Jalan Kaki ke Sekolah, Gagasan Visioner atau Sensasi?
Senin, 07 April 2025 - 11:27 WIB
loading...
A
A
A
Jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat serius menindaklanjuti kebijakan ini, diperlukan adanya koordinasi yang matang dengan berbagai pemangku kepentingan, khususnya regulasi yang mengikat agar pelaksanaannya berjalan optimal.
Beberapa negara seperti Jepang dan Australia telah sukses menerapkan kebijakan serupa. Di Jepang, anak-anak terbiasa berjalan kaki ke sekolah sebagai bagian dari pendidikan disiplin dan kemandirian.
Di Australia, program walking school bus diterapkan dengan mendampingi anak-anak berjalan kaki bersama dalam kelompok yang dipantau oleh orang dewasa.
Namun, keberhasilan program ini di Jepang dan Australia tidak terlepas dari dukungan infrastruktur yang memadai. Hal itu ditunjukkan dengan adanya trotoar yang aman, rambu-rambu lalu lintas khusus pejalan kaki, serta pengawasan dari masyarakat dan pihak berwenang.
Kondisi ini tentu saja berbeda dengan sebagian besar wilayah di Jawa Barat, di mana infrastruktur bagi pejalan kaki (pedestrian) masih sangat terbatas.
Kenyataan yang ada masih cukup banyak daerah di Jawa Barat yang belum memiliki trotoar yang layak, sementara risiko kecelakaan di jalan raya cukup tinggi karena didominasi kendaraan bermotor.
Jika program ini ingin diterapkan dengan sukses, harus ada sinergi antara kebijakan pendidikan dengan pembangunan infrastruktur.
Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa jalur pedestrian menuju sekolah sudah tersedia dengan baik sebelum mewajibkan siswa berjalan kaki.
Perbandingan dengan Jepang dan Australia
Beberapa negara seperti Jepang dan Australia telah sukses menerapkan kebijakan serupa. Di Jepang, anak-anak terbiasa berjalan kaki ke sekolah sebagai bagian dari pendidikan disiplin dan kemandirian.
Di Australia, program walking school bus diterapkan dengan mendampingi anak-anak berjalan kaki bersama dalam kelompok yang dipantau oleh orang dewasa.
Namun, keberhasilan program ini di Jepang dan Australia tidak terlepas dari dukungan infrastruktur yang memadai. Hal itu ditunjukkan dengan adanya trotoar yang aman, rambu-rambu lalu lintas khusus pejalan kaki, serta pengawasan dari masyarakat dan pihak berwenang.
Kondisi ini tentu saja berbeda dengan sebagian besar wilayah di Jawa Barat, di mana infrastruktur bagi pejalan kaki (pedestrian) masih sangat terbatas.
Kenyataan yang ada masih cukup banyak daerah di Jawa Barat yang belum memiliki trotoar yang layak, sementara risiko kecelakaan di jalan raya cukup tinggi karena didominasi kendaraan bermotor.
Jika program ini ingin diterapkan dengan sukses, harus ada sinergi antara kebijakan pendidikan dengan pembangunan infrastruktur.
Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa jalur pedestrian menuju sekolah sudah tersedia dengan baik sebelum mewajibkan siswa berjalan kaki.
Lihat Juga :