Eksistensi E-Commerce dan Kinerja Inflasi

Kamis, 17 Juli 2025 - 06:39 WIB
loading...
A A A
Ada eliminasi rantai distribusi secara signifikan. Juga tidak perlu lagi membayar sewa toko fisik, gaji karyawan tambahan, atau biaya promosi konvensional yang relatif mahal. Efisiensi inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi harga yang lebih murah bagi konsumen.

Kedua, e-commerce memudahkan konsumen membandingkan harga dan kualitas barang dengan cepat. Di sinilah kekuatan digital benar-benar bekerja, informasi menjadi murah dan instan. Konsumen tidak lagi ‘terjebak’ pada pilihan terbatas di toko fisik terdekat, melainkan bisa menjelajahi berbagai produk dari banyak penjual dengan harga yang lebih bersaing.

Persaingan yang ketat ini memaksa pelaku usaha menjaga harga tetap rendah agar bisa bertahan di pasar. Fenomena ini dikenal sebagai “amazon effect”. Yang juga penting digarisbawahi ialah sejatinya sistem pembayaran digital turut memperlancar arus transaksi.

Hadirnya pembayaran non tunai Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), e-money, m-banking dan metode pembayaran non tunai lainnya membuat konsumen lebih nyaman berbelanja online. Kemudahan ini mempercepat adopsi e-commerce oleh masyarakat luas dan masif, termasuk pelaku UMKM yang sebelumnya mungkin enggan masuk ke dunia digital.

Namun, ada satu sisi menarik yang kerap luput dari perhatian, yaitu potensi bias dalam pengukuran inflasi akibat pergeseran belanja dari offline ke online. Konsumen yang beralih ke e-commerce cenderung menemukan harga lebih murah, tapi jika data inflasi masih mengandalkan harga di pasar tradisional, maka bisa jadi angka inflasi yang tercatat lebih tinggi daripada kenyataan yang dirasakan masyarakat.

Hasil kajian Bank Indonesia tahun 2024 menunjukkan bahwa ada bias perhitungan inflasi sekitar 0,2 persen hingga 0,8 persen akibat perbedaan harga antara pasar online dan offline. Artinya, sebagian “kenaikan harga” yang kita baca di berita mungkin tidak benar-benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari sebagian masyarakat digital.

Bukan berarti e-commerce tanpa tantangan. Ketimpangan infrastruktur digital masih menjadi penghalang utama, terutama di wilayah Indonesia bagian timur. Data menunjukkan bahwa mayoritas transaksi e-commerce masih terpusat di Pulau Jawa, yang menyumbang sekitar 79 persen dari total transaksi nasional.

Sementara Sumatera hanya sekitar 12 persen, dan kawasan timur Indonesia hanya 9 persen. Maknanya manfaat e-commerce sebagai penekan inflasi belum merata. Selain itu rantai pasok barang yang tersedia di e-commerce masih didominasi di pulau Jawa.

Sehingga biaya distribusi untuk memenuhi permintaan masyarakat di wilayah tengah dan timur Indonesia akan bertambah. Akibatnya harga di tingkat konsumen akhir (end user) semakin tinggi dan mengakibatkan inflasi semakin merangkak naik.

Kita perlu mengakui bahwa daya tekan inflasi dari e-commerce bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam semalam dan instan. Ia memerlukan prasyarat, listrik yang stabil, koneksi internet yang cepat, keterampilan digital masyarakat yang mumpuni, serta hadirnya kebijakan pemerintah yang afirmatif dan mendukung.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Seskab Teddy Ungkap...
Seskab Teddy Ungkap Fenomena Inflasi Pengamat: Ada Pengamat Beras, tapi Background-nya Bukan di Situ
Inflasi Kota Semarang...
Inflasi Kota Semarang Maret 2026 Terkendali di Tengah Tekanan Idul Fitri
Eskalasi Subsidi dan...
Eskalasi Subsidi dan Inflasi
Santri dan Literasi...
Santri dan Literasi Keuangan: Potensi Besar yang Belum Dioptimalkan
Lapor ke Presiden Prabowo,...
Lapor ke Presiden Prabowo, Mendagri: Angka Inflasi Daerah Terkendali
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Sinergi Pemprov DKI...
Sinergi Pemprov DKI dan BI, Inflasi Jakarta Melandai pada Mei
Inflasi Mei 2026 Naik...
Inflasi Mei 2026 Naik 0,28 Persen, Cabai Merah Jadi Pemicu Utama
Rekomendasi
Wardatina Mawa Tuntut...
Wardatina Mawa Tuntut Nafkah Anak Rp25 Juta, Bukan Rp500 Ribu
Gold Medalist Berterima...
Gold Medalist Berterima Kasih kepada Penggemar yang Tetap Mendukung Kim Soo-hyun
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
Berita Terkini
Sony Sonjaya Siap Jadi...
Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator, Bakal Ungkap Orang Besar yang Jadi Dalang
Pengadilan Tinggi Singapura...
Pengadilan Tinggi Singapura Tolak Gugatan Paulus Tanos, Menkum Koordinasi KPK dan Polri
Eks Wakil Kepala BGN...
Eks Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Masih Syok setelah Jadi Tersangka Korupsi
Bahas RUU Polri, Habiburokhman...
Bahas RUU Polri, Habiburokhman Soroti Polisi Aktif di Ormas
Alasan Prabowo Pilih...
Alasan Prabowo Pilih Nanik S Deyang jadi Kepala BGN Gantikan Dadan Hindayana
Silmy Karim Tersangka...
Silmy Karim Tersangka Korupsi, Komisi III DPR: Usut Tuntas Tanpa Pandang Bulu
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved