Memahami Pendekatan Luar Negeri Prabowo: Refleksi Lawatan ke LN

Jum'at, 18 Juli 2025 - 18:56 WIB
loading...
A A A
Pertama, tarif dagang barang yang masuk dari Indonesia ke Amerika Serikat dapat diturunkan dari 32% ke 19%. Kedua, kesepakatan ini diikat dengan Indonesia yang harus mengorientasikan negaranya untuk membeli dan menggunakan produk-produk dari Amerika Serikat.

Kesepakatan ini tentu saja bersifat multidimensi, sehingga membutuhkan banyak perspektif untuk mendapatkan gambaran yang lebih holistik. Namun, yang menjadi menarik perhatian penulis dari kegiatan kunjungan luar negeri ini adalah saat Prabowo memutuskan untuk bertolak ke Uni Eropa terlebih dahulu untuk mengamankan kesepakatan bebas tarif dengan Eropa sebelum tercapainya kesepakatan dengan Washington.

Jika kita memberikan fokus lebih pada kegiatan pertemuan dengan Uni Eropa khususnya dalam Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), maka hal ini dapat kita cermati sebagai upaya aktif Indonesia untuk menyeimbangan bisingnya ketidakpastian isu tarif perdagangan global yang diperkarai secara oleh Amerika Serikat. Selain kesepakatan ini menguatkan perdagangan antara Indonesia dengan negara anggota Uni Eropa dengan tarif 0%, Uni Eropa dapat membantu Indonesia dalam proses demokratisasi, transparansi, serta standarisasi produk layak ekspor Indonesia.

Kita juga bisa membahasakan upaya Indonesia bertolak ke Eropa sebagai bentuk protes kita terhadap Amerika Serikat dengan kebijakan tarifnya. Ketidakpastian tarif dagang yang dibebankan oleh Amerika Serikat dapat mengganggu kestabilan ekonomi Indonesia, khususnya pada industri-industri tertentu yang harus menyusun ulang penyesuaian nilai harga tukar barang. Upaya penguatan hubungan dagang dengan Uni Eropa juga merupakan salah satu faktor alat tawar kita sehingga berhasil mengurangi rasio beban tarif dagang dari Washington dari 32% menjadi 19%.

Ketidakpastian sebagai Manifestasi Tarif Dagang AS
Jika kita mengacu pada konsep dasar pada studi Hubungan Internasional, maka kita akan menemukan bahwa sistem yang bersifat anarki akan memaksa aktor negara di dalamnya untuk selalu memastikan tercukupinya kebutuhan-kebutuhan dasar agar mereka selalu mampu untuk berdaulat. Asumsi ini didasarkan pada pengamatan bahwa sejatinya sistem internasional tidak akan memiliki badan-badan pemerintahan atau governing body yang dapat memberikan kepastian, ketentuan hukum, dan kesejahteraan aktor-aktor negara yang terdapat di dalamnya.

Hal ini menyebabkan hubungan interaksi yang terjadi pada antar aktor negara menjadi kompetitif dan dipenuhi oleh ketidakpastian. Maka dari itu, pendirian negara yang bersifat state-centric dapat dibenarkan dalam beberapa kondisi tertentu. Namun, pesan dari anarki sebagai sistem ini adalah kita sebagai masyarakat global yang modern tidak boleh berpasrah dan tunduk kepada sistem yang berlaku.

Justru, penekanannya terdapat pada bagaimana sebagai aktor negara kita harus bersama-sama mengurangi elemen-elemen anarki yang mampu muncul. Dengan pipihnya anarki, maka dorongan individualistis untuk bersikap egois dan self-centered pun akan turut merenggang. Sayangnya pesan ini tidak dapat beresonansi di negeri Paman Sam.

Amerika Serikat di bawah administrasi Trump secara sepihak sudah beberapa kali memutuskan atas revisi beban tarif dagang di seluruh dunia; tidak terkecuali kepada negara-negara dengan hubungan diplomatik yang baik seperti Kanada, Prancis, Inggris, Jepang, Korea, dan Australia. Gedung Putih seharusnya sadar bahwa pembebanan tarif dagang akan memiliki dampak negatif khususnya pada hubungan diplomatik mereka sendiri, karena umumnya pemberlakuan tarif akan menghasilkan balasan-balasan yang dapat bertransformasi menjadi masalah diplomatik.

Jika Indonesia justru melakukan retaliasi tarif kepada Amerika Serikat, ditakutkan hal ini akan menjadi norma yang umum untuk dilakukan pada hubungan dagang yang memiliki asas bebas tarif, terkhusus untuk regional Asia Tenggara.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Prabowo Ucapkan Selamat...
Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun Ke-65 untuk Jokowi
Penangkapan dr Tifa...
Penangkapan dr Tifa dan Ujian Negara Hukum di Tengah Polemik Ijazah Jokowi
PKB Minta PDIP Tegas...
PKB Minta PDIP Tegas soal Posisi terhadap Pemerintah: Jangan Abu-abu
Taiwan, Identitas, dan...
Taiwan, Identitas, dan Politik Pengakuan: Membaca Ulang Perdebatan Lintas Selat
Ekologi adalah Kesehatan:...
Ekologi adalah Kesehatan: Ketika Dua Visi Besar Emil Salim dan Farid Moeloek Menjadi Keharusan Zaman
Prabowo Panggil John...
Prabowo Panggil John Herdman ke Hambalang, Bahas Roadmap Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
Aliansi Masyarakat Jakarta...
Aliansi Masyarakat Jakarta Timur Minta Program MBG Dilanjutkan
Chatib Basri Sangkal...
Chatib Basri Sangkal Ditawari Prabowo Posisi Menkeu Gantikan Purbaya
Rekomendasi
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
Kekasih Sarwendah Jadi...
Kekasih Sarwendah Jadi Sorotan, Giorgio Antonio Diduga Kenakan Jam Tangan Palsu Audemars Piguet
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Harga Minyak Global Kembali Melonjak
Berita Terkini
Roy Suryo dan Dokter...
Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap, Kapolri: Kegiatan Sebelum Diserahkan ke Kejaksaan
Ajak Elite Politik Jaga...
Ajak Elite Politik Jaga Stabilitas Politik dan Konsisten Bersikap, Misbakhun: Jangan Ambigu
Darurat Pemasangan Kabel...
Darurat Pemasangan Kabel di Area Jakarta
Ribuan Desa Belum Teraliri...
Ribuan Desa Belum Teraliri Listrik, Menteri Bahlil Siapkan Anggaran Rp10 Triliun
Prabowo Ucapkan Selamat...
Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun Ke-65 untuk Jokowi
KSP: MBG Terus Berlanjut,...
KSP: MBG Terus Berlanjut, Tata Kelola dan Pengawasan Diperkuat
Infografis
Profil Letjen TNI Robi...
Profil Letjen TNI Robi Herbawan, Ajudan Prabowo yang Jadi Kabais TNI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved