Pengilon di Galeri Nasional dan Isu Beredel
Minggu, 22 Desember 2024 - 05:49 WIB
loading...
A
A
A
Sementara itu pihak Galeri Nasional dan sejumlah pejabat Kemenbud telah memutuskan pameran "ditunda" dan ruang Galeri Nasional digelapkan serta pintu utama dikunci, yang tentunya berakibat pengunjung pameran---termasuk penulis sampai sekitar pukul 22.00 WIB tak bisa memasuki ruang pamer. Hal itu tentu sangat mengecewakan sebab para apresian tak bisa menyaksikan pameran sama sekali di malam itu tanpa ada kejelasan yang masuk akal dengan menimbang kronologi peristiwa-peristiwa tersebut.
Malam itu juga, penulis mendapatkan sejumlah karya-karya lukisan format digital yang dibagikan pelukis via pesan WhatsApp yang dianggap menjadi ‘pokok permasalahan’ – termasuk keluhan seniman tentang imej-imej mantan penguasa NKRI sebagai subject matter lukisan.
Selain itu, juga dicantumkan redaksional utuh siaran pers yang dibuat oleh pelukis dan mungkin dibantu profesional saat itu, yang di dalam siaran pers termaktub sejumlah kutipan tokoh-tokoh seni dan budayawan yang menyayangkan peristiwa nahas itu. Saat yang sama penulis juga menerima pernyataan tertulis kurator pameran di aplikasi WhatsApp Group di tengah malam tanggal 19 menuju 20 Desember 2024.
Rentetan peristiwa itu, tentunya memerlukan telaah lebih dalam dan jernih yang dalam pengertian pengilon (cermin), kita bersama mencoba menelusuri, melihat kembali dan mengamati serta sebagai kurator dan penulis seni, ingin membagi sejumlah pengilon yang tentunya subjektif, tentang 'Mawas Diri' bersama, yang bisa dilihat dalam sejumlah hal.
Setelah menerima sejumlah imej visual lukisan-lukisan dan mencermati wawancara dengan Yos Suprapto yang membincangkan proses setahun pembuatan karya. Yos disamping meneliti sendiri dengan petani-petani dan kelompok aktivis serta didampingi sejumlah ahli tentang metodologi tertentu memahami tanah dan elemen-elemen yang terkait, termasuk di dalamnya pesan-pesan sosiologis dan politik dengan konsteks estetika yang ia yakini.
Kemudian diwujudkan sebagai instalasi selain lukisan-lukisan serta benda-benda temuan (found object) serta tak lupa juga penulis membaca pernyataan tertulis kurator, maka seturut hemat penulis karya-karya pelukis ini masih dalam tataran wajar yang bisa jadi menyambung dengan topik utama pameran, yakni Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan.
Sementara, karya-karya yang dianggap vulgar secara visual oleh berbagai pihak (termasuk dari pejabat Kemenbud) dengan konteks pameran, sebenarnya menurut penulis, bisa ditelaah dengan penjabaran konsep strategi parodi dalam seni rupa. Lukisan-lukisan tersebut memang disampirkan sebagai ungkapan bahasa parodi visual, sebentuk dialog visual yang dibangun antar teks (membangun simbol-simbol dan kode-kode di lukisan), yang bertujuan mengekspresikan perasaan tidak puas, tidak senang, tidak nyaman berkenaan dengan intensitas gaya atau karya masa lalu pun situasi riil isu sosial dan kemanusiaan yang dirujuk secara mutakhir, dan menjadi semacam bentuk oposisi atau kondisi kekontrasan dengan maksud menyindir, mengecam, mengkritik, atau membuat satir yang tajam.
Dari lukisan Yos yang dianggap "bermasalah", yakni yang berkarakter karikatural, yang imej paras mantan penguasa NKRI memang sejatinya ia (tokoh bermasalah) semenjak berkuasa 10 tahun. Yos Suprapto membayangkan bahwa tanah dan pangan terkait selalu secara sosiologis bernarasi keniscayaan tentang pergumulan "dialektika penguasa dan warga".
Ingatan komunal memberi fakta bahwa konflik agraria terjadi tersebab salah kebijakan yang diterapkan oleh penguasa --- perebutan lahan hak waris tanah adat, UU tentang proyek strategis nasional sampai Ibu Kota Nusantara (IKN) dan lahan-lahan dari komunitas marjinal yang terpinggirkan.
Yang dalam hal ini adalah yang lemah, wong cilik, dan siapa saja dalam lukisan lukisan Yos direpresentasikan sebagai sosok yang tertindas. Sebaliknya muncul pula figur-figur para penjilat atau yang lain: justru wajah penguasa dalam Pakaian Raja Jawa dari lukisan berjudul Konoha I dan II.
Pada lukisan Yos itu, karya-karya yang cenderung karikatural dan komikal menjadikannya sebagai titik berangkat dari kritik, sindiran, kecaman sebagai ungkapan dari ketidakpuasan atau menurut penulis ungkapan rasa humor yang paling gelap, jika menimbang rujukan dari pengkaji Theory of Parody in Parody, Hutcheon (dalam Piliang, 2003: 214).
Dalam konteks ini, merujuk pada semangat aktivisme kesenian, lukisan-lukisan "realisme sosial era sanggar di Jogjakarta" seturut penulis, karya-karya Yos cukup lumayan menggabungkan elemen-elemen strategi parodi dengan memuat sekaligus perpaduan gaya bahasa ironi—tentang penentangan terhadap kondisi sosial tertentu yang berlawanan secara riil, sarkasme—sebagai semacam umpatan langsung dengan argumentasi dan fakta-fakta secara posterik pun yang terakhir penggunaan satire, yakni ungkapan gaya yang cenderung lebih mendalam tentang kritik kelam kondisi kemanusiaan yang dirasakan seniman secara psikologis.
Tentang keyakinan estetika; dihayati oleh sang pelukis dan juga kurator tak saling ada kecocokan, perlu adanya waktu tersendiri untuk sinkronisasi. Tentunya ini membutuhkan pembahasan tersendiri tentang relasi antar mereka. Yang jelas, topik pameran tentang Tanah dan Kedaulatan Pangan tentunya berelasi dengan elemen sosiologis dan politik lebih dari sekedar paradigma ‘otonomi seni secara estetik’ yang kukuh dan jemawa, tak bisa digeser ke mana-mana. Hadirnya seni kontemporer secara cair membuka cakrawala lebih luas makna dan kehadiran seni di ruang-ruang publik.
Malam itu juga, penulis mendapatkan sejumlah karya-karya lukisan format digital yang dibagikan pelukis via pesan WhatsApp yang dianggap menjadi ‘pokok permasalahan’ – termasuk keluhan seniman tentang imej-imej mantan penguasa NKRI sebagai subject matter lukisan.
Selain itu, juga dicantumkan redaksional utuh siaran pers yang dibuat oleh pelukis dan mungkin dibantu profesional saat itu, yang di dalam siaran pers termaktub sejumlah kutipan tokoh-tokoh seni dan budayawan yang menyayangkan peristiwa nahas itu. Saat yang sama penulis juga menerima pernyataan tertulis kurator pameran di aplikasi WhatsApp Group di tengah malam tanggal 19 menuju 20 Desember 2024.
Rentetan peristiwa itu, tentunya memerlukan telaah lebih dalam dan jernih yang dalam pengertian pengilon (cermin), kita bersama mencoba menelusuri, melihat kembali dan mengamati serta sebagai kurator dan penulis seni, ingin membagi sejumlah pengilon yang tentunya subjektif, tentang 'Mawas Diri' bersama, yang bisa dilihat dalam sejumlah hal.
Pengilon 1: Estetika Visual dan Topik Pameran
Setelah menerima sejumlah imej visual lukisan-lukisan dan mencermati wawancara dengan Yos Suprapto yang membincangkan proses setahun pembuatan karya. Yos disamping meneliti sendiri dengan petani-petani dan kelompok aktivis serta didampingi sejumlah ahli tentang metodologi tertentu memahami tanah dan elemen-elemen yang terkait, termasuk di dalamnya pesan-pesan sosiologis dan politik dengan konsteks estetika yang ia yakini.
Kemudian diwujudkan sebagai instalasi selain lukisan-lukisan serta benda-benda temuan (found object) serta tak lupa juga penulis membaca pernyataan tertulis kurator, maka seturut hemat penulis karya-karya pelukis ini masih dalam tataran wajar yang bisa jadi menyambung dengan topik utama pameran, yakni Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan.
Sementara, karya-karya yang dianggap vulgar secara visual oleh berbagai pihak (termasuk dari pejabat Kemenbud) dengan konteks pameran, sebenarnya menurut penulis, bisa ditelaah dengan penjabaran konsep strategi parodi dalam seni rupa. Lukisan-lukisan tersebut memang disampirkan sebagai ungkapan bahasa parodi visual, sebentuk dialog visual yang dibangun antar teks (membangun simbol-simbol dan kode-kode di lukisan), yang bertujuan mengekspresikan perasaan tidak puas, tidak senang, tidak nyaman berkenaan dengan intensitas gaya atau karya masa lalu pun situasi riil isu sosial dan kemanusiaan yang dirujuk secara mutakhir, dan menjadi semacam bentuk oposisi atau kondisi kekontrasan dengan maksud menyindir, mengecam, mengkritik, atau membuat satir yang tajam.
Dari lukisan Yos yang dianggap "bermasalah", yakni yang berkarakter karikatural, yang imej paras mantan penguasa NKRI memang sejatinya ia (tokoh bermasalah) semenjak berkuasa 10 tahun. Yos Suprapto membayangkan bahwa tanah dan pangan terkait selalu secara sosiologis bernarasi keniscayaan tentang pergumulan "dialektika penguasa dan warga".
Ingatan komunal memberi fakta bahwa konflik agraria terjadi tersebab salah kebijakan yang diterapkan oleh penguasa --- perebutan lahan hak waris tanah adat, UU tentang proyek strategis nasional sampai Ibu Kota Nusantara (IKN) dan lahan-lahan dari komunitas marjinal yang terpinggirkan.
Yang dalam hal ini adalah yang lemah, wong cilik, dan siapa saja dalam lukisan lukisan Yos direpresentasikan sebagai sosok yang tertindas. Sebaliknya muncul pula figur-figur para penjilat atau yang lain: justru wajah penguasa dalam Pakaian Raja Jawa dari lukisan berjudul Konoha I dan II.
Pada lukisan Yos itu, karya-karya yang cenderung karikatural dan komikal menjadikannya sebagai titik berangkat dari kritik, sindiran, kecaman sebagai ungkapan dari ketidakpuasan atau menurut penulis ungkapan rasa humor yang paling gelap, jika menimbang rujukan dari pengkaji Theory of Parody in Parody, Hutcheon (dalam Piliang, 2003: 214).
Dalam konteks ini, merujuk pada semangat aktivisme kesenian, lukisan-lukisan "realisme sosial era sanggar di Jogjakarta" seturut penulis, karya-karya Yos cukup lumayan menggabungkan elemen-elemen strategi parodi dengan memuat sekaligus perpaduan gaya bahasa ironi—tentang penentangan terhadap kondisi sosial tertentu yang berlawanan secara riil, sarkasme—sebagai semacam umpatan langsung dengan argumentasi dan fakta-fakta secara posterik pun yang terakhir penggunaan satire, yakni ungkapan gaya yang cenderung lebih mendalam tentang kritik kelam kondisi kemanusiaan yang dirasakan seniman secara psikologis.
Tentang keyakinan estetika; dihayati oleh sang pelukis dan juga kurator tak saling ada kecocokan, perlu adanya waktu tersendiri untuk sinkronisasi. Tentunya ini membutuhkan pembahasan tersendiri tentang relasi antar mereka. Yang jelas, topik pameran tentang Tanah dan Kedaulatan Pangan tentunya berelasi dengan elemen sosiologis dan politik lebih dari sekedar paradigma ‘otonomi seni secara estetik’ yang kukuh dan jemawa, tak bisa digeser ke mana-mana. Hadirnya seni kontemporer secara cair membuka cakrawala lebih luas makna dan kehadiran seni di ruang-ruang publik.
Lihat Juga :