Transformasi Pengelolaan Perti di Era Transisi
Sabtu, 08 Februari 2025 - 15:00 WIB
loading...
A
A
A
Transformasi Menuju Kampus Unggul, Tangguh, dan Mandiri
Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Piihannya hanya satu adaptif atau mati. Kementerian Dikti Saintek jangan terjebak kepada paradigma membangun perti asal berganti di setiap rezim dan tidak memikirkan aspek keberlanjutan. Situasi mutakhir telah bergerak bergerak dari traditional menuju ke smart. Dari traditional services menjadi high values services, dari unskilled labors menjadi knowledge worker/high skilled labors, dari buy technologies menjadi make technologies.
Inovasi dan kreativitas menjadi kunci dan pembelajar di perti harus bisa menguatkan kerja sama dan kolaborasi multi, trans, dan interdisipliner agar bisa menjawab berbagai masalah dan memberi solusi mutakhir. Perti harus bisa menjadi solusi dan menara air bagi masyarakat dan lingkungannya.
Terkait dengan skenario masa depan perti, Prof Arif Satria (2024) mengemukakan bahwa Perti bisa memilih menjadi 1) The future skill university dengan menguatkan pengembangan softskill masa depan. Perti juga bisa memilih menjadi 2) The network university dengan membangun model stau institusi menjadi multi institusi yang berkolaborasi. Perti bisa juga memilih menjadi 3) The lifelong higher learning scenario. Perti bisa memperbanyak working space dimana mahasiswa bisa bertemu dengan dudi sesuai dengan skill personal yang dibutuhkan dunia insutri.
Lalu perti juga bisa memilih menjadi 4) The my university scenario dimana mahasiswa bisa menyusun dan membangun kurikulum sendiri sesuai dengan interests personal mereka. Pilihan Universitas membangun sdm unggul yang bisa menghasilkan technopreneur, sociopreneur, tenaga profesional dengan inovasi unggul berkelanjutan. Sekali lagi inovasi menjadi mesin baru unuk pertumbuhan
Tentu saja situasi selalu tidak mudah. Kita perlu merespons perubahan tersebut dengan cara baru. Prof Arif Satria (2025) mengemukakan perlunya membangun dan mengembangkan maindset baru (new mindset), sikap (new attitude) dan perilaku baru (new behavior) dan cara baru melakukan sesuatu (new way of doing things).
Cara itu menekankan pada growt mindset sebagai koreksi atas fixed mindset. Mindset ini adalah mindset berkembang yang menyukai tantangan dan cara baru, mengerti bahwa manusia selalu tumbuh kembang dan selalu bisa berubah, dan bisa aksi dengan tepat. Dengan demikian pilihan menjadi beragam dan banyak. Setiap pintu bisa terbuka untuk mereka.
Perti juga harus bisa mendorong para mahasiswa menjadi pembelajar agile yang senantiasa memiliki keberanian, kepercayaan diri dan pencapaian tidak cepat merasa puas. Jenis pembelajar ini penting dikembangkan sebagai antitesis dari tipe pembelajar yang cepat frustasi, rendah daya juang, takut melakukan kesalahan, serba takut mencoba dan apatis.
Hal ini diperkuat dengan study McKinsey & Company (2017) terhadap anak usia 15 tahun di 72 negara di dunia menunjukkan bahwa mindset seperti motivasi dan kepercayaan diri memiliki dampak yang lebih besar terhadap akademis siswa daripada faktor lainnya dan duakal lebih berpengaruh dariapda latarbelakang sosial ekonomi. Faktor itu disandingkan dan dibandingkan dengan faktor perilaku siswa, lingkuran rumah, faktor sekolah, faktor guru, dan faktor lainnya.
Best & Future Practice
Fenomena mutakhir memberi pelajaran berharga untuk perti sebagai best practices. Belajar dari gojek dan uber, mereka bisa menjadi perusahaan transportasi terluas dan terbesar, tetapi mereka tidak memiliki kendaraan aset perusahaan snediri, facebook menjadi pemilik media paling populer didunia, tetapi tidak menciptakan konten sendiri, demikian juga Alibaba grup menjadi salah satu perusahaan retail terbesar tetapi tidak memproduksi sendiri. Demikian juga Alibaba menjadi perusahaa terluas penyedia akomodasi tetapi mereka juga tidak punya estate sendiri. Best practices ini menunjukkan adanya zaman yang berubah dan perlunya cara baru menghadapi situasi tersebut.
Prof Arif Satria (2024) menyebutkan bahwa transformasi perti menjadi kemutlakan (conditio sine qua non). Perti harus didorong menjadi enterpreneurial university yang mencoba mengabungkan antara riset dan inovasi dan kewirausahaan sehingga melahirkan bussiness enterprises dan social enterprises. Jika digabungkan antara technopreneurial university dan socialpreneurial university bisa menjadi technosocial enterpreneurial university
Technopreneurial mendayagunakan iptek dan inovasi untuk pertumbuhan industri, ekonomi dan pemerataan. Sociopreneur mendayagunakan inovasi untuk transformasi masyarakat melalui pendampingan petani, nelayan, peternak, dan massyarakat umum
Melalui upaya meciptakan SDM unggul dengan mindset growt dan future practices, membangun karakter integritas dan grit dan persistence. Sebuah kombinasi antara semangat, ketekunan, dan kegigihan dalam mencapai tujuan jangka panjang. Ditambah dengan future soft skill dan literasi bidang data dan teknologi, keuangan dan human lulusan perti akan memiliki daya siang lebih kuat.
Pengelola perti perlu memperkuat pendidikan karakter dan literasi abad-21 sehingga lulusan perti memiliki modal karakter, kompetensi dan literasi yang kuat dan unggul. Secara khusus perti harus menguatkan habituasi disiplin dan effective habits sehingga mahasiswa bisa menjadi pembelajar efektif dan produktif. Literasi bisa dikembangkan mulai dari 1) komunikasi, media, bahasa dan data, 2) hukum, 3) budaya, 4) ekonomi, 5) teknologi, 6) kebangsaan, hingga 7) Literasi kesehatan.
Perti harus memperkuat ekosistem penunjang yakni sdm adaptif, keuangan yang akuntabel, infrastuktur smart dan green, ICT IoT dan Robust, organisasi agile-modern dan perluasan kerja sama global berkesinambungan Semoga perti di Indonesia bisa adaptif, responsif, konsisten dan berkesinambungan bisa mengembangkan ekosistem pokok bidang pendidikan dan kemahasiswaan, riset dan inovasi serta pengabdian kepada masyarakat sesuai kebutuhan perubahan lingkungan. Semoga.
(rca)
Lihat Juga :