HUT ke-15 BNPT Menyerukan Gerakan Siap Jaga Indonesia
Kamis, 17 Juli 2025 - 08:58 WIB
loading...
A
A
A
“Terorisme bisa menjadi devastating dan itu sudah merugikan tidak hanya secara fisik, kerugian ekonomi namun juga kehilangan nyawa. Tapi yang lebih penting deceive kepercayaan sosial dan attitude yang juga sangat boleh jadi membuat kita menghadapi situasi dan dampak yang sangat sulit,” kata Yose.
Lebih lanjut Yose mengungkapkan, di tengah dunia yang saling terhubung, terorisme jadi tantangan multidimensi. Maka pendekatannya pun harus lintas batas, lintas sektor, dan lintas kesadaran.
BNPT menyerukan gerakan Siap Jaga Indonesia. Sebuah ajakan agar menjaga negeri ini bukan lagi tugas segelintir aparat, tapi kesadaran bersama. Dari ruang kelas, tempat ibadah, ruang media sosial, hingga meja makan keluarga—semua bisa jadi titik awal pencegahan kekerasan.
Indonesia Emas 2045 tak akan tercapai dengan membiarkan benih kebencian tumbuh. Ia hanya mungkin terwujud bila bangsa ini mau jaga pikirannya, jaga narasinya, dan jaga sesamanya.
Diketahui, kekerasan ideologis belum mati. Ia hanya ganti kostum. Dulu hadir dalam bentuk ledakan di hotel dan kafe. Kini ia menjelma jadi siaran live, unggahan dakwah kelabu, dan transaksi gelap via dompet digital.
Radikalisme kini tinggal selangkah dari jempol, menyelinap dari satu tautan ke tautan lain. Sementara itu, jaringan teror internasional sudah main lintas negara, memanfaatkan dunia yang makin terhubung tapi tak selalu kuat dalam pertahanan sosialnya.
Lebih lanjut Yose mengungkapkan, di tengah dunia yang saling terhubung, terorisme jadi tantangan multidimensi. Maka pendekatannya pun harus lintas batas, lintas sektor, dan lintas kesadaran.
BNPT menyerukan gerakan Siap Jaga Indonesia. Sebuah ajakan agar menjaga negeri ini bukan lagi tugas segelintir aparat, tapi kesadaran bersama. Dari ruang kelas, tempat ibadah, ruang media sosial, hingga meja makan keluarga—semua bisa jadi titik awal pencegahan kekerasan.
Indonesia Emas 2045 tak akan tercapai dengan membiarkan benih kebencian tumbuh. Ia hanya mungkin terwujud bila bangsa ini mau jaga pikirannya, jaga narasinya, dan jaga sesamanya.
Diketahui, kekerasan ideologis belum mati. Ia hanya ganti kostum. Dulu hadir dalam bentuk ledakan di hotel dan kafe. Kini ia menjelma jadi siaran live, unggahan dakwah kelabu, dan transaksi gelap via dompet digital.
Radikalisme kini tinggal selangkah dari jempol, menyelinap dari satu tautan ke tautan lain. Sementara itu, jaringan teror internasional sudah main lintas negara, memanfaatkan dunia yang makin terhubung tapi tak selalu kuat dalam pertahanan sosialnya.
(rca)
Lihat Juga :