Anak Buruh Tani Siswi Sekolah Rakyat Blora Juara Lomba Menulis Surat untuk Presiden
Senin, 28 Juli 2025 - 07:36 WIB
loading...
Nuril Istiqomah, siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 18 Blora, Jawa Tengah yang belum genap 10 hari berdiri menjadi pemenang lomba menulis Surat untuk Presiden. Foto/Ist
A
A
A
BLORA - Sekolah Rakyat Menengah Atas 18 Blora, Jawa Tengah yang belum genap 10 hari berdiri menorehkan prestasi. Salah satu siswinya, Nuril Istiqomah (15) berhasil menjadi pemenang dalam lomba menulis “Surat untuk Presiden” kategori SMA/SMK/MA yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Blora.
Dari tangan kecilnya, lahir sebuah surat yang menyentuh hati. Dengan penuh ketulusan, Nuril menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Isinya ucapan terima kasih atas hadirnya Sekolah Rakyat yang menurutnya sangat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Baca juga: Tangis Pecah, Akbar Berjuang Raih Mimpi Jadi Tentara di Sekolah Rakyat
“Isi suratnya tentang terima kasih kepada pak Presiden atas Sekolah Rakyat ini, karena telah membantu orang yang kurang mampu,” ujar Nuril dikutip Senin (28/7/2028).
Nuril juga menceritakan bahwa ia tidak menyangka dari 46 peserta, berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Pasalnya ia sendiri baru menyelesaikan suratnya di hari terakhir pendaftaran. “Waktu menulis suratnya kira-kira satu jam dan itu saya yang terakhir mengumpulkan,” tuturnya.
Proses mengikuti perlombaan tidak terlepas dari peran Guru dan Tenaga Pendidik di sekolah terutama Kepala Sekolah, Tri Yuli Setyoningrum. Perannya begitu besar dalam keberhasilan Nuril meraih prestasinya.
Yuli, sapaan akrabnya yang mendorong Nuril mengikuti lomba tersebut. Bukan hanya Nuril, bahkan seluruh siswa di SRMA 18 Blora diminta oleh Yuli untuk menulis surat.
Baca juga: Masa Pengenalan Sekolah Rakyat Digelar 2 Minggu
Berawal dari melihat postingan di Instagram Perpustakaan Blora, Yuli memberikan informasi tersebut kepada bagian kesiswaan sekolah untuk dibagikan kepada siswa-siswi disana.
“Karena kami siswanya ada 50, anak-anak itu disuruh untuk membuat (Surat Untuk Presiden) semua, kemudian kami pilih yang bagus dan kami kirimkan,” ujar Yuli.
Prestasi Nuril menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi pihak sekolah. Yuli menilai capaian tersebut mampu menjadi pemicu semangat dan motivasi bagi siswa lain untuk dapat berprestasi.
“Saya senang sekali ya, karena belum genap 10 hari kan kemarin itu, tapi anak saya ternyata sudah ada yang berprestasi. Dan anaknya juga support, maksudnya memang punya keinginan untuk berprestasi. Jadi saya senang sekali,” ungkapnya.
Yuli juga menyampaikan apresiasinya kepada Nuril atas pencapaiannya dan membawa nama baik SRMA 18. Tidak hanya menjadi pemenang dalam lomba menulis surat, Nuril juga mendapatkan tawaran dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora untuk menjadi MC dalam peringatan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Blora pada Sabtu (26/7/2025).
Nuril adalah bungsu dari dua bersaudara. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani, bukan di sawah milik sendiri melainkan milik orang lain.
Penghasilan yang tidak menentu menjadi hambatan dalam meraih pendidikannya. Kakaknya dulu hanya bisa menyelesaikan jenjang SMK karena dibiayai oleh saudara orangtuanya.
Kini, kesempatan meraih pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi Nuril. Sekolah berasrama yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas secara gratis.
Bagi Nuril, surat itu bukan hanya tentang lomba, tetapi cara untuk menyampaikan harapannya. Ia menulis dengan hati, berharap Sekolah Rakyat bisa terus ada dan membantu lebih banyak anak seperti dirinya. Nuril menunjukkan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari hal sederhana, dari selembar surat dan keberanian untuk bersuara.
Dari tangan kecilnya, lahir sebuah surat yang menyentuh hati. Dengan penuh ketulusan, Nuril menulis surat yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto. Isinya ucapan terima kasih atas hadirnya Sekolah Rakyat yang menurutnya sangat membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Baca juga: Tangis Pecah, Akbar Berjuang Raih Mimpi Jadi Tentara di Sekolah Rakyat
“Isi suratnya tentang terima kasih kepada pak Presiden atas Sekolah Rakyat ini, karena telah membantu orang yang kurang mampu,” ujar Nuril dikutip Senin (28/7/2028).
Nuril juga menceritakan bahwa ia tidak menyangka dari 46 peserta, berhasil memenangkan perlombaan tersebut. Pasalnya ia sendiri baru menyelesaikan suratnya di hari terakhir pendaftaran. “Waktu menulis suratnya kira-kira satu jam dan itu saya yang terakhir mengumpulkan,” tuturnya.
Proses mengikuti perlombaan tidak terlepas dari peran Guru dan Tenaga Pendidik di sekolah terutama Kepala Sekolah, Tri Yuli Setyoningrum. Perannya begitu besar dalam keberhasilan Nuril meraih prestasinya.
Yuli, sapaan akrabnya yang mendorong Nuril mengikuti lomba tersebut. Bukan hanya Nuril, bahkan seluruh siswa di SRMA 18 Blora diminta oleh Yuli untuk menulis surat.
Baca juga: Masa Pengenalan Sekolah Rakyat Digelar 2 Minggu
Berawal dari melihat postingan di Instagram Perpustakaan Blora, Yuli memberikan informasi tersebut kepada bagian kesiswaan sekolah untuk dibagikan kepada siswa-siswi disana.
“Karena kami siswanya ada 50, anak-anak itu disuruh untuk membuat (Surat Untuk Presiden) semua, kemudian kami pilih yang bagus dan kami kirimkan,” ujar Yuli.
Prestasi Nuril menjadi sumber kebanggaan tersendiri bagi pihak sekolah. Yuli menilai capaian tersebut mampu menjadi pemicu semangat dan motivasi bagi siswa lain untuk dapat berprestasi.
“Saya senang sekali ya, karena belum genap 10 hari kan kemarin itu, tapi anak saya ternyata sudah ada yang berprestasi. Dan anaknya juga support, maksudnya memang punya keinginan untuk berprestasi. Jadi saya senang sekali,” ungkapnya.
Yuli juga menyampaikan apresiasinya kepada Nuril atas pencapaiannya dan membawa nama baik SRMA 18. Tidak hanya menjadi pemenang dalam lomba menulis surat, Nuril juga mendapatkan tawaran dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Blora untuk menjadi MC dalam peringatan Hari Anak Nasional tingkat Kabupaten Blora pada Sabtu (26/7/2025).
Nuril adalah bungsu dari dua bersaudara. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai buruh tani, bukan di sawah milik sendiri melainkan milik orang lain.
Penghasilan yang tidak menentu menjadi hambatan dalam meraih pendidikannya. Kakaknya dulu hanya bisa menyelesaikan jenjang SMK karena dibiayai oleh saudara orangtuanya.
Kini, kesempatan meraih pendidikan di Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi Nuril. Sekolah berasrama yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem untuk mendapatkan akses pendidikan berkualitas secara gratis.
Bagi Nuril, surat itu bukan hanya tentang lomba, tetapi cara untuk menyampaikan harapannya. Ia menulis dengan hati, berharap Sekolah Rakyat bisa terus ada dan membantu lebih banyak anak seperti dirinya. Nuril menunjukkan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari hal sederhana, dari selembar surat dan keberanian untuk bersuara.
(shf)
Lihat Juga :