Dua Saudara Tua: Sinergi Indonesia-Malaysia di KTT ASEAN Plus
Minggu, 11 Mei 2025 - 08:28 WIB
loading...
A
A
A
Dalam konteks ini, ASEAN, dengan posisinya yang strategis di persimpangan perdagangan global, memiliki peluang emas untuk memperkuat kemitraan dengan berbagai blok ekonomi—dari China yang sedang naik daun hingga negara-negara Teluk yang kaya energi. Di tengah pusaran polarisasi global, ASEAN tidak bisa lagi bertumpu pada satu kekuatan besar, baik itu “Uncle Sam” Amerika Serikat, Rusia dengan ambisi geopolitiknya, maupun China dengan pengaruh ekonomi yang masif.
Ketergantungan berlebihan pada satu pihak hanya akan membuat negara-negara ASEAN menjadi pion di papan catur global. Sebaliknya, ASEAN harus tampil sebagai aktor independen dengan determinasi kuat, namun tetap terbuka untuk menjalin persahabatan lintas benua. Di sinilah peran Prabowo Subianto dan Anwar Ibrahim menjadi krusial.
Prabowo dan Anwar Ibrahim adalah dua saudara senior dalam politik kawasan yang memiliki modal unik untuk memainkan tiki-taka diplomatik yang strategis. Prabowo, dengan latar belakang militer dan jaringan luas di kalangan elite global, diharapkan bisa menjadi deal maker yang ulung.
Pengalamannya sebagai Menteri Pertahanan dan koneksi dengan kekuatan militer kawasan menjadikannya figur yang disegani untuk memperkuat posisi ASEAN dalam isu-isu keamanan regional. Di sisi lain, Anwar Ibrahim adalah sosok yang cukup diperhitungkan di dunia Islam.
Dengan kredibilitasnya sebagai pemikir reformis dan hubungan baik dengan Barat, Anwar Ibrahim mampu menjembatani dialog antara Timur dan Barat, Utara dan Selatan. Sinergi keduanya bisa menjadi game-changer. Teori soft power Joseph Nye menegaskan bahwa pengaruh sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan keras seperti militer atau ekonomi, tetapi juga kemampuan untuk memengaruhi melalui daya tarik budaya, nilai, dan diplomasi.
Prabowo dan Anwar Ibrahim, dengan kelebihan masing-masing, dapat menggabungkan hard power dan soft power untuk menempatkan ASEAN sebagai pemain tengah yang netral namun berpengaruh di panggung global. ASEAN bukan sekadar satelit kekuatan besar, melainkan mediator yang mampu meredam ketegangan dan membangun jembatan. Ini lah yang disebut oleh Nye dalam penjelasannya kemudian, bahwa gabungan dari soft power dan hard power, melahirkan smart power.
Ketergantungan berlebihan pada satu pihak hanya akan membuat negara-negara ASEAN menjadi pion di papan catur global. Sebaliknya, ASEAN harus tampil sebagai aktor independen dengan determinasi kuat, namun tetap terbuka untuk menjalin persahabatan lintas benua. Di sinilah peran Prabowo Subianto dan Anwar Ibrahim menjadi krusial.
Tiki-Taka Diplomasi Prabowo-Anwar Ibrahim
Prabowo dan Anwar Ibrahim adalah dua saudara senior dalam politik kawasan yang memiliki modal unik untuk memainkan tiki-taka diplomatik yang strategis. Prabowo, dengan latar belakang militer dan jaringan luas di kalangan elite global, diharapkan bisa menjadi deal maker yang ulung.
Pengalamannya sebagai Menteri Pertahanan dan koneksi dengan kekuatan militer kawasan menjadikannya figur yang disegani untuk memperkuat posisi ASEAN dalam isu-isu keamanan regional. Di sisi lain, Anwar Ibrahim adalah sosok yang cukup diperhitungkan di dunia Islam.
Dengan kredibilitasnya sebagai pemikir reformis dan hubungan baik dengan Barat, Anwar Ibrahim mampu menjembatani dialog antara Timur dan Barat, Utara dan Selatan. Sinergi keduanya bisa menjadi game-changer. Teori soft power Joseph Nye menegaskan bahwa pengaruh sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan keras seperti militer atau ekonomi, tetapi juga kemampuan untuk memengaruhi melalui daya tarik budaya, nilai, dan diplomasi.
Prabowo dan Anwar Ibrahim, dengan kelebihan masing-masing, dapat menggabungkan hard power dan soft power untuk menempatkan ASEAN sebagai pemain tengah yang netral namun berpengaruh di panggung global. ASEAN bukan sekadar satelit kekuatan besar, melainkan mediator yang mampu meredam ketegangan dan membangun jembatan. Ini lah yang disebut oleh Nye dalam penjelasannya kemudian, bahwa gabungan dari soft power dan hard power, melahirkan smart power.
Lihat Juga :