Inersia Moneter: Perilaku dan Psikologi di Balik Kebijakan Bank Sentral
Selasa, 17 Desember 2024 - 05:05 WIB
loading...
A
A
A
Dalam konsep yang dijelaskan Masciandaro dan Favaretto tahun 2016, pembuat kebijakan moneter dikelompokkan menjadi tiga kategori utama: doves, hawks, dan pigeons. Doves cenderung mendukung kebijakan moneter yang ekspansif, seperti suku bunga rendah dan pelonggaran kuantitatif, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan mencegah deflasi. Sebaliknya, hawks lebih mendukung kebijakan moneter yang ketat, dengan prioritas menjaga inflasi tetap rendah bahkan jika itu berarti mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pigeons berada di antara kedua kubu ini, sering kali mencari kompromi antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Kebijakan Moneter BI di 2025 Diarahkan untuk Jaga Rupiah
Pengelompokan ini memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana perdebatan internal di antara pembuat kebijakan dapat memengaruhi keputusan akhir. Namun, Masciandaro dan Favaretto (2016) menunjukkan bahwa ketika loss aversion hadir, hawks dan doves dapat mulai mengurangi ekstremitas pandangan mereka. Hawks menjadi lebih berhati-hati dalam mendorong kenaikan suku bunga, sementara doves menjadi lebih skeptis terhadap pelonggaran lebih lanjut. Ini mengarah pada peningkatan jumlah pigeons, yang cenderung mempertahankan kebijakan yang ada, sehingga memperkuat inersia moneter.
Implikasi dari Inersia Kebijakan Moneter
Inersia dalam kebijakan moneter bukan tanpa risiko. Salah satu dampak utamanya adalah ketidakmampuan bank sentral untuk merespons perubahan ekonomi dengan cepat dan efektif. Ketika bank sentral terlalu lama mempertahankan suku bunga rendah, misalnya, hal ini dapat menyebabkan inflasi yang tidak terkendali atau menciptakan gelembung aset, seperti yang terjadi pada pasar properti sebelum krisis keuangan 2008. Di sisi lain, jika bank sentral terlalu cepat dalam menaikkan suku bunga, mereka dapat memperlambat pemulihan ekonomi atau bahkan memicu resesi baru.
Namun, dari sudut pandang psikologis, loss aversion membuat bank sentral cenderung lebih memilih risiko inflasi yang sedikit lebih tinggi daripada risiko resesi. Ini mencerminkan preferensi untuk menghindari kerugian jangka pendek yang dapat memengaruhi reputasi dan karier para pembuat kebijakan. Dalam konteks ini, pengambilan keputusan kebijakan moneter tidak hanya didasarkan pada data ekonomi, tetapi juga pada faktor-faktor non-ekonomi yang berkaitan dengan perilaku manusia.
Tata Kelola Bank Sentral dan Implikasi Kebijakan
Baca Juga: Kebijakan Moneter BI di 2025 Diarahkan untuk Jaga Rupiah
Pengelompokan ini memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana perdebatan internal di antara pembuat kebijakan dapat memengaruhi keputusan akhir. Namun, Masciandaro dan Favaretto (2016) menunjukkan bahwa ketika loss aversion hadir, hawks dan doves dapat mulai mengurangi ekstremitas pandangan mereka. Hawks menjadi lebih berhati-hati dalam mendorong kenaikan suku bunga, sementara doves menjadi lebih skeptis terhadap pelonggaran lebih lanjut. Ini mengarah pada peningkatan jumlah pigeons, yang cenderung mempertahankan kebijakan yang ada, sehingga memperkuat inersia moneter.
Implikasi dari Inersia Kebijakan Moneter
Inersia dalam kebijakan moneter bukan tanpa risiko. Salah satu dampak utamanya adalah ketidakmampuan bank sentral untuk merespons perubahan ekonomi dengan cepat dan efektif. Ketika bank sentral terlalu lama mempertahankan suku bunga rendah, misalnya, hal ini dapat menyebabkan inflasi yang tidak terkendali atau menciptakan gelembung aset, seperti yang terjadi pada pasar properti sebelum krisis keuangan 2008. Di sisi lain, jika bank sentral terlalu cepat dalam menaikkan suku bunga, mereka dapat memperlambat pemulihan ekonomi atau bahkan memicu resesi baru.
Namun, dari sudut pandang psikologis, loss aversion membuat bank sentral cenderung lebih memilih risiko inflasi yang sedikit lebih tinggi daripada risiko resesi. Ini mencerminkan preferensi untuk menghindari kerugian jangka pendek yang dapat memengaruhi reputasi dan karier para pembuat kebijakan. Dalam konteks ini, pengambilan keputusan kebijakan moneter tidak hanya didasarkan pada data ekonomi, tetapi juga pada faktor-faktor non-ekonomi yang berkaitan dengan perilaku manusia.
Tata Kelola Bank Sentral dan Implikasi Kebijakan
Lihat Juga :