Eksistensi E-Commerce dan Kinerja Inflasi

Kamis, 17 Juli 2025 - 06:39 WIB
loading...
Eksistensi E-Commerce...
Ciplis Gema Qori’ah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember. Foto/Dok.Pribadi
A A A
Ciplis Gema Qori’ah
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember

PERUBAHAN harga yang merangkak naik seringkali menjadi kepanikan tersendiri bagi sebagian besar konsumen. Inilah yang sering kali kita kenali sebagai fenomena inflasi dalam kehidupan ekonomi. Ia menggerogoti daya beli, menciptakan kecemasan, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

Kelompok yang rentan terhadap guncangan ekonomi (shock) perlu mendapat perhatian khusus dalam skema kebijakan yang holistik. Namun sisi lain pemerintah menghadapi kondisi dilematis, sehingga harus menempuh kebijakan yang tidak populis, seperti mengurangi subsidi energi, menaikkan pajak, mengurangi volume impor barang konsumsi ataupun otoritas moneter menaikkan suku bunga acuan.

Fenomena inflasi dalam konteks peran teknologi dan e-commerce disebabkan oleh banyak faktor, Stigler (1982) mengungkapkan bahwa perbedaan harga (price dispersion) disebabkan oleh konsumen tidak mempunyai informasi sempurna karena ada biaya mendapatkan informasi (search cost), sehingga hal ini menyebabkan harga yang bervariasi di pasar yang sama.

Demikian halnya konsep yang disarikan dari adaptasi teori supply-demand dalam konteks ekonomi digital ataupun ekonomi berbasis platform, Varian dan Shapiro (1999) membuktikan bahwa informasi digital, platform online serta langkah logis dan sistematis (algoritma) akan mengubah cara kerja pasar secara signifikan (supply-demand dynamic).

Teori pertumbuhan ekonomi endogen (endogenous growth), Romer dan Nordhaus, peraih hadiah Nobel bidang ekonomi tahun 2018, membuktikan pemikirannya tentang pentingnya integrasi inovasi teknologi dan pertumbuhan melalui, automatisasi, big data dan kecerdasan buatan (artificial intelligence=AI) pada proses pembentukan harga dan logistik yang akan mempengaruhi segi operasional lebih efisien.

Selama ini, instrumen utama untuk menurunkan inflasi adalah kebijakan moneter konvensional melalui menaikkan suku bunga, menahan likuiditas atau mengatur ekspektasi pasar. Namun, di tengah akselerasi teknologi dan pergeseran perilaku konsumen, konon kehadiran digitalisasi dalam perdagangan elektronik (e-commerce) diyakini menjadi upaya meredam ketidakstabilan harga.

Paling tidak, temuan empiris memaparkan keniscayaan adanya dampak negatif signifikan dari digitalisasi dan e-commerce terhadap inflasi. Merujuk kajian Bank Indonesia (2024) menunjukkan bahwa pertumbuhan transaksi e-commerce secara signifikan mampu menekan inflasi inti, baik di tingkat nasional maupun daerah.

Karena ia mampu menekan biaya, sehingga terjadi efisiensi dan transparansi harga, selain tidak lagi memerlukan biaya operasional yang besar, memungkinkan masuknya barang impor yang lebih murah sehingga harga konsumen lebih bersaing. Hal ini sejurus dengan hasil asesmen Organization for Economic Co-operation and Development (OECD, 2019) dan International Monetary Fund (IMF, 2021) secara lugas menegaskan bahwa e-commerce memiliki potensi menyumbang deflationary effect terhadap perekonomian.

Logika yang bisa dihadirkan dari e-commerce bahwa ia diyakini bisa menekan inflasi terlihat pada, pertama, bahwa e-commerce menciptakan pasar yang lebih kompetitif dan transparan. Ketika produsen dan konsumen terhubung secara langsung melalui platform digital, lapisan-lapisan biaya distribusi menjadi lebih tipis.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Seskab Teddy Ungkap...
Seskab Teddy Ungkap Fenomena Inflasi Pengamat: Ada Pengamat Beras, tapi Background-nya Bukan di Situ
Inflasi Kota Semarang...
Inflasi Kota Semarang Maret 2026 Terkendali di Tengah Tekanan Idul Fitri
Eskalasi Subsidi dan...
Eskalasi Subsidi dan Inflasi
Santri dan Literasi...
Santri dan Literasi Keuangan: Potensi Besar yang Belum Dioptimalkan
Lapor ke Presiden Prabowo,...
Lapor ke Presiden Prabowo, Mendagri: Angka Inflasi Daerah Terkendali
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
Stimulus Jumbo Lintas...
Stimulus Jumbo Lintas Sektor Rp26,34 Triliun Resmi Meluncur, Berikut Rincian Alokasinya
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Rekomendasi
Tiga Raja HP Konser...
Tiga Raja HP Konser Diadu: Samsung, Oppo, vivo Bertarung di Panggung Feast dan Hindia
KPK Geledah Kantor BPK...
KPK Geledah Kantor BPK Sumsel terkait Kasus Opini WTP Muara Enim, Sejumlah Dokumen Disita
Apa Itu Longevity? Gaya...
Apa Itu Longevity? Gaya Hidup Sehat yang Mulai Tren di Indonesia
Berita Terkini
PHK Massal Berisiko...
PHK Massal Berisiko Gerus Kelas Menengah, Sekjen Perindo Ferry Kurnia Dorong Insentif Dunia Usaha
Menkomdigi Meutya Hafid:...
Menkomdigi Meutya Hafid: 4,7 Juta Akun Anak di TikTok dan YouTube Dinonaktifkan
Tinjau Teknologi Tanam...
Tinjau Teknologi Tanam PM-AAS, Presiden Prabowo Sebut Inovasi Pertanian Revolusioner
Dasco Undang Serikat...
Dasco Undang Serikat Buruh dan Pemerintah Bahas Ancaman PHK
Dubes Iran Tegas Tolak...
Dubes Iran Tegas Tolak Gencatan Senjata di Gaza: Palestina Harus Dibebaskan!
KPK Cecar Maruf Cahyono...
KPK Cecar Ma'ruf Cahyono terkait Penerimaan Uang selama Jabat Sekjen MPR
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved