Klaster Rumah Tangga Perlu Perhatian Serius

Kamis, 03 September 2020 - 18:29 WIB
loading...
A A A
Tingginya kasus klaster rumah tangga di Bogor dan DKI Jakarta ini menjadi contoh betapa sulitnya menahan penularan korona bila protokol Covid yang telah diterapkan sejak Maret lalu tidak diiringi dengan kebijakan yang tepat dalam beraktivitas di lingkungan sosial. Bila lingkungan masyarakat terkecil saja sudah mulai kendur dalam mengikuti peraturan, bagaimana pelaksanaan di luar rumah yang memiliki ruang interaksi lebih luas? Kegiatan ekonomi yang harus dilakukan oleh setiap orang selain menjadi harapan untuk tetap dapat memberikan kehidupan dalam rumah tangga, namun sekaligus menjadi risiko besar yang harus ditempuh. Covid-19 terus mengintai dan menjadi ancaman serius bagi siapapun yang tidak menerapkan protokol kesehatan bagi dirinya sendiri. Tak terkecuali, keluargapun turut terancam karena orang tanpa g ejala (OTG) menjadi salah satu faktor cepatnya penyebaran korona di lingkungan keluarga.

Rencana kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang ingin mengeluarkan aturan agar setiap pasien Covid di wilayahnya untuk dirawat di rumah sakit dan tak lagi menjadi perawatan mandiri menjadi tantangan serius yang harus dijawab oleh pemerintah. Mengapa? Karena hal itu membutuhkan berbagai kesiapan, seperti ketersediaan ruangan di rumah sakit, ketersediaan ruang khusus untuk tambahan pasien Covid (sebelumnya melibatkan dinas pendidikan melalui penggunaan gedung-gedung sekolah), kesiapan tim medis baik dokter dan perawat, kesiapan APD, dan juga ketersediaan lain sebagai penunjang pasien Covid pada umumnya.

Kebijakan yang tepat bila tak diiringi dengan aturan yang tepat pula tentu hanya akan menjadi sia-sia untuk memutus mata rantai Covid pada klaster rumah tangga. Untuk mencegah peningkatan klaster keluarga dibutuhkan kerjasama dengan masyarakat, dan pemerintah pusat menjadi pemandu utamanya. Masa tiga bulan pertama penerapan PSBB berskala nasional yang cukup sukses untuk menahan penularan Covid dengan menghidupkan gugus tugas terkecil di lingkungan masyarakat harus dapat dihidupkan kembali, agar apa yang dikhawatirkan saat ini tidak terjadi. Tak dapat dibayangkan bagaimana jadinya bila peningkatan klaster rumah tangga semakin tinggi, dan melihat ayah, ibu, anak, atau siapapun penghuni di rumah itu menjadi suspect korona. Selain beban psikis, beban ekomomi juga akan membuat suspect korona semakin berat. Pemerintah harus memberikan perhatian serius dalam melakukan sosialisasi, seperti saat awal terjadinya pandemi korona. Saat itu semua instruksi dapat didengar dan ditaati oleh seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
(ras)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Rekomendasi
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
Jangan Cuma Top-Up,...
Jangan Cuma Top-Up, Yuk Kelola Saldo ShopeePay Kamu dengan 4 Langkah Ini!
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
Berita Terkini
DKPP Pecat Ketua Bawaslu...
DKPP Pecat Ketua Bawaslu Kabupaten Tambrauw karena Terbukti Masih Berstatus ASN
KPK Ungkap Tahapan yang...
KPK Ungkap Tahapan yang Harus Dilalui untuk Ekstradisi Tersangka E-KTP Paulus Tannos
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Desak DPR Segera Bahas...
Desak DPR Segera Bahas Revisi UU Pemilu, Perindo: Libatkan Partai Nonparlemen
Prediksi Ada Reshuffle,...
Prediksi Ada Reshuffle, Pengamat: Prabowo Butuh Menteri Eksekutor dan Komunikator Ulung
Revisi UU Pemilu Belum...
Revisi UU Pemilu Belum Dibahas, Golkar Usul Prabowo Kumpulkan Ketum Parpol
Infografis
Kapal Induk Kedua Tiba...
Kapal Induk Kedua Tiba di Timur Tengah, AS Serius Ancam Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved