Menkes Ungkap Alasan Bill Gates Uji Coba Vaksin TBC di Indonesia
Kamis, 08 Mei 2025 - 20:41 WIB
loading...
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan kepada media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/5/2025). FOTO/BINTI MUFARIDA
A
A
A
JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan alasan Indonesia menjadi salah satu tempat uji klinis tahap 3 vaksin Tuberkulosis ( TBC ) yang dikembangkan oleh Gates Foundation milik pendiri Microsoft Bill Gates . Menurutnya, TBC kini menjadi penyakit menular paling mematikan di Indonesia.
"TBC itu sekarang adalah penyakit menular pembunuh nomor satu di Indonesia. Lebih dari 100 ribu orang meninggal setiap tahun. Ini lebih banyak dari COVID kalau dijumlah 5 tahun terakhir," kata Budi Gunadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (8/5/2025).
Menkes mengungkapkan vaksin TBC baru ini tengah diuji di tujuh negara, termasuk Indonesia. Uji coba tahap 3 ini merupakan fase penentu untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas vaksin sebelum diproduksi massal. Indonesia mengambil peran penting dalam proses ini, tak hanya sebagai peserta uji coba, tapi juga sebagai calon produsen.
"Dengan kita lakukan clinical trial level 3, kita bisa tahu lebih dulu kecocokannya dengan orang kita. Karena itu tergantung genetiknya juga. Yang kedua, kita bisa mendapatkan akses terhadap teknologi vaksin ini. Karena ilmuwan-ilmuwan kita kan dilibatkan. Ini kerjasama dengan UNPAD dan Universitas Indonesia," ujar Budi Gunadi.
"TBC itu sekarang adalah penyakit menular pembunuh nomor satu di Indonesia. Lebih dari 100 ribu orang meninggal setiap tahun. Ini lebih banyak dari COVID kalau dijumlah 5 tahun terakhir," kata Budi Gunadi di Kompleks Istana Kepresidenan, Kamis (8/5/2025).
Menkes mengungkapkan vaksin TBC baru ini tengah diuji di tujuh negara, termasuk Indonesia. Uji coba tahap 3 ini merupakan fase penentu untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas vaksin sebelum diproduksi massal. Indonesia mengambil peran penting dalam proses ini, tak hanya sebagai peserta uji coba, tapi juga sebagai calon produsen.
"Dengan kita lakukan clinical trial level 3, kita bisa tahu lebih dulu kecocokannya dengan orang kita. Karena itu tergantung genetiknya juga. Yang kedua, kita bisa mendapatkan akses terhadap teknologi vaksin ini. Karena ilmuwan-ilmuwan kita kan dilibatkan. Ini kerjasama dengan UNPAD dan Universitas Indonesia," ujar Budi Gunadi.
Lihat Juga :