Jejak Gus Dur Dalam Penegakan Keadilan Ekologis

Rabu, 18 Juni 2025 - 17:16 WIB
loading...
Jejak Gus Dur Dalam...
Eko Cahyono, Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pedesaan IPB University dan Peneliti Sajogyo Institute. Foto/Dok.Pribadi
A A A
Eko Cahyono
Mahasiswa Doktoral Sosiologi Pedesaan IPB University dan Peneliti Sajogyo Institute

Jika ...”Memuliakan manusia berarti memuliakan Penciptanya, menistakan dan merendahkan manusia, berarti merendahkan dan menistakan penciptanya” (Gus Dur).

Maka…”Memuliakan alam dan seluruh mahluk ciptaan-Nya berarti memuliakan penciptanya. Merusak dan menistkan alam dan seluruh mahluk ciptaan-Nya, berarti merusak dan menistakan Penciptanya”.

JIKA tak ada aral melintang, Jaringan Gusdurian akan mengadakan Konferensi Pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada bulan Agustus 2025 nanti. Pilihan tema konferensinya adalah “Meneladani Gus Dur Merawat Indonesia.

Diturunkan dalam tiga topik, yaitu Agama dan Etika Sosial, Demokrasi dan Supremasi Sipil, serta Keadilan Ekologi/Lingkungan. Selama ini publik sangat mudah menemukan jejak kontribusi Gus Dur di topik pertama dan kedua, namun masih sedikit yang menguraikan jejaknya di topik ketiga yaitu, keadilan ekologi/lingkungan.

Meskipun, tentu saja, ketiga aspek tersebut sulit difahami secara terpisah dari diri Gus Dur, sebab pengikat gagasan dan jiwa dasarnya masih sama, yakni menjunjung tinggi martabat kemanusiaan dan kehidupan mahluk ciptaan-Nya.

Pernyataan terkenal Gus Dur bahwa "Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan" mengandung makna bahwa nilai-nilai kemanusiaan, seperti kasih sayang, empati, dan keadilan, seharusnya menjadi landasan utama dalam setiap tindakan, termasuk dalam bidang politik.

Politik, yang seringkali identik dengan kekuasaan dan kepentingan, seharusnya tidak mengorbankan martabat dan kesejahteraan manusia berserta kehidupannya. Dengan landasan semacam ini, maka penting dudukan perspektif holistik dalam melihat tapak legacy keteladanan Gus Dur.

Sebab, baginya “guru spiritualitas saya ada realitas, dan guru realitas saya adalah spiritualitas.” Maka, meskipun Gus Dur berkiprah dan berkontribusi di berbagai ranah, baik pembaharuan pemikiran Islam, penegakan pilar demokrasi, pluralisme dan toleransi dan pembela keadilan ekologi/lingkungan, hakekat pesannya sama, melanjutkan profetisme (kenabian) dan transformasi sosial untuk mewujudan keadilan sosial-ekologi.

Jejak Gus Dur dalam Isu Keadilan Ekologi-Lingkungan


Sependek hasil penelusuran Penulis, setidaknya ada delapan situasi sejarah yang dapat dirujuk menjadi “bukti” kepedulian dan konstribusi Gus Dur terkait keadilan ekologi/lingkungan: Pertama, Pelopor dan Inspirator Pembangunan Berbasis Maritim untuk Kedaulatan SDA Laut dan Pesisir.

Pasca dilantik sebagai Presiden ke 4, Gus Dur membuat terobosan penting dengan membentuk Departemen Eksplorasi Laut (DEL) beserta rincian tugas dan fungsinya melalui Keputusan Presiden Nomor 136 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999 cikal bakal dari lahirnya Kementerian Kelautan dan Perikanan sekarang.

Disadari atau tidak kebijakan tersebut telah mendorong bangsa Indonesia menggali kembali potensi kehidupan di dunia maritim antara lain. Kelanjutannya adalah penyelenggaraan World Ocean Conference (WOC) di Manado di tahun 2009 yang bertujuan untuk menyatukan komitmen global dalam melestarikan sumber daya laut dan mengatasi dampak perubahan iklim terhadap ekosistem laut.

Selama jadi Presiden Gus Dur menerbitkan peraturan yang mendukung kejayaan maritim Indonesia, yakni Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 52 Tahun 1999 Tentang Konvensi Internasional Tentang Tanggung Jawab Perdata untuk Kerusakan Akibat Pencemaran Minyak, Kepres Nomor 55/1999 tentang Perjanjian Kerjasama Indonesia dengan Jerman dalam bidang pelayaran, dan Kepres Nomor 178/1999 Tentang Ratifikasi Konvensi Hukum Laut PBB Tahun 1982 di Indonesia.

Selain itu, dalam berbagai kesempatan, Gus Dur mengingatkan pentingnya kedaulatan atas sumber daya laut. “Sebagian besar wilayah Indonesia adalah perairan laut, karena itu masyarakat kita seharusnya dapat hidup layak dari sumber daya alam yang tersedia di laut,” (Dalam satu seminar di tahun 1992).

Kedua, Pendorong gagasan gerakan hijau (green movement) dalam Partai Politik. Gus Dur menjelaskan bahwa gerakan hijau murni untuk penyelamatan lingkungan, bukan gerakan politik untuk "menyerang" pemerintah, hal inilah yang membedakan dengan Partai Hijau yang ada di Barat.

Singkatnya syarat partai politik hijau ada tiga: Pertama, harus bersifat kultural, bukan politis. Agenda tidak untuk merebut kekuasaan tetapi memastikan agenda hijau itu untuk kelestarian lingkungan.

Kedua, harus bicara tentang nilai-nilai lokal yang hidup, digali dari nilai-nilai lokal nusantara atau living knowledge dengan koridor kebhinekaan. (Deklarasi Hijau Menyelamatkan Lingkungan Bersama Gus Dur, Bali, 2007).

Ketiga, Hasil Deklarasi Hijau Tahun 2007 terdapat enam poin penting, di antaranya adalah meminta pemerintah memutus kontrak karya dengan perusahaan tambang migas dan non migas di hutan dan kawasan lindung.

Berikutnya meminta pemerintah memberlakukan jeda tebang hutan (moratorium logging) hingga 20 tahun yang diikuti dengan restorasi kawasan hutan, serta mengkaji dan mencabut semua peraturan yang berpotensi merusak lingkungan dan sumber daya alam. Hal ini merupakan terobosan penting dan inspirasi bagi upaya cek ulang secara menyeluruh ijin dan konsesi kehutanan secara nasional (audit perizinan).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Buka Rakernis Reskrim,...
Buka Rakernis Reskrim, Kapolri Instruksikan Ciptakan Rasa Aman dan Keadilan untuk Masyarakat
Pribumi Islam Gus Dur,...
Pribumi Islam Gus Dur, Realitas Islam Indonesia
Roy Suryo Bandingkan...
Roy Suryo Bandingkan Teliti Suara Habibie dan Foto Gus Dur dengan Ijazah Jokowi
Paradoks Persaudaraan...
Paradoks Persaudaraan Manusia di Asia Tenggara
Cerita Yenny Wahid tentang...
Cerita Yenny Wahid tentang Perannya saat Gus Dur Menjabat Presiden
Krisis Moral: Membongkar...
Krisis Moral: Membongkar Lapisan Kebohongan di Dunia Modern
Jelang Hari Bhayangkara,...
Jelang Hari Bhayangkara, Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur
HIBT Indonesia Pererat...
HIBT Indonesia Pererat Simpul Kebersamaan dengan Warga dan Komunitas di Bekasi
Gelar Ngabuburit Hukum,...
Gelar Ngabuburit Hukum, LBH Gema Keadilan Dorong Advokat Perkuat Semangat Perjuangan
Rekomendasi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa Selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi...
Ombudsman Mengaku Dihalang-halangi saat Sidak Lapas Kelas IIA Cibinong
Berita Terkini
Ungkap Kondisi Terkini...
Ungkap Kondisi Terkini Dokter Tifa, Kuasa Hukum: Masih Terpasang Infus
Kuasa Hukum Prioritaskan...
Kuasa Hukum Prioritaskan Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan saat Penyerahan ke Kejaksaan
Gelar Mimbar Mahasiswa,...
Gelar Mimbar Mahasiswa, BEM Persatuan Indonesia Sampaikan Lima Pernyataan Sikap
Gelar Pertemuan di Ponpes...
Gelar Pertemuan di Ponpes Al Falah Ploso Kediri, Ini Tiga Seruan Masyayikh NU
Seskab Teddy Bertemu...
Seskab Teddy Bertemu Kepala BNN Komjen Suyudi, Ada Apa?
50 Tokoh Pasang Badan...
50 Tokoh Pasang Badan untuk Roy Suryo, Din Syamsuddin dan Oegroseno Ikut Jadi Penjamin
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved