Hari Pancasila: Zakat Pilar Keadilan Sosial, Sinergi Filantropi Islam dan Asta Cita Presiden Prabowo
Minggu, 01 Juni 2025 - 16:00 WIB
loading...
A
A
A
Delapan misi strategis (Asta Cita) Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mencerminkan arah pembangunan nasional yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan sosial. Dalam konteks ini, zakat memainkan peran penting sebagai penghubung antara misi keagamaan dan kebijakan negara.
Misal, misi pertama Asta Cita menekankan swasembada pangan dan ekonomi kreatif. BAZNAS menjawab tantangan ini dengan menghadirkan program pemberdayaan ekonomi seperti ZMart (pemberdayaan warung mikro), ZChicken (wirausaha ayam siap saji), dan Balai Ternak serta Lumbung Pangan yang menciptakan ekosistem ketahanan pangan berbasis komunitas. Program ini tidak hanya menyasar bantuan konsumtif, tetapi menciptakan lapangan kerja dan penghidupan berkelanjutan.
Sementara itu, misi kelima Asta Cita — membangun dari desa dan memberantas kemiskinan — sejalan dengan pendekatan BAZNAS melalui Zakat Community Development (ZCD). Pendekatan ini mengintegrasikan intervensi sosial, ekonomi, dan advokasi berbasis komunitas. ZCD hadir di wilayah tertinggal dan terpencil, dan terbukti mampu menurunkan prevalensi stunting serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.
Dari Mustahik ke Muzaki: Narasi Transformasi Sosial
Keunggulan pengelolaan zakat nasional tidak terletak pada besar kecilnya angka penyaluran, tetapi pada dampak sosialnya. Salah satu indikator utama keberhasilan program zakat adalah terjadinya transformasi mustahik (penerima zakat) menjadi muzaki (pemberi zakat).
Program seperti BAZNAS Microfinance di desa dan masjid, serta Santripreneur, telah melahirkan pelaku usaha mikro yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari mata rantai kebaikan. Inilah konsep "berdaya untuk berbagi" yang menjadi tujuan jangka panjang zakat. Upaya ini sejalan dengan misi keempat Asta Cita yang menitikberatkan pada pengembangan SDM dan pemberdayaan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan perempuan kepala keluarga.
Pemberdayaan disabilitas melalui pelatihan keterampilan, dukungan modal, dan jaminan kesehatan merupakan bentuk nyata keberpihakan zakat terhadap kelompok yang sering terpinggirkan. Zakat tidak hanya menyentuh sisi ekonomi, tetapi juga memulihkan martabat dan memperkuat kohesi sosial.
Misal, misi pertama Asta Cita menekankan swasembada pangan dan ekonomi kreatif. BAZNAS menjawab tantangan ini dengan menghadirkan program pemberdayaan ekonomi seperti ZMart (pemberdayaan warung mikro), ZChicken (wirausaha ayam siap saji), dan Balai Ternak serta Lumbung Pangan yang menciptakan ekosistem ketahanan pangan berbasis komunitas. Program ini tidak hanya menyasar bantuan konsumtif, tetapi menciptakan lapangan kerja dan penghidupan berkelanjutan.
Sementara itu, misi kelima Asta Cita — membangun dari desa dan memberantas kemiskinan — sejalan dengan pendekatan BAZNAS melalui Zakat Community Development (ZCD). Pendekatan ini mengintegrasikan intervensi sosial, ekonomi, dan advokasi berbasis komunitas. ZCD hadir di wilayah tertinggal dan terpencil, dan terbukti mampu menurunkan prevalensi stunting serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat desa.
Dari Mustahik ke Muzaki: Narasi Transformasi Sosial
Keunggulan pengelolaan zakat nasional tidak terletak pada besar kecilnya angka penyaluran, tetapi pada dampak sosialnya. Salah satu indikator utama keberhasilan program zakat adalah terjadinya transformasi mustahik (penerima zakat) menjadi muzaki (pemberi zakat).
Program seperti BAZNAS Microfinance di desa dan masjid, serta Santripreneur, telah melahirkan pelaku usaha mikro yang tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu menjadi bagian dari mata rantai kebaikan. Inilah konsep "berdaya untuk berbagi" yang menjadi tujuan jangka panjang zakat. Upaya ini sejalan dengan misi keempat Asta Cita yang menitikberatkan pada pengembangan SDM dan pemberdayaan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas dan perempuan kepala keluarga.
Pemberdayaan disabilitas melalui pelatihan keterampilan, dukungan modal, dan jaminan kesehatan merupakan bentuk nyata keberpihakan zakat terhadap kelompok yang sering terpinggirkan. Zakat tidak hanya menyentuh sisi ekonomi, tetapi juga memulihkan martabat dan memperkuat kohesi sosial.
Lihat Juga :