Pesan Damai Menteri Agama dari Hartford-USA: Menyatukan Dunia melalui Dialog Lintas Iman
Jum'at, 16 Mei 2025 - 20:58 WIB
loading...
A
A
A
Jika nilai ini dapat diinternalisasi dan diterapkan dalam relasi internasional, maka upaya “rekonsiliasi” antara negara-negara yang memiliki sejarah panjang konflik sektarian seperti India dan Pakistan, Israel dan Palestina, atau bahkan Rusia dan Ukraina, dapat menemukan jalan keluar yang lebih substansial dan bermartabat.
Pendidikan seperti inilah yang harus diperluas secara global, karena dialog dan perdamaian tidak dapat dibangun dari senjata, tetapi dari pemahaman, kepercayaan antarmanusia dan kasih saying atau cinta. Dalam konteks ini sudah sangat tepat kiranya Program Prioritas Menteri Agama RI menempatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan sebagai urutan pertama yang menunjukan sebagai fondasi utama dari program prioritas yang lain.
Akhirnya dunia membutuhkan lebih banyak negarawan dan tokoh agama yang mampu berbicara melampaui batas nasional, sektarian akan tetapi tampil ke pentas global menjadi cahaya bagi dunia. Membangun peradaban dunia yang damai tidak bisa terus-menerus bergantung pada narasi dan pendekatan militeristik ansich atau dominasi ekonomi semata. Dalam suasana global yang terus dirundung ketidakpastian, gagasan Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. tentang pentingnya kesamaan spiritual, pengakuan terhadap keragaman, dan dedikasi pada perdamaian merupakan fondasi kuat bagi rekonsiliasi dunia menuju perdamaian dunia yang abadi (long lasting peaceful global citizenship). Semoga, lets contributoing to peace together.
Pendidikan Lintas Agama Berbasis Cinta dan Kemanusiaan
Pidato kunci Menteri Agama RI yang disampaikan dalam rangka pemberian Dr. Hc dan sekaligus dalam rangkaian acara wisuda tersebut juga menyinggung pentingnya pendidikan lintas agama dan pertukaran budaya akademik sebagai modal diplomasi perdamaian. Pendidikan harus dapat mencetak duta perdamaian dengan paradigma kurikulum berbasis cinta dan kasih sayang. Prof. Nasaruddin Umar memprakarsai pengiriman mahasiswa Indonesia ke Hartford International University untuk mendalami epistemologi tafsir, toleransi, dan pluralisme secara langsung di lingkungan akademik multikultural.Pendidikan seperti inilah yang harus diperluas secara global, karena dialog dan perdamaian tidak dapat dibangun dari senjata, tetapi dari pemahaman, kepercayaan antarmanusia dan kasih saying atau cinta. Dalam konteks ini sudah sangat tepat kiranya Program Prioritas Menteri Agama RI menempatkan Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan sebagai urutan pertama yang menunjukan sebagai fondasi utama dari program prioritas yang lain.
Akhirnya dunia membutuhkan lebih banyak negarawan dan tokoh agama yang mampu berbicara melampaui batas nasional, sektarian akan tetapi tampil ke pentas global menjadi cahaya bagi dunia. Membangun peradaban dunia yang damai tidak bisa terus-menerus bergantung pada narasi dan pendekatan militeristik ansich atau dominasi ekonomi semata. Dalam suasana global yang terus dirundung ketidakpastian, gagasan Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. tentang pentingnya kesamaan spiritual, pengakuan terhadap keragaman, dan dedikasi pada perdamaian merupakan fondasi kuat bagi rekonsiliasi dunia menuju perdamaian dunia yang abadi (long lasting peaceful global citizenship). Semoga, lets contributoing to peace together.
(abd)
Lihat Juga :