Generasi Muda Didorong Ikuti Jejak Emil Salim Konsisten Bela Masa Depan Bumi
Rabu, 30 Juli 2025 - 23:36 WIB
loading...
A
A
A
SIL UI, yang didirikan pada 2016, telah berkembang menjadi institusi pendidikan tinggi yang banyak terlibat dalam menjawab persoalan lingkungan melalui riset terapan, kolaborasi dengan industri, dan advokasi berbasis sains. Dalam sembilan tahun terakhir, lembaga ini membangun jejaring strategis lintas sektor untuk mendukung transisi menuju pembangunan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Penghargaan kepada Emil Salim dinilai sebagai penegasan komitmen SIL UI untuk menjadikan nilai-nilai intelektual dan etika publik sebagai pijakan utama pengembangan ilmu lingkungan. “Kami tidak ingin berhenti pada seremoni. Ini adalah undangan terbuka bagi semua pihak untuk bergerak bersama membangun masa depan yang lebih lestari,” pungkas Supriatna.
Direktur SIL UI Supriatna menuturkan, penghargaan ini bukan sekadar simbolik, melainkan juga refleksi atas warisan intelektual dan moral yang ditinggalkan Emil Salim. “Tanpa Prof. Emil Salim, gerakan lingkungan hidup di Indonesia tidak akan memiliki fondasi kuat seperti sekarang. Pemikiran dan keberanian beliau menjadi inspirasi dalam pengembangan ilmu lingkungan di Tanah Air,” kata Supriatna dalam sambutannya di Soehana Hall, The Energy Building, Jakarta.
Dia menjelaskan, kontribusi Emil Salim melampaui ranah akademik. Bahkan dikenal sebagai arsitek utama kebijakan lingkungan hidup nasional, sekaligus sosok yang konsisten menjembatani dunia ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kepentingan masyarakat. "Kami ingin menjadikan momen ini sebagai panggung kolaborasi antarpihak untuk menjawab tantangan lingkungan hidup secara konkret dan ilmiah,” ujarnya.
Acara yang dihadiri oleh kalangan akademisi, pelaku industri, pembuat kebijakan, serta perwakilan lembaga internasional ini dirangkai dengan forum interaktif, seminar, dan pameran yang menampilkan kiprah SIL UI dalam riset dan pengembangan kebijakan lingkungan. Sejumlah tokoh hadir dalam acara ini, antara lain Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Diaz Hendropriyono, Rektor Universitas Indonesia Heri Hermansyah, dan Sekretaris SKK Migas Luky Yusgiantoro.
Penghargaan kepada Emil Salim dinilai sebagai penegasan komitmen SIL UI untuk menjadikan nilai-nilai intelektual dan etika publik sebagai pijakan utama pengembangan ilmu lingkungan. “Kami tidak ingin berhenti pada seremoni. Ini adalah undangan terbuka bagi semua pihak untuk bergerak bersama membangun masa depan yang lebih lestari,” pungkas Supriatna.
Direktur SIL UI Supriatna menuturkan, penghargaan ini bukan sekadar simbolik, melainkan juga refleksi atas warisan intelektual dan moral yang ditinggalkan Emil Salim. “Tanpa Prof. Emil Salim, gerakan lingkungan hidup di Indonesia tidak akan memiliki fondasi kuat seperti sekarang. Pemikiran dan keberanian beliau menjadi inspirasi dalam pengembangan ilmu lingkungan di Tanah Air,” kata Supriatna dalam sambutannya di Soehana Hall, The Energy Building, Jakarta.
Dia menjelaskan, kontribusi Emil Salim melampaui ranah akademik. Bahkan dikenal sebagai arsitek utama kebijakan lingkungan hidup nasional, sekaligus sosok yang konsisten menjembatani dunia ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan kepentingan masyarakat. "Kami ingin menjadikan momen ini sebagai panggung kolaborasi antarpihak untuk menjawab tantangan lingkungan hidup secara konkret dan ilmiah,” ujarnya.
Acara yang dihadiri oleh kalangan akademisi, pelaku industri, pembuat kebijakan, serta perwakilan lembaga internasional ini dirangkai dengan forum interaktif, seminar, dan pameran yang menampilkan kiprah SIL UI dalam riset dan pengembangan kebijakan lingkungan. Sejumlah tokoh hadir dalam acara ini, antara lain Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Diaz Hendropriyono, Rektor Universitas Indonesia Heri Hermansyah, dan Sekretaris SKK Migas Luky Yusgiantoro.
(rca)
Lihat Juga :