Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi, Banyak Orang Depresi dan Cemas
Selasa, 08 September 2020 - 14:53 WIB
loading...
A
A
A
Ironisnya, pada laporan swaperiksa PDSKJI per Mei 2020, dari keseluruhan responden yang menunjukkan gejala depresi, 49 persen di antaranya berpikir tentang kematian atau melukai diri sendiri.
Demikian juga Tim Sinergi Mahadata Tanggap Covid-19 UI yang menyatakan bahwa permasalahan kesehatan jiwa memang sangat genting. Hal itu dilandasi argumen mengenai proporsi orang dengan gejala depresi yang telah menyentuh angka lebih dari 35 persen pada masa pandemi.
Mereka menegaskan angka tersebut lebih tinggi 5-6 kali jika dibandingkan dengan kejadian depresi di masyarakat secara umum jika dilihat dari Riset Kesehatan Dasar 2018. Selain itu, lebih besar 2-3 kali jika dibandingkan dengan angka kejadian depresi pada kejadian bencana non-pandemi lain.
"Tak bisa diabaikan bahwa pandemi juga mempertontonkan potret isolasi sosial, kecemasan terhadap kondisi finansial maupun ketakutan terhadap risiko penularan Covid-19 yang akhirnya mengakibatkan banyak orang mengalami gejala-gejala depresi dan kecemasan yang tinggi," kata Peneliti bidang Sosial TII Nopitri Wahyuni melalui keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Selasa (8/9/2020).
Stres merupakan hal normal dalam situasi krisis, Namun, lanjut Nopitri, akan menjadi persoalan ketika dihadapkan dengan beberapa konteks.
Demikian juga Tim Sinergi Mahadata Tanggap Covid-19 UI yang menyatakan bahwa permasalahan kesehatan jiwa memang sangat genting. Hal itu dilandasi argumen mengenai proporsi orang dengan gejala depresi yang telah menyentuh angka lebih dari 35 persen pada masa pandemi.
Mereka menegaskan angka tersebut lebih tinggi 5-6 kali jika dibandingkan dengan kejadian depresi di masyarakat secara umum jika dilihat dari Riset Kesehatan Dasar 2018. Selain itu, lebih besar 2-3 kali jika dibandingkan dengan angka kejadian depresi pada kejadian bencana non-pandemi lain.
"Tak bisa diabaikan bahwa pandemi juga mempertontonkan potret isolasi sosial, kecemasan terhadap kondisi finansial maupun ketakutan terhadap risiko penularan Covid-19 yang akhirnya mengakibatkan banyak orang mengalami gejala-gejala depresi dan kecemasan yang tinggi," kata Peneliti bidang Sosial TII Nopitri Wahyuni melalui keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Selasa (8/9/2020).
Stres merupakan hal normal dalam situasi krisis, Namun, lanjut Nopitri, akan menjadi persoalan ketika dihadapkan dengan beberapa konteks.
Lihat Juga :