Denny JA Ciptakan Genre Lukisan Imajinasi Nusantara, Tokoh Dunia Pakai Batik
Senin, 23 Juni 2025 - 18:26 WIB
loading...
Sseniman dan pemikir publik Denny JA melukis Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan batik. Foto/istimewa
A
A
A
JAKARTA - Di tengah panasnya konflik global seperti ketegangan Israel-Iran dan tragedi kemanusiaan di Gaza , seniman dan pemikir publik Denny JA merespons situasi tersebut melalui medium seni lukis.
Denny JA meluncurkan serial lukisan berjudul "The Deal of Century" sebuah karya imajinatif yang menggambarkan mimpi perdamaian dunia.
Lewat karya tersebut, Denny JA tak hanya menyampaikan pesan visual, tapi juga memperkenalkan genre seni lukis baru yang digagas sendiri “Imajinasi Nusantara.”
“Lukisan ini sekaligus doa agar imajinasi perdamaian tercipta,” ujar Denny JA, Senin (23/6/2025).
Dalam lukisan The Deal of Century, tergambar empat tokoh dunia yakni, Donald Trump (AS), Benyamin Netanyahu (Israel), Ayatollah Ali Khamenei (Iran), dan Mahmoud Abbas (Palestina) yang mengenakan batik khas Nusantara. Mereka berdiri bersama, menandatangani perjanjian damai, disaksikan oleh merpati perdamaian dan langit yang sunyi dari perang.
Baca juga: Digempur Rudal Iran, Ribuan Warga Israel Kabur ke Mesir Picu Kemarahan Publik
Simbolisme yang kuat tergambar dalam elemen-elemen lukisan bola dunia, mikrofon damai, dan jet tempur yang berhenti di udara. Dalam narasi imajiner tersebut, perjanjian damai ditandatangani, dua negara merdeka Israel dan Palestina didirikan secara berdampingan, dan keempat tokoh dianugerahi Nobel Perdamaian.
Lewat serial ini, Denny JA memperkenalkan genre baru dalam seni rupa Indonesia Imajinasi Nusantara. Genre ini dikembangkan dari tiga elemen utama. Pertama, batik sebagai simbol budaya lokal, dikenakan tokoh global sebagai bentuk diplomasi kultural. Kedua, figur manusia realistis dan proporsional, menampilkan anatomi utuh dengan ekspresi mendalam.
Baca juga: Profil Brigjen TNI Agus Widodo, Jenderal Kopassus yang Ditunjuk Jadi Dirjen Strahan Kemhan
Ketiga, latar belakang yang imajinatif dan surealis, dengan langit tak biasa, burung-burung simbolik, awan yang bermakna, kabut yang menyiratkan harapan, serta benda-benda melayang yang menyuarakan semesta batin dan spiritualitas.
Berbeda dari realisme atau surealisme murni, Imajinasi Nusantara menggabungkan keduanya dengan akar budaya Indonesia. Genre ini diharapkan menjadi sumbangan khas Indonesia dalam peta seni rupa global, setara dengan impresionisme dari Prancis, kubisme dari Picasso, atau ekspresionisme dari Jerman.
“Ini bukan genre eksotik yang hanya berlaku lokal. Dengan tokoh dunia seperti Trump dan Netanyahu memakai batik, genre ini menjadi medium diplomasi kultural. Lukisan menjadi pernyataan,” tutur Denny JA.
Sejak 2022 hingga 2025, Denny JA telah menciptakan lebih dari 600 lukisan bersama asisten AI-nya. Uniknya, karya-karya ini tidak dipajang di galeri eksklusif, melainkan disebar ke 8 hotel budget di Jakarta dan Jawa Barat, agar bisa dinikmati masyarakat luas.
Langkah ini merupakan bagian dari misinya untuk mendemokratisasi seni membawa seni ke ruang publik agar tak hanya dinikmati kalangan tertentu. Saat ini, Denny JA tengah menyiapkan 50 lukisan baru, seluruhnya mengusung genre Imajinasi Nusantara, sebagai lanjutan proyek estetik dan kulturalnya.
Di tengah konflik yang membara, lukisan The Deal of Century hadir bukan sebagai pelarian utopis, melainkan doa visual, seruan damai dari seorang seniman untuk dunia yang lebih beradab.
"Seperti kata Rumi: “What you seek is seeking you". Jika perdamaian yang kita cari, biarkan lukisan ini menjadi doa kolektif kita,” pungkas Denny JA.
Denny JA meluncurkan serial lukisan berjudul "The Deal of Century" sebuah karya imajinatif yang menggambarkan mimpi perdamaian dunia.
Lewat karya tersebut, Denny JA tak hanya menyampaikan pesan visual, tapi juga memperkenalkan genre seni lukis baru yang digagas sendiri “Imajinasi Nusantara.”
“Lukisan ini sekaligus doa agar imajinasi perdamaian tercipta,” ujar Denny JA, Senin (23/6/2025).
Dalam lukisan The Deal of Century, tergambar empat tokoh dunia yakni, Donald Trump (AS), Benyamin Netanyahu (Israel), Ayatollah Ali Khamenei (Iran), dan Mahmoud Abbas (Palestina) yang mengenakan batik khas Nusantara. Mereka berdiri bersama, menandatangani perjanjian damai, disaksikan oleh merpati perdamaian dan langit yang sunyi dari perang.
Baca juga: Digempur Rudal Iran, Ribuan Warga Israel Kabur ke Mesir Picu Kemarahan Publik
Simbolisme yang kuat tergambar dalam elemen-elemen lukisan bola dunia, mikrofon damai, dan jet tempur yang berhenti di udara. Dalam narasi imajiner tersebut, perjanjian damai ditandatangani, dua negara merdeka Israel dan Palestina didirikan secara berdampingan, dan keempat tokoh dianugerahi Nobel Perdamaian.
Lewat serial ini, Denny JA memperkenalkan genre baru dalam seni rupa Indonesia Imajinasi Nusantara. Genre ini dikembangkan dari tiga elemen utama. Pertama, batik sebagai simbol budaya lokal, dikenakan tokoh global sebagai bentuk diplomasi kultural. Kedua, figur manusia realistis dan proporsional, menampilkan anatomi utuh dengan ekspresi mendalam.
Baca juga: Profil Brigjen TNI Agus Widodo, Jenderal Kopassus yang Ditunjuk Jadi Dirjen Strahan Kemhan
Ketiga, latar belakang yang imajinatif dan surealis, dengan langit tak biasa, burung-burung simbolik, awan yang bermakna, kabut yang menyiratkan harapan, serta benda-benda melayang yang menyuarakan semesta batin dan spiritualitas.
Berbeda dari realisme atau surealisme murni, Imajinasi Nusantara menggabungkan keduanya dengan akar budaya Indonesia. Genre ini diharapkan menjadi sumbangan khas Indonesia dalam peta seni rupa global, setara dengan impresionisme dari Prancis, kubisme dari Picasso, atau ekspresionisme dari Jerman.
“Ini bukan genre eksotik yang hanya berlaku lokal. Dengan tokoh dunia seperti Trump dan Netanyahu memakai batik, genre ini menjadi medium diplomasi kultural. Lukisan menjadi pernyataan,” tutur Denny JA.
Sejak 2022 hingga 2025, Denny JA telah menciptakan lebih dari 600 lukisan bersama asisten AI-nya. Uniknya, karya-karya ini tidak dipajang di galeri eksklusif, melainkan disebar ke 8 hotel budget di Jakarta dan Jawa Barat, agar bisa dinikmati masyarakat luas.
Langkah ini merupakan bagian dari misinya untuk mendemokratisasi seni membawa seni ke ruang publik agar tak hanya dinikmati kalangan tertentu. Saat ini, Denny JA tengah menyiapkan 50 lukisan baru, seluruhnya mengusung genre Imajinasi Nusantara, sebagai lanjutan proyek estetik dan kulturalnya.
Di tengah konflik yang membara, lukisan The Deal of Century hadir bukan sebagai pelarian utopis, melainkan doa visual, seruan damai dari seorang seniman untuk dunia yang lebih beradab.
"Seperti kata Rumi: “What you seek is seeking you". Jika perdamaian yang kita cari, biarkan lukisan ini menjadi doa kolektif kita,” pungkas Denny JA.
(cip)
Lihat Juga :