Menanti Langkah Wapres Gibran Menyelesaikan Konflik Papua

Selasa, 22 Juli 2025 - 08:00 WIB
loading...
A A A
Indonesia harus memberikan contoh di dunia internasional sebagai negara yang dapat menyesaikan konflik vertikal dalam negeri dengan cara dialog damai, bukan dengan menggunakan kekuatan senjata, sebagaimana yang dilakukan oleh Presiden SBY dan Wapres JK dalam menyelesaikan kasus GAM di Aceh, yakni lewat Perjanjian Helsinki.

Rencana penunjukan Wapres Gibran Rakabuming Raka oleh Presiden Prabowo untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua, sebagaimana penjelasan Menteri Kordinator Bidang Hukum, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra, membawa secercah harapan akan perdamaian di Papua. Namun, publik banyak yang meragukan kemampuan Wapres Gibran dalam merintis proses perdamaian di Papua, mengingat Wapres Gibran memiliki jam terbang terbatas dalam pemerintahan dan pengalaman politik.

Gibran berbeda dengan JK, yang sejak menjadi mahasiswa di Unhas Makasar, telah menjadi aktivis kampus memiliki pengaruh politik yang dibangun dari bawah, dari HMI dan berbagai organisasi politik dan kemanusiaan. JK berpengalaman berulang kali menduduki jabatan di pemerintahan. JK juga memiliki kemampuan komunikasi dan lobi yang luar biasa. Ini bisa dilihat saat berhasil mendamaikan kelompok yang bertikai di Ambon, Poso, dan Aceh.

Baca Juga: Gibran Ditugaskan Prabowo Tangani Papua, Jokowi: Wapres Harus Siap

Rencana penunjukan Wapres Gibran dalam menyelesaikan permasalahan di Papua di satu sisi menunjukkan Presiden Prabowo mempercayai kemampuannya dalam menyelesaikan permasahan bangsa yang terbilang rumit. Namun, satu sisi lainnya tugas ini bisa jadi adalah ujian kepada Wapres Gibran apakah dapat menyelesaikan berbagai permasalahan dan dapat mendamaikan konflik di Papua.

Jika Wapres Gibran berhasil menyelesaikan berbagai permasalahan di Papua, terutama menyelesaikan permasalahan gerakan separatis OPM, rumor yang merendahkan kemampuan Wapres Giran dalam memimpin negara Indonesia yang sangat multikultural terbantahkan. Sebaliknya, jika Wapres Gibran gagal menyelesaikan masalah Papua, terutama menghentikan konflik, stigma publik akan semakin kuat bahwa Wapres Gibran terlalu muda, belum memiliki jam terbang yang cukup untuk memimpin negara sebesar Indonesia yang memiliki keragaman budaya, agama, dan sejarah konflik yang panjang.

Konflik di Papua mestinya ditangani secara serius, fokus, dan terencana. Kalau tidak, membuka kemungkinan Papua ke depan akan seperti Timor timur, merdeka dari Indonesia. Berbagai negara besar sejak lama memiliki kepentingan untuk menguasai Papua, mengingat Papua memiliki sumber daya alam yang melimpah, dan memiliki kedudukan geo politik yang strategis.

Presiden Soekarno, Jenderal AH Nasution, dan Adam Malik lihai memainkan isu dalam diplomasi internasional, memanfaatkan momentum Perang Dingin antara dua negara adikuasa Amerika Serikat dan Rusia. Kalau tidak, mungkinPapua sudah menjadi negara merdeka atau Papua menjadi bagian dari Belanda dan Australia.

Tulisan hasil observasi dari peneliti Australia Herbert Feith menyatakan, saat konflik perebutan Irian Barat (Papua) lagi memanas, Australia sangat menginginkan Irian Barat yang saat itu dikuasai oleh Belanda diserahkan kepada Australia. Dari aspek geopolitik, Australia yang dikuasai oleh ras kulit putih merasa tidak nyaman bertetangga langsung dengan Indonesia. Bergabungnya Irian Barat ke wilayah Indonesia, menyebaban Australia merasa terancam dari aspek keamanan kawasan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ketua BEM FH Abdimaludin...
Ketua BEM FH Abdimaludin Akui Terima Uang Rp20 Juta dari Alumni, Diberikan oleh Polisi
Ketua BEM FH UBK yang...
Ketua BEM FH UBK yang Bertemu Gibran Ngaku Terima Uang Rp20 Juta, Wamensesneg: Nanti Saya Monitor Dulu
Mahasiswa UBK Desak...
Mahasiswa UBK Desak Pengurus BEM yang Bertemu Gibran Mundur dari Jabatan karena Diduga Terima Uang
Libatkan Mahasiswa saat...
Libatkan Mahasiswa saat Kunker, Gibran Dinilai Perkuat Dialog dan Partisipasi Publik
Gibran Ajak Mahasiswa...
Gibran Ajak Mahasiswa Kunker ke Ende hingga Papua
Usai Temui Jokowi, IKA...
Usai Temui Jokowi, IKA BEM Nusantara Akan Bertemu Gibran, Bahas Apa?
Digas Wapres Gibran...
Digas Wapres Gibran di Papua, Ini Spesifikasi Yadea Velax H
7 Tahun Warga Mengungsi,...
7 Tahun Warga Mengungsi, Leri Gwijangge Desak Pemerintah Akhiri Krisis Kemanusiaan di Nduga
Perlindungan Warga Sipil...
Perlindungan Warga Sipil Jadi Kunci Keberlanjutan Pembangunan Papua
Rekomendasi
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Peserta Jumtek PMR-Relawan...
Peserta Jumtek PMR-Relawan Antusias Adu Tangkas Tandu Darurat hingga Belajar Bahasa Isyarat
Portugal Difavoritkan,...
Portugal Difavoritkan, Ronaldo Dituntut Pecah Telur
Berita Terkini
Asfinawati: Ujaran Kebencian...
Asfinawati: Ujaran Kebencian dalam HAM Menyangkut Ras hingga Agama Bukan Orang per Orang
UBK Keluarkan 9 Poin...
UBK Keluarkan 9 Poin Pernyataan usai Ketua BEM FH Abdimaludin Terima Uang Rp20 Juta
Haul Akbar Ploso, Gus...
Haul Akbar Ploso, Gus Muhaimin: Jangan Hanya Menonton, Santri Harus Jadi Solusi Bangsa
Tiyo UGM Dilaporkan...
Tiyo UGM Dilaporkan ke Polisi, Ray Rangkuti: Harusnya Orang Jahat yang Dihukum Bukan yang Berpikir
Berkas Perkara Roy Suryo...
Berkas Perkara Roy Suryo dan Dokter Tifa Dilimpahkan ke PN Jakarta Timur
Berkas Perkara 3 Pejabat...
Berkas Perkara 3 Pejabat Bea Cukai Dilimpahkan ke Pengadilan, Segera Disidang
Infografis
11 Bandara Papua Ditutup...
11 Bandara Papua Ditutup Sementara Imbas Penembakan Pesawat Smart Air
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved