AI Harus Dimanfaatkan untuk Kepentingan Manusia
Senin, 21 April 2025 - 19:16 WIB
loading...
Diskusi AI yang digelar oleh Komunitas Teknologi Informasi CITCOM dan BINUS University. FOTO/IST
A
A
A
JAKARTA - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan harus dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Untuk itu, manusia juga perlu menggunakan ekosistem yang disediakan AI untuk kegiatan-kegiatan produktif, terutama di bidang ekonomi.
Hal itu disepakati oleh para narasumber diskusi yang membahas peran dan masa depan AI dan bisnis digital. Adapun diskusi digelar oleh Komunitas Teknologi Informasi CITCOM dan BINUS University.
Para pembicara juga sepakat perlu pelibatan bersama masyarakat, para pengembang AI dan regulator atau pemerintah untuk membicarakan mekanisme atau langkah yang harus ditempuh ke depan.
Mereka menilai sangat penting untuk duduk bersama berbicara bagaimana supaya AI dapat membawa kebermanfaatan bagi masyarakat Indonesia bahkan umat manusia secara keseluruhan.
Mereka tak ingin manusia hanya menjadi bahan untuk mengembangkan AI tanpa mengambil manfaat dari ekosistem yang dihasilkan oleh AI itu sendiri.
Di dalam diskusi ini, para pembicara menekankan mengenai pentingnya masyarakat untuk mengenal dan mempelajari AI lebih jauh agar dapat mengoptimalkan manfaat AI dan tidak hanya menjadi komoditas yang hanya diambil manfaatnya oleh AI.
Acara ini merupakan acara pendahulu sebelum diselenggarakannya Citcom Connext 2025. Acara Citcom Connext 2025 akan diselenggarakan di Hotel El Royale, Bandung pada Selasa (22/4/2025). Konferensi teknologi informasi dan AI ini diselenggarakan oleh Citcom (C-Level IT Community), yang merupakan wadah para pemimpin Perusahaan IT di Indonesia.
Berdasarkan informasi dari laman resmi connext citcom dan akun Instagram Citcom indonesia, konferensi Connext 2025 ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Menteri Komunikasi Digital RI Meutya Hafid, Walikota Bandung Muhammad Farhan, Filsuf dan Praktisi AI Sabrang Mowo Damar Panuluh serta CTO dan Sporting Director Persib Bandung Adhitia Hermawan.
Salah seorang narasumber, yang juga merupakan ketua Citcom Connext 2025 Jimmy Yogaswara menegaskan bahwa regulator dan inovator harus duduk bersama agar masyarakat siap untuk menyambut era AI. Selama ini, manusia dimanfaatkan menjadi tenaga kerja tak berbayar atau invisible labour bagi kecerdasan buatan untuk mengembangkannya.
Baca juga: Industri Pertahanan Butuh AI dan Elektronika, Wamenhan Donny Minta BRIN Perbanyak Penelitian
"Selama ini kita menjadi invisible labour yang mensuplai berbagai konten dan materi yang menjadi bahan mengembangkan Artificial Intelligence. Kita memproduksi namun tidak mendapatkan imbal bali," kata Mereka akan membahas peluang dan trend terbaru AI di Indonesia serta peranan AI dalam berbagai sektor termasuk bisnis, regulasi, dan olahraga.
Hal ini harus dibicarakan Bersama antara regulator (pemerintah) dan juga inovator (pengembang AI) untuk membicarakan timbal balik yang harus didapatkan masyarakat ketika mereka menjadi kontributor pengembang AI. Para kontributor pengembang AI sudah menerima bayaran. Sedangkan, di Indonesia hal tersebut belum diterapkan," kata Jimmy dalam acara yang diselenggarakan oleh BINUS University di Bandung, Senin (21/4/2025).
Adapun menurut Jimmy, sektor-sektor di mana masyarakat dapat menggunakan AI secara efektif adalah di sales dan marketing, jasa finansial, dan industri kreatif. "Manusia hanya butuh lebih kritis dan lebih kreatif untuk memperoleh manfaat dari keberadaan AI," tandas Jimmy.
Pendapat senada diungkapkan oleh Dr. Peri Akbar Manaf yang merupakan dosen Manajemen Bisnis BINUS University. Ia menyatakan bahwa selama ini konten-konten yang diunggah oleh masyarakat bawah dijadikan komoditas. Maka itu, ia mengajak seluruh masyarakat agar tidak hanya menjadi komoditas namun juga mengambil keuntungan dari perkembangan AI. Diperlukan kemauan kuat bagi masyrakat untuk mempelajari AI di tengah aksesnya yang semakin mudah.
"History behaviour konsumsi kita dijadikan referensi oleh ekosistem market digital. Apabila mereka dapat mengenali kita maka kita dapat memanfaatkan data tersebut untuk kepentingan kita mencari pasar yang sesuai apabila kita ingin terjun di dalam ekosistem bisnis yang ssudah ada. Misalnya, bapak-ibu dapat memanfaatkan konten dan meteri yang dimiliki dan menjadi affiliate marketer sehingga membawa keuntungan ekonomi juga bagi bapak dan ibu, Sudah mulai banyak AI yang tidak berbayar tinggal bagaimana kemauan kita untuk mempelajarinya dan memanfaatkan AI," kata Peri dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, CEO sekaligus Founder WIT Indonesia Irfan Arfandi menyatakan bahwa penting bagi masyarakat memanfaatkan AI untuk aktivitas yang bersifat task force atau mengerjakan tugas-tugas agar mempermudah pekerjaan kita. Ia menekankan bahwa manusia tetap harus menjadi decision maker atau pembuat keputusan terlepas dari saran-saran atau hasil analisa yang dihasilkan AI.
"Kita harus menggunakan AI untuk aktivitas yang bersifat task force untuk mempermudah pekerjaan. Namun, hal-hal yang bersifat problems, kita harus mengambil keputusan sendiri jangan sampai AI yang mengambil keputusan," kata Irfan pada acara tersebut.
Hal itu disepakati oleh para narasumber diskusi yang membahas peran dan masa depan AI dan bisnis digital. Adapun diskusi digelar oleh Komunitas Teknologi Informasi CITCOM dan BINUS University.
Para pembicara juga sepakat perlu pelibatan bersama masyarakat, para pengembang AI dan regulator atau pemerintah untuk membicarakan mekanisme atau langkah yang harus ditempuh ke depan.
Mereka menilai sangat penting untuk duduk bersama berbicara bagaimana supaya AI dapat membawa kebermanfaatan bagi masyarakat Indonesia bahkan umat manusia secara keseluruhan.
Mereka tak ingin manusia hanya menjadi bahan untuk mengembangkan AI tanpa mengambil manfaat dari ekosistem yang dihasilkan oleh AI itu sendiri.
Di dalam diskusi ini, para pembicara menekankan mengenai pentingnya masyarakat untuk mengenal dan mempelajari AI lebih jauh agar dapat mengoptimalkan manfaat AI dan tidak hanya menjadi komoditas yang hanya diambil manfaatnya oleh AI.
Acara ini merupakan acara pendahulu sebelum diselenggarakannya Citcom Connext 2025. Acara Citcom Connext 2025 akan diselenggarakan di Hotel El Royale, Bandung pada Selasa (22/4/2025). Konferensi teknologi informasi dan AI ini diselenggarakan oleh Citcom (C-Level IT Community), yang merupakan wadah para pemimpin Perusahaan IT di Indonesia.
Berdasarkan informasi dari laman resmi connext citcom dan akun Instagram Citcom indonesia, konferensi Connext 2025 ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Menteri Komunikasi Digital RI Meutya Hafid, Walikota Bandung Muhammad Farhan, Filsuf dan Praktisi AI Sabrang Mowo Damar Panuluh serta CTO dan Sporting Director Persib Bandung Adhitia Hermawan.
Salah seorang narasumber, yang juga merupakan ketua Citcom Connext 2025 Jimmy Yogaswara menegaskan bahwa regulator dan inovator harus duduk bersama agar masyarakat siap untuk menyambut era AI. Selama ini, manusia dimanfaatkan menjadi tenaga kerja tak berbayar atau invisible labour bagi kecerdasan buatan untuk mengembangkannya.
Baca juga: Industri Pertahanan Butuh AI dan Elektronika, Wamenhan Donny Minta BRIN Perbanyak Penelitian
"Selama ini kita menjadi invisible labour yang mensuplai berbagai konten dan materi yang menjadi bahan mengembangkan Artificial Intelligence. Kita memproduksi namun tidak mendapatkan imbal bali," kata Mereka akan membahas peluang dan trend terbaru AI di Indonesia serta peranan AI dalam berbagai sektor termasuk bisnis, regulasi, dan olahraga.
Hal ini harus dibicarakan Bersama antara regulator (pemerintah) dan juga inovator (pengembang AI) untuk membicarakan timbal balik yang harus didapatkan masyarakat ketika mereka menjadi kontributor pengembang AI. Para kontributor pengembang AI sudah menerima bayaran. Sedangkan, di Indonesia hal tersebut belum diterapkan," kata Jimmy dalam acara yang diselenggarakan oleh BINUS University di Bandung, Senin (21/4/2025).
Adapun menurut Jimmy, sektor-sektor di mana masyarakat dapat menggunakan AI secara efektif adalah di sales dan marketing, jasa finansial, dan industri kreatif. "Manusia hanya butuh lebih kritis dan lebih kreatif untuk memperoleh manfaat dari keberadaan AI," tandas Jimmy.
Pendapat senada diungkapkan oleh Dr. Peri Akbar Manaf yang merupakan dosen Manajemen Bisnis BINUS University. Ia menyatakan bahwa selama ini konten-konten yang diunggah oleh masyarakat bawah dijadikan komoditas. Maka itu, ia mengajak seluruh masyarakat agar tidak hanya menjadi komoditas namun juga mengambil keuntungan dari perkembangan AI. Diperlukan kemauan kuat bagi masyrakat untuk mempelajari AI di tengah aksesnya yang semakin mudah.
"History behaviour konsumsi kita dijadikan referensi oleh ekosistem market digital. Apabila mereka dapat mengenali kita maka kita dapat memanfaatkan data tersebut untuk kepentingan kita mencari pasar yang sesuai apabila kita ingin terjun di dalam ekosistem bisnis yang ssudah ada. Misalnya, bapak-ibu dapat memanfaatkan konten dan meteri yang dimiliki dan menjadi affiliate marketer sehingga membawa keuntungan ekonomi juga bagi bapak dan ibu, Sudah mulai banyak AI yang tidak berbayar tinggal bagaimana kemauan kita untuk mempelajarinya dan memanfaatkan AI," kata Peri dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, CEO sekaligus Founder WIT Indonesia Irfan Arfandi menyatakan bahwa penting bagi masyarakat memanfaatkan AI untuk aktivitas yang bersifat task force atau mengerjakan tugas-tugas agar mempermudah pekerjaan kita. Ia menekankan bahwa manusia tetap harus menjadi decision maker atau pembuat keputusan terlepas dari saran-saran atau hasil analisa yang dihasilkan AI.
"Kita harus menggunakan AI untuk aktivitas yang bersifat task force untuk mempermudah pekerjaan. Namun, hal-hal yang bersifat problems, kita harus mengambil keputusan sendiri jangan sampai AI yang mengambil keputusan," kata Irfan pada acara tersebut.
(abd)
Lihat Juga :