Prabowo Cerita soal Panglima GAM di SPIEF Rusia: Mantan Musuh Bisa Bersatu
Sabtu, 21 Juni 2025 - 00:59 WIB
loading...
A
A
A
“Inilah kebesaran Nelson Mandela dan inilah yang saya coba terapkan juga dalam politik dalam negeri saya. Saya telah berdamai dengan banyak lawan politik saya sebelumnya. Misalnya, kami mengalami pemberontakan separatis yang sangat panjang di Aceh,” ujar Prabowo.
Baca juga: Prabowo di SPIEF 2025: Rusia dan China Tidak Pernah Memiliki Standar Ganda
“Sangat panjang, saya pikir hampir lebih dari 30 tahun. Tapi bayangkan, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka, yang memerangi kami selama lebih dari 25 tahun, kini bergabung dengan partai saya, dia ada di partai politik saya dan sekarang menjadi Gubernur Aceh, dan saya Presiden Indonesia. Ini menunjukkan bahwa mantan musuh bisa bersatu. Dan saya pikir ini adalah pelajaran dari Nelson Mandela,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga menceritakan bahwa dirinya mantan prajurit selalu menjunjung tinggi perdamaian dan rekonsiliasi. Dia mengakui, sebagai tentara memahami secara mendalam nilai dari perdamaian dan pentingnya menghindari kekerasan yang tak berujung, sehingga mengedepankan negosiasi daripada saling membunuh.
“Saya ingin mengatakan bahwa saya adalah mantan tentara. Dan sebagai mantan tentara, saya benar-benar memahami nilai dari perdamaian dan rekonsiliasi. Sebagai mantan tentara, saya selalu mencoba, bahkan dari dulu, selalu mencoba untuk bernegosiasi. Negosiasi, negosiasi, negosiasi. Lebih baik berbicara daripada saling membunuh. Ini adalah posisi saya. Selalu bicara, selalu bernegosiasi,” tegasnya.
Baca juga: Prabowo di SPIEF 2025: Rusia dan China Tidak Pernah Memiliki Standar Ganda
“Sangat panjang, saya pikir hampir lebih dari 30 tahun. Tapi bayangkan, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka, yang memerangi kami selama lebih dari 25 tahun, kini bergabung dengan partai saya, dia ada di partai politik saya dan sekarang menjadi Gubernur Aceh, dan saya Presiden Indonesia. Ini menunjukkan bahwa mantan musuh bisa bersatu. Dan saya pikir ini adalah pelajaran dari Nelson Mandela,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga menceritakan bahwa dirinya mantan prajurit selalu menjunjung tinggi perdamaian dan rekonsiliasi. Dia mengakui, sebagai tentara memahami secara mendalam nilai dari perdamaian dan pentingnya menghindari kekerasan yang tak berujung, sehingga mengedepankan negosiasi daripada saling membunuh.
“Saya ingin mengatakan bahwa saya adalah mantan tentara. Dan sebagai mantan tentara, saya benar-benar memahami nilai dari perdamaian dan rekonsiliasi. Sebagai mantan tentara, saya selalu mencoba, bahkan dari dulu, selalu mencoba untuk bernegosiasi. Negosiasi, negosiasi, negosiasi. Lebih baik berbicara daripada saling membunuh. Ini adalah posisi saya. Selalu bicara, selalu bernegosiasi,” tegasnya.
(rca)
Lihat Juga :