Menerka Jalan Politik Anies setelah Pilkada 2024: Makin Lengket dengan PDIP atau Tancap Gas Bikin Ormas?
Kamis, 05 Desember 2024 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Dia menambahkan, dalam politik persekawanan hanya seumur jagung, tak ada idiologi, tak ada kesetiaan, dan tak ada rasa sungkan. “Politik kita dimotori oleh ambisi dan ideologi berkuasa. Apa pun caranya,” ungkapnya.
Ray menuturkan, kekuasaan mengundang semua kemuliaan, kehormatan, dan uang. “Sementara di luar seperti hinaan. Maka itulah kiranya mengapa semua seperti menisbikan moral, etik, dan kesetiaan. Kesetian hanya ada pada tujuan diri sendiri,” katanya.
“Belajar dari sini, maka sulit membayangkan perlabuhan politisi Indonesia. Yang kemarin menyeru antimiliterisme, sekarang dengan senang hati jadi bagian kekuasaan dari mantan militer. Waktu kampanye mengusung semangat perubahan, sekarang malah nyaman dengan mereka yang mengusung keberlanjutan. Itulah alam politik kita,” pungkasnya.
Pendapat berbeda disampaikan oleh Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab. “Pascagagal dalam dua momen politik: pilpres dan Pilkada Jakarta, karier politik Anies Baswedan seperti berada di persimpangan jalan,” kata Fadhli.
“Pasca itu beliau menyatakan akan membuat parpol baru dan ikut mendukung Paslon Pramono-Rano di Pilgub Jakarta. Melihat beberapa peristiwa itu, Anies seperti berada dalam kegamangan politik,” sambungnya.
Namun demikian, lanjut dia, langkah politik Anies mendukung Pram-Doel perlu diapresiasi sebagai sikap politik. “Lalu apakah Anies akan masuk parpol, khusus ke PDIP atau parpol lain? Masih menjadi tanda tanya,” imbuhnya.
Menurut dia, ada beberapa opsi yang mungkin saja diambil Anies. “Bikin parpol baru, tetapi ini barangkali sulit terwujud jika tidak didukung dengan kondisi finansial dan jaringan kuat,” kata dia.
Opsi lainnya adalah bergabung dengan parpol yang tidak lolos parlemen. “Dan saya kira ini lebih bisa menjaga gengsi Anies karena bisa berada dalam struktur pusat atau ikut mempengaruhi kebijakan parpol tersebut,” jelasnya.
Opsi berikutnya adalah bergabung dengan parpol yang lolos parlemen. “Tetapi tidak bisa mempengaruhi kebijakan parpol alias kader biasa-biasa saja. Serta menjadi seorang profesional kembali atau kembali ke kampus,” pungkasnya.
Ray menuturkan, kekuasaan mengundang semua kemuliaan, kehormatan, dan uang. “Sementara di luar seperti hinaan. Maka itulah kiranya mengapa semua seperti menisbikan moral, etik, dan kesetiaan. Kesetian hanya ada pada tujuan diri sendiri,” katanya.
“Belajar dari sini, maka sulit membayangkan perlabuhan politisi Indonesia. Yang kemarin menyeru antimiliterisme, sekarang dengan senang hati jadi bagian kekuasaan dari mantan militer. Waktu kampanye mengusung semangat perubahan, sekarang malah nyaman dengan mereka yang mengusung keberlanjutan. Itulah alam politik kita,” pungkasnya.
Pendapat berbeda disampaikan oleh Pengamat Politik sekaligus Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab. “Pascagagal dalam dua momen politik: pilpres dan Pilkada Jakarta, karier politik Anies Baswedan seperti berada di persimpangan jalan,” kata Fadhli.
“Pasca itu beliau menyatakan akan membuat parpol baru dan ikut mendukung Paslon Pramono-Rano di Pilgub Jakarta. Melihat beberapa peristiwa itu, Anies seperti berada dalam kegamangan politik,” sambungnya.
Namun demikian, lanjut dia, langkah politik Anies mendukung Pram-Doel perlu diapresiasi sebagai sikap politik. “Lalu apakah Anies akan masuk parpol, khusus ke PDIP atau parpol lain? Masih menjadi tanda tanya,” imbuhnya.
Menurut dia, ada beberapa opsi yang mungkin saja diambil Anies. “Bikin parpol baru, tetapi ini barangkali sulit terwujud jika tidak didukung dengan kondisi finansial dan jaringan kuat,” kata dia.
Opsi lainnya adalah bergabung dengan parpol yang tidak lolos parlemen. “Dan saya kira ini lebih bisa menjaga gengsi Anies karena bisa berada dalam struktur pusat atau ikut mempengaruhi kebijakan parpol tersebut,” jelasnya.
Opsi berikutnya adalah bergabung dengan parpol yang lolos parlemen. “Tetapi tidak bisa mempengaruhi kebijakan parpol alias kader biasa-biasa saja. Serta menjadi seorang profesional kembali atau kembali ke kampus,” pungkasnya.
(rca)
Lihat Juga :