Pakar Kepemiluan Jerman Sebut Alokasi Kursi Parlemen RI Langgar UU, Tawarkan Sistem Campuran
Jum'at, 23 Mei 2025 - 21:50 WIB
loading...
A
A
A
Dia menuturkan sistem campuran adalah jalan tengah yang realistis dan tidak terlalu asing bagi pemilih Indonesia. “Model ini masih bernapas proporsional, sehingga tidak menyulitkan publik untuk beradaptasi,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi II DPR Zulfikar Arse Sadikin menilai sistem proporsional terbuka masih lebih menguntungkan. Dia mengingatkan perubahan sistem pemilu Indonesia sejak 2004 berlangsung secara bertahap.
"Kalau ada perubahan ke sistem campuran, beloknya terlalu tajam, menikung, mengubah secara drastis," kata legislator Partai Golkar itu.
Zulfikar juga menampik anggapan bahwa sistem terbuka membuat anggota DPR lebih liar dan tidak tunduk pada partai. “Lihat saja Firman Soebagyo. Beberapa kali jadi pimpinan AKD, tapi tetap patuh pada garis Fraksi. Saya pun begitu,” ucapnya.
Wakil Ketua Komisi II DPR Zulfikar Arse Sadikin menilai sistem proporsional terbuka masih lebih menguntungkan. Dia mengingatkan perubahan sistem pemilu Indonesia sejak 2004 berlangsung secara bertahap.
"Kalau ada perubahan ke sistem campuran, beloknya terlalu tajam, menikung, mengubah secara drastis," kata legislator Partai Golkar itu.
Zulfikar juga menampik anggapan bahwa sistem terbuka membuat anggota DPR lebih liar dan tidak tunduk pada partai. “Lihat saja Firman Soebagyo. Beberapa kali jadi pimpinan AKD, tapi tetap patuh pada garis Fraksi. Saya pun begitu,” ucapnya.
(jon)
Lihat Juga :