AI Harus Dimanfaatkan untuk Kepentingan Manusia
Senin, 21 April 2025 - 19:16 WIB
loading...
A
A
A
Hal ini harus dibicarakan Bersama antara regulator (pemerintah) dan juga inovator (pengembang AI) untuk membicarakan timbal balik yang harus didapatkan masyarakat ketika mereka menjadi kontributor pengembang AI. Para kontributor pengembang AI sudah menerima bayaran. Sedangkan, di Indonesia hal tersebut belum diterapkan," kata Jimmy dalam acara yang diselenggarakan oleh BINUS University di Bandung, Senin (21/4/2025).
Adapun menurut Jimmy, sektor-sektor di mana masyarakat dapat menggunakan AI secara efektif adalah di sales dan marketing, jasa finansial, dan industri kreatif. "Manusia hanya butuh lebih kritis dan lebih kreatif untuk memperoleh manfaat dari keberadaan AI," tandas Jimmy.
Pendapat senada diungkapkan oleh Dr. Peri Akbar Manaf yang merupakan dosen Manajemen Bisnis BINUS University. Ia menyatakan bahwa selama ini konten-konten yang diunggah oleh masyarakat bawah dijadikan komoditas. Maka itu, ia mengajak seluruh masyarakat agar tidak hanya menjadi komoditas namun juga mengambil keuntungan dari perkembangan AI. Diperlukan kemauan kuat bagi masyrakat untuk mempelajari AI di tengah aksesnya yang semakin mudah.
"History behaviour konsumsi kita dijadikan referensi oleh ekosistem market digital. Apabila mereka dapat mengenali kita maka kita dapat memanfaatkan data tersebut untuk kepentingan kita mencari pasar yang sesuai apabila kita ingin terjun di dalam ekosistem bisnis yang ssudah ada. Misalnya, bapak-ibu dapat memanfaatkan konten dan meteri yang dimiliki dan menjadi affiliate marketer sehingga membawa keuntungan ekonomi juga bagi bapak dan ibu, Sudah mulai banyak AI yang tidak berbayar tinggal bagaimana kemauan kita untuk mempelajarinya dan memanfaatkan AI," kata Peri dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, CEO sekaligus Founder WIT Indonesia Irfan Arfandi menyatakan bahwa penting bagi masyarakat memanfaatkan AI untuk aktivitas yang bersifat task force atau mengerjakan tugas-tugas agar mempermudah pekerjaan kita. Ia menekankan bahwa manusia tetap harus menjadi decision maker atau pembuat keputusan terlepas dari saran-saran atau hasil analisa yang dihasilkan AI.
"Kita harus menggunakan AI untuk aktivitas yang bersifat task force untuk mempermudah pekerjaan. Namun, hal-hal yang bersifat problems, kita harus mengambil keputusan sendiri jangan sampai AI yang mengambil keputusan," kata Irfan pada acara tersebut.
Adapun menurut Jimmy, sektor-sektor di mana masyarakat dapat menggunakan AI secara efektif adalah di sales dan marketing, jasa finansial, dan industri kreatif. "Manusia hanya butuh lebih kritis dan lebih kreatif untuk memperoleh manfaat dari keberadaan AI," tandas Jimmy.
Pendapat senada diungkapkan oleh Dr. Peri Akbar Manaf yang merupakan dosen Manajemen Bisnis BINUS University. Ia menyatakan bahwa selama ini konten-konten yang diunggah oleh masyarakat bawah dijadikan komoditas. Maka itu, ia mengajak seluruh masyarakat agar tidak hanya menjadi komoditas namun juga mengambil keuntungan dari perkembangan AI. Diperlukan kemauan kuat bagi masyrakat untuk mempelajari AI di tengah aksesnya yang semakin mudah.
"History behaviour konsumsi kita dijadikan referensi oleh ekosistem market digital. Apabila mereka dapat mengenali kita maka kita dapat memanfaatkan data tersebut untuk kepentingan kita mencari pasar yang sesuai apabila kita ingin terjun di dalam ekosistem bisnis yang ssudah ada. Misalnya, bapak-ibu dapat memanfaatkan konten dan meteri yang dimiliki dan menjadi affiliate marketer sehingga membawa keuntungan ekonomi juga bagi bapak dan ibu, Sudah mulai banyak AI yang tidak berbayar tinggal bagaimana kemauan kita untuk mempelajarinya dan memanfaatkan AI," kata Peri dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, CEO sekaligus Founder WIT Indonesia Irfan Arfandi menyatakan bahwa penting bagi masyarakat memanfaatkan AI untuk aktivitas yang bersifat task force atau mengerjakan tugas-tugas agar mempermudah pekerjaan kita. Ia menekankan bahwa manusia tetap harus menjadi decision maker atau pembuat keputusan terlepas dari saran-saran atau hasil analisa yang dihasilkan AI.
"Kita harus menggunakan AI untuk aktivitas yang bersifat task force untuk mempermudah pekerjaan. Namun, hal-hal yang bersifat problems, kita harus mengambil keputusan sendiri jangan sampai AI yang mengambil keputusan," kata Irfan pada acara tersebut.
(abd)
Lihat Juga :