Ibas Soroti Isu AI dan Perubahan Iklim di Universiti Malaya
Jum'at, 02 Mei 2025 - 17:43 WIB
loading...
A
A
A
Di hadapan mahasiswa Universiti Malaya, dia kemudian melanjutkan pemaparannya membahas tentang perubahan iklim. “Dapatkah kita membangun negara kita tanpa merusak planet kita? Saya yakin, ya, kita bisa dan harus melakukannya!” kata Ibas.
Ibas kemudian menegaskan bahwa solusi memperbaiki isu perubahan iklim dan kerusakan bukan menunda demi pertumbuhan ekonomi, karena keduanya bisa dan harus berjalan beriringan.
“Beberapa orang berpendapat jika ekonomi sedang terpuruk, kita harus fokus pada pertumbuhan terlebih dahulu dan memikirkan lingkungan kemudian. Namun, itu pandangan yang picik. Jika kita mengorbankan lingkungan sekarang, keuntungan ekonomi mungkin tidak akan bertahan lama,” tekannya.
“Yang baik adalah PDB (ekonomi) tinggi, pertumbuhan berkeadilan tinggi, dan kita juga dapat menjaga lingkungan, dapat menghirup udara bersih dan meminum air bersih.”
“Baik Malaysia maupun Indonesia telah melihat kasus di mana perusahaan mengejar keuntungan dan menyebabkan penggundulan hutan atau menciptakan polusi, hingga merugikan masyarakat setempat. Itu harus diubah. Pemerintah harus menanggapinya.”
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur (Jatim) VII ini kemudian menyampaikan bahwa baik Indonesia maupun Malaysia telah mengambil beberapa langkah positif, seperti larangan plastik sekali pakai di Malaysia dan tindakan hukum pembakaran hutan ilegal di Indonesia, serta penanaman 2 miliar pohon.
“Indonesia dan Malaysia juga merupakan bagian dari Perjanjian Paris. Malaysia dan Indonesia telah berjanji untuk meningkatkan energi terbarukan, menggunakan dan mencapai status netral karbon sekitar pertengahan abad ini,” ujarnya.
Dia menggarisbawahi bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Jika satu negara mencemari, dampaknya dapat menyebar ke semua negara tetangga. “Seperti kata orang, kabut asap tidak memerlukan paspor untuk melintasi perbatasan, bukan? Itulah sebabnya kerja sama regional sangat penting.”
Ibas kemudian menegaskan bahwa solusi memperbaiki isu perubahan iklim dan kerusakan bukan menunda demi pertumbuhan ekonomi, karena keduanya bisa dan harus berjalan beriringan.
“Beberapa orang berpendapat jika ekonomi sedang terpuruk, kita harus fokus pada pertumbuhan terlebih dahulu dan memikirkan lingkungan kemudian. Namun, itu pandangan yang picik. Jika kita mengorbankan lingkungan sekarang, keuntungan ekonomi mungkin tidak akan bertahan lama,” tekannya.
“Yang baik adalah PDB (ekonomi) tinggi, pertumbuhan berkeadilan tinggi, dan kita juga dapat menjaga lingkungan, dapat menghirup udara bersih dan meminum air bersih.”
“Baik Malaysia maupun Indonesia telah melihat kasus di mana perusahaan mengejar keuntungan dan menyebabkan penggundulan hutan atau menciptakan polusi, hingga merugikan masyarakat setempat. Itu harus diubah. Pemerintah harus menanggapinya.”
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur (Jatim) VII ini kemudian menyampaikan bahwa baik Indonesia maupun Malaysia telah mengambil beberapa langkah positif, seperti larangan plastik sekali pakai di Malaysia dan tindakan hukum pembakaran hutan ilegal di Indonesia, serta penanaman 2 miliar pohon.
“Indonesia dan Malaysia juga merupakan bagian dari Perjanjian Paris. Malaysia dan Indonesia telah berjanji untuk meningkatkan energi terbarukan, menggunakan dan mencapai status netral karbon sekitar pertengahan abad ini,” ujarnya.
Dia menggarisbawahi bahwa perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Jika satu negara mencemari, dampaknya dapat menyebar ke semua negara tetangga. “Seperti kata orang, kabut asap tidak memerlukan paspor untuk melintasi perbatasan, bukan? Itulah sebabnya kerja sama regional sangat penting.”
Lihat Juga :