Ibas Ajak Gotong Royong Perkuat Ekonomi Bangsa
Rabu, 16 Juli 2025 - 12:51 WIB
loading...
A
A
A
Kendati demikian, EBY memberikan apresiasi khusus atas capaian renegosiasi tarif terbaru yang dilakukan pemerintah bersama Amerika Serikat, di mana sebagian tarif berhasil ditekan menjadi 19%. “Ini merupakan capaian penting dalam diplomasi ekonomi yang patut diapresiasi. Penurunan dari potensi beban hingga 32% menjadi 19% membuka ruang napas bagi pelaku industri, terutama sektor padat karya dan UMKM yang paling terdampak,” ujarnya.
Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen untuk membeli energi senilai USD 15 miliar dan produk pertanian senilai USD 4,5 miliar dari pasar AS, di samping 50 unit pesawat jet Boeing.
Tak hanya menyentuh angka ekspor, tetapi juga memengaruhi fondasi ekonomi nasional. “Kenaikan tarif AS bisa mengancam kedaulatan ekonomi, stabilitas sosial, dan kesejahteraan rakyat Indonesia, khususnya para pelaku ekspor padat karya. Bahkan, dalam skenario ekstrem, bisa memicu PHK besar-besaran di Indonesia,” tuturnya.
Oleh karena itu, sebagai legislator, EBY hadir untuk mendengar dan menerima langsung aspirasi pelaku usaha. “Rekan-rekan butuh kehadiran negara. Solusi bangkit: strategi ekspor Indonesia. Pendek kata, dunia usaha meminta solusi konkret,” ucapnya.
Lebih jauh, dalam menghadapi tekanan global ini, wakil rakyat dari Dapil Jatim VII ini mengingatkan bahwa arah perjuangan ekonomi Indonesia harus kembali kepada nilai-nilai dasar kebangsaan. Dia mengatakan, Indonesia tidak boleh kehilangan arah.
"Kita harus kembali pada fondasi kebangsaan kita, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai arah moral dan politik pembangunan ekonomi. Kita wajib memastikan bahwa perdagangan luar negeri tidak melemahkan kemandirian bangsa,” imbuhnya.
Wakil Ketua Dewan Penasihat Kadin ini kemudian memaparkan secara detail berbagai strategi yang harus ditempuh. “Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat ekonomi bangsa dan untuk membangun ketahanan ekspor nasional, sehingga kita perlu pikirkan bersama segala rekomendasi untuk bangsa. Kita dorong terciptanya solusi dalam renegosiasi ulang atau negosiasi bilateral ke AS,” ungkapnya.
Dia menambahkan berbagai alternatif sinergi, di antaranya diversifikasi geografis melalui percepatan ratifikasi IEU, UAE, Turki, dan Kanada-CEPA. "Perkuat ekspor ke Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Diversifikasi produk ekspor, fokus pada hilirisasi mineral, otomotif, elektronik, digital, halal, dan farmasi,” ujarnya.
Selanjutnya, skema insentif fiskal untuk produk bernilai tambah ekspor. Lalu, perbaikan sistem logistik dan infrastruktur ekspor, termasuk modernisasi pelabuhan, reformasi ‘dwell time’ dan biaya kontainer.
Kesepakatan ini diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Indonesia berkomitmen untuk membeli energi senilai USD 15 miliar dan produk pertanian senilai USD 4,5 miliar dari pasar AS, di samping 50 unit pesawat jet Boeing.
Tak hanya menyentuh angka ekspor, tetapi juga memengaruhi fondasi ekonomi nasional. “Kenaikan tarif AS bisa mengancam kedaulatan ekonomi, stabilitas sosial, dan kesejahteraan rakyat Indonesia, khususnya para pelaku ekspor padat karya. Bahkan, dalam skenario ekstrem, bisa memicu PHK besar-besaran di Indonesia,” tuturnya.
Oleh karena itu, sebagai legislator, EBY hadir untuk mendengar dan menerima langsung aspirasi pelaku usaha. “Rekan-rekan butuh kehadiran negara. Solusi bangkit: strategi ekspor Indonesia. Pendek kata, dunia usaha meminta solusi konkret,” ucapnya.
Lebih jauh, dalam menghadapi tekanan global ini, wakil rakyat dari Dapil Jatim VII ini mengingatkan bahwa arah perjuangan ekonomi Indonesia harus kembali kepada nilai-nilai dasar kebangsaan. Dia mengatakan, Indonesia tidak boleh kehilangan arah.
"Kita harus kembali pada fondasi kebangsaan kita, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai arah moral dan politik pembangunan ekonomi. Kita wajib memastikan bahwa perdagangan luar negeri tidak melemahkan kemandirian bangsa,” imbuhnya.
Wakil Ketua Dewan Penasihat Kadin ini kemudian memaparkan secara detail berbagai strategi yang harus ditempuh. “Momentum ini harus kita manfaatkan untuk memperkuat ekonomi bangsa dan untuk membangun ketahanan ekspor nasional, sehingga kita perlu pikirkan bersama segala rekomendasi untuk bangsa. Kita dorong terciptanya solusi dalam renegosiasi ulang atau negosiasi bilateral ke AS,” ungkapnya.
Dia menambahkan berbagai alternatif sinergi, di antaranya diversifikasi geografis melalui percepatan ratifikasi IEU, UAE, Turki, dan Kanada-CEPA. "Perkuat ekspor ke Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan. Diversifikasi produk ekspor, fokus pada hilirisasi mineral, otomotif, elektronik, digital, halal, dan farmasi,” ujarnya.
Selanjutnya, skema insentif fiskal untuk produk bernilai tambah ekspor. Lalu, perbaikan sistem logistik dan infrastruktur ekspor, termasuk modernisasi pelabuhan, reformasi ‘dwell time’ dan biaya kontainer.
Lihat Juga :