Handphone dan Paradoks Hubungan Sosial Kita
Kamis, 17 Juli 2025 - 08:36 WIB
loading...
A
A
A
HP telah mendemokratisasi komunikasi, membuat setiap orang punya kesempatan untuk menyuarakan aspirasinya. Tidak ada lagi orang yang bisu karena setiap mulut kini bisa suara. Ruang publik tidak lagi dimiliki secara eksklusif para tokoh. Bahkan, orang biasa pun tiba-tiba bisa menjadi tokoh atau selebritas yang kehidupan recehnya menyedot perhatian ribuan bahkan jutaan orang. Sebuah fenomena yang tidak pernah terjadi di era apa pun sebelum ini.
Namun, di balik segala jembatan yang dibangun oleh HP, tersimpan dinding-dinding pemisah yang tak kasat mata. Sebagaimana dunia menjadi semakin terhubung, kita juga semakin terpisahkan. Kita semakin terkungkung dengan dunia kita sendiri. Dengan segala janjinya akan kemudahan hubungan dan pendekatan jarak hubungan, HP juga membuat kita semakin individualistik.
![Handphone dan Paradoks Hubungan Sosial Kita]()
Di kafe, kendaraan umum, bahkan di meja makan malam, wajah-wajah tampak terang dalam diam karena sorot cahaya dari layar HP yang sedang dibukanya. Setiap orang asyik dengan dunianya. Setiap orang sibuk mengecek notifikasi, mencari-cari berita atau informasi atau hiburan tanpa henti, atau menjawabi pesan yang belum sempat terbaca. Tak ada tegur sapa dengan orang-orang di sekelilingnya. Tak ada wajah yang saling berinteraksi dalam percakapan hangat. Pertemuan sosial kini diselingi dengan bunyi centhung halus dari pesan yang masuk ke gadget. Percakapan yang bermakna dengan orang-orang tersayang dalam sebuah perjamuan dikorbankan di depan altar distraksi digital.
Media sosial yang biasanya diakses melalui HP membuat kita menciptakan versi hidup editan. Profil dipoles dan postingan difilter karena kita ingin menampilkan diri kita sesempurna mungkin. Kita tidak menampilkan diri kita seperti apa adanya kepada dunia, tapi diri yang ingin kita kesankan.
Kecanggihan teknologi komunikasi membuat kita setiap saat dilanda kecemasan karena selalu diingatkan akan adanya jarak antara siapa kita sebenarnya dengan impian yang tak pernah ada batasnya. Bahkan, satu jerawat di pipi pun mengganggu kita sedemikian rupa sehingga dibutuhkan waktu khusus untuk mengedit foto kita sebelum ditampilkan menjadi profil di akun medsos. Semakin banyak dan sering kita berbagai, semakin banyak dan sering pula kita terisolasi dari diri kita sendiri.
Namun, di balik segala jembatan yang dibangun oleh HP, tersimpan dinding-dinding pemisah yang tak kasat mata. Sebagaimana dunia menjadi semakin terhubung, kita juga semakin terpisahkan. Kita semakin terkungkung dengan dunia kita sendiri. Dengan segala janjinya akan kemudahan hubungan dan pendekatan jarak hubungan, HP juga membuat kita semakin individualistik.

Di kafe, kendaraan umum, bahkan di meja makan malam, wajah-wajah tampak terang dalam diam karena sorot cahaya dari layar HP yang sedang dibukanya. Setiap orang asyik dengan dunianya. Setiap orang sibuk mengecek notifikasi, mencari-cari berita atau informasi atau hiburan tanpa henti, atau menjawabi pesan yang belum sempat terbaca. Tak ada tegur sapa dengan orang-orang di sekelilingnya. Tak ada wajah yang saling berinteraksi dalam percakapan hangat. Pertemuan sosial kini diselingi dengan bunyi centhung halus dari pesan yang masuk ke gadget. Percakapan yang bermakna dengan orang-orang tersayang dalam sebuah perjamuan dikorbankan di depan altar distraksi digital.
Media sosial yang biasanya diakses melalui HP membuat kita menciptakan versi hidup editan. Profil dipoles dan postingan difilter karena kita ingin menampilkan diri kita sesempurna mungkin. Kita tidak menampilkan diri kita seperti apa adanya kepada dunia, tapi diri yang ingin kita kesankan.
Kecanggihan teknologi komunikasi membuat kita setiap saat dilanda kecemasan karena selalu diingatkan akan adanya jarak antara siapa kita sebenarnya dengan impian yang tak pernah ada batasnya. Bahkan, satu jerawat di pipi pun mengganggu kita sedemikian rupa sehingga dibutuhkan waktu khusus untuk mengedit foto kita sebelum ditampilkan menjadi profil di akun medsos. Semakin banyak dan sering kita berbagai, semakin banyak dan sering pula kita terisolasi dari diri kita sendiri.
Lihat Juga :