Krisis Moral: Membongkar Lapisan Kebohongan di Dunia Modern

Senin, 12 Januari 2026 - 07:49 WIB
loading...
Krisis Moral: Membongkar...
Salim Ketua Dewan Pakar KPPMPI Kandidat Doctor Universitas Airlangga. Foto/istimewa
A A A
Salim

Ketua Dewan Pakar KPPMPI
Kandidat Doctor Universitas Airlangga

KRISIS moral bangsa Indonesia semakin mengkhawatirkan, seiring perkembangan zaman yang dipenuhi dengan tantangan globalisasi. Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, pemimpin dan pejabat pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, tampak semakin tergerus oleh sifat egois dan ambisi pribadi.

Rasa empati terhadap penderitaan rakyat kian memudar, sehingga kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan komitmen mereka tergerus. Sistem yang seharusnya menjadi landasan bagi kebaikan bersama malah tergantikan oleh praktik-praktik korupsi dan kepentingan sesaat.

Dalam suasana ini, kita harus merenung: ke mana arah bangsa ini? Apakah kita rela membiarkan nilai-nilai luhur bangsa terperosok dalam jurang kesenangan dan kepentingan pribadi? Sudah saatnya kita bersatu untuk membangkitkan kembali rasa keadilan dan kasih sayang, demi masa depan yang lebih cerah dan bermartabat. Mari kita ubah krisis ini menjadi momentum untuk memperbaiki dan membangun moralitas yang lebih kuat.

Krisis moral semakin melanda, berakar dari kebohongan yang terjalin dalam tatanan keluarga, masyarakat, dan negara. Filsafat manusia mengajarkan bahwa sifat cenderung berbohong akan membentuk struktur yang rapuh, hanya menunggu waktu untuk ambruk. Sejarawan dan pemimpin yang sering menipu rakyatnya seperti Joseph Stalin dan mantan presiden Amerika Serikat yang terlibat skandal menjadi contoh nyata bahwa kebohongan tidak bisa bertahan lama.

Dalam dunia hiburan, artis papan atas seperti Kevin Spacey dan Harvey Weinstein, yang terperangkap dalam skandal, membuktikan bahwa kepalsuan akan terungkap pada akhirnya. Kebohongan terbesar adalah kebohongan terhadap diri sendiri, yang menjadi cikal bakal kesombongan yang sangat tidak disukai Tuhan. Ketika individu gagal jujur kepada diri sendiri, seluruh tatanan moral masyarakat mulai runtuh, menciptakan dampak yang merusak bagi peradaban.

Karakter geografi dan lingkungan di sekitar kita memainkan peran penting dalam pembentukan anak dan remaja. Saat ini, generasi muda jauh berbeda dari generasi sebelumnya, terpengaruh oleh perkembangan teknologi dan nilai-nilai yang berubah. Orang tua, teman, dan lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter individu. Ketidakmampuan untuk menginternalisasi nilai-nilai baik dapat mengakibatkan hilangnya karakter, yang akan berimplikasi serius ketika anak-anak ini dewasa.

Filsafat dunia modern sering menggambarkan bahwa banyak dari apa yang kita lihat sebagai kemajuan hanya bersifat semu, menjebak kita dalam lingkaran hawa setan yang merusak peradaban. Manusia seharusnya menjadi pemelihara kehidupan dan penyeimbang alam, tetapi ego dan naluri iblis sering kali mendominasi, menghancurkan potensi sejatinya. Di tengah segala tantangan ini, kekerasan dan penindasan berakar dari pembinaan hati yang tidak memadai dan pengelolaan emotional intelligence yang lemah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dilantik Jadi Jampidsus,...
Dilantik Jadi Jampidsus, Kuntadi Janji Tuntaskan Kasus Besar hingga Evaluasi Perkara
Kejagung Dijadwalkan...
Kejagung Dijadwalkan Periksa Febrie Adriansyah Hari Ini, Sebelumnya Mangkir
Samin Tan Cs Segera...
Samin Tan Cs Segera Disidang Kasus Korupsi Tambang
KPK Periksa Sekjen Kementerian...
KPK Periksa Sekjen Kementerian ATR/BPN dan Pejabat Kemenhut terkait Kasus Bupati Kuansing
KPK Panggil 4 Tersangka...
KPK Panggil 4 Tersangka Kasus Suap Dana Hibah Jatim
KPK Panggil Bupati Penajam...
KPK Panggil Bupati Penajam Paser Utara terkait Kasus Gratifikasi di Kukar
Uang Senilai Rp185 Miliar...
Uang Senilai Rp185 Miliar dan 40 Kg Emas Disita, Lagi-lagi Terkait Korupsi Wakil Menteri
PM Irak Pernah Ditawari...
PM Irak Pernah Ditawari Suap Rp3,5 Triliun, tapi Justru Bentuk Badan Pemberantasan Korupsi
Kasus Dugaan Korupsi...
Kasus Dugaan Korupsi Bupati Fadia Arafiq Dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang
Rekomendasi
Serial My Chef In Crime...
Serial My Chef In Crime Segera Tayang di VISION+, Gabungkan Misteri Kriminal dengan Dunia Kuliner
Tingkatkan Nilai Jual...
Tingkatkan Nilai Jual TBS, 133 Pekebun Muara Enim Ikuti Pelatihan Panen Sawit
Perjalanan Kereta Lebih...
Perjalanan Kereta Lebih Tenang, Ada Perlindungan untuk Keterlambatan dan Pembatalan
Berita Terkini
Pemeriksaan Febrie Adriansyah...
Pemeriksaan Febrie Adriansyah di Kejagung, Eks Penyidik KPK: Penahanan Penting agar Penyidikan Tak Diintervensi
Kritisi Rapat Pleno...
Kritisi Rapat Pleno IX AMPI, Wasekjen Leriadi: Produknya Cacat Hukum
Petani Tebu yang Belum...
Petani Tebu yang Belum Merdeka
Pemerintah Perkuat Pengelolaan...
Pemerintah Perkuat Pengelolaan Dana Lingkungan Hidup via BPDLH
Hormati Putusan MK,...
Hormati Putusan MK, Komdigi Siap Kaji Aturan Kuota Internet
Kasus Korupsi MBG, Kejagung...
Kasus Korupsi MBG, Kejagung Buka Kemungkinan Periksa Nanik S Deyang
Infografis
Ranking FIFA usai Piala...
Ranking FIFA usai Piala Dunia 2026: Spanyol Gusur Argentina dari Takhta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved