Hardikan dan Candaan: Ketika Komunikasi Menjadi Luka Psikologis
Rabu, 04 Desember 2024 - 13:29 WIB
loading...
A
A
A
Kasus di Cilacap dan Balikpapan menjadi contoh nyata betapa seriusnya perundungan verbal. Di Cilacap, seorang siswa SMP dianiaya secara fisik, namun akar masalahnya berawal dari ejekan verbal yang memicu konflik. Hal serupa terjadi di Balikpapan, di mana seorang anak dianiaya setelah menjadi bahan lelucon oleh teman sebayanya.
Dampak Psikologis yang Mengkhawatirkan Korban perundungan verbal sering kali merasa terisolasi, tidak berdaya, dan kehilangan rasa aman. Menurut data dari Journal of Social Science and Humanities, mereka cenderung mengalami gangguan mental seperti kecemasan kronis, depresi, hingga risiko bunuh diri. Efek ini tidak hanya memengaruhi keseharian mereka, tetapi juga prestasi akademik dan kemampuan sosial.
Di sisi lain, pelaku perundungan, meskipun mungkin tidak menyadarinya, juga menghadapi konsekuensi psikologis. Perilaku ini sering kali menjadi pola yang merusak hubungan interpersonal mereka di masa depan.
Untuk memutus siklus perundungan, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi komunikasi psikologi. Literasi ini mencakup pemahaman tentang komunikasi empati, asertivitas, dan kesadaran emosional.
Empati merupakan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain sebelum berkata atau bertindak. Asertivitas adalah soal cara menyampaikan pendapat tanpa menyakiti perasaan orang lain. Dan, Kesadaran emosional merupakan pemahaman kita bahwa setiap kata memiliki konsekuensi psikologis.
Kampanye edukasi seperti "Bicara Baik" yang digaungkan Perhimpunan Humas Indonesia (Perhumas) dan didukung Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dapat menjadi langkah menarik yang efektif. Dengan mendorong budaya komunikasi yang lebih positif, masyarakat dapat belajar untuk menghindari ucapan atau tindakan yang merugikan orang lain.
Di sisi lain, masyarakat juga harus pro-aktif melakukan langkah bersama menciptakan budaya komunikasi yang lebih baik. Sekolah misalnya, perlu menyediakan materi khusus tentang dampak perundungan dan pentingnya komunikasi yang sehat untuk siswanya, serta mengajak para pengajar (termasuk guru) dan orangtua mengembangkan komunikasi yang lebih baik dan kemampuan mendeteksi tanda-tanda perundungan dan cara menanganinya.
Dampak Psikologis yang Mengkhawatirkan Korban perundungan verbal sering kali merasa terisolasi, tidak berdaya, dan kehilangan rasa aman. Menurut data dari Journal of Social Science and Humanities, mereka cenderung mengalami gangguan mental seperti kecemasan kronis, depresi, hingga risiko bunuh diri. Efek ini tidak hanya memengaruhi keseharian mereka, tetapi juga prestasi akademik dan kemampuan sosial.
Di sisi lain, pelaku perundungan, meskipun mungkin tidak menyadarinya, juga menghadapi konsekuensi psikologis. Perilaku ini sering kali menjadi pola yang merusak hubungan interpersonal mereka di masa depan.
Untuk memutus siklus perundungan, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi komunikasi psikologi. Literasi ini mencakup pemahaman tentang komunikasi empati, asertivitas, dan kesadaran emosional.
Empati merupakan kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain sebelum berkata atau bertindak. Asertivitas adalah soal cara menyampaikan pendapat tanpa menyakiti perasaan orang lain. Dan, Kesadaran emosional merupakan pemahaman kita bahwa setiap kata memiliki konsekuensi psikologis.
Kampanye edukasi seperti "Bicara Baik" yang digaungkan Perhimpunan Humas Indonesia (Perhumas) dan didukung Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dapat menjadi langkah menarik yang efektif. Dengan mendorong budaya komunikasi yang lebih positif, masyarakat dapat belajar untuk menghindari ucapan atau tindakan yang merugikan orang lain.
Di sisi lain, masyarakat juga harus pro-aktif melakukan langkah bersama menciptakan budaya komunikasi yang lebih baik. Sekolah misalnya, perlu menyediakan materi khusus tentang dampak perundungan dan pentingnya komunikasi yang sehat untuk siswanya, serta mengajak para pengajar (termasuk guru) dan orangtua mengembangkan komunikasi yang lebih baik dan kemampuan mendeteksi tanda-tanda perundungan dan cara menanganinya.
Lihat Juga :