman siber terhadap data kesehatan, Luciano menegaskan pentingnya pendekatan keamanan berlapis yang mencakup enkripsi, audit trail, dan kepatuhan global seperti HIPAA, GDPR, hingga ISO/IEC 27001.
Mengenai AI, Luciano menegaskan teknologi ini bukan pengganti, melainkan asisten digital bagi dokter. “AI di desain sebagai co-pilot, membantu dokter mengambil keputusan lebih cepat dan aman, tetapi kendali penuh tetap ada di tangan klinisi,” tegasnya.
Dengan kombinasi praktik global, kolaborasi lokal, dan komitmen pada keamanan serta etika, transformasi digital kesehatan Indonesia diyakini dapat mempercepat akses, efisiensi, dan kualitas layanan bagi seluruh masyarakat.
(cip)
Lihat Juga :